
"eh cupu"
●●●
"Yay tau gak? Capeee gue ngikut lo pindah sekolah melulu. Tampilan lo aja gini tapi tenaga kok kayak hulk." omel Renata yang berperan sebagai sahabat Naya.
"gue gak nyuruh lo ngikutin gue setiap pindah sekolah, ingat itu kemauan lo sendiri cuy." teriak Naya di telinga sang sahabat yang menurutnya sangat menyebalkan.
"lo gak ngerti sih, gue ini tuh sosok peran sahabat yang patut di contoh. Kemana pun lo pergi, Gue juga harus ikut, setia gitu ceritanya." jelas Renata dengan cengar-cengir.
"cih mana ada sahabat gak dukung sahabat sendiri." cibir Naya, menyinggung Renata yang seringkali mengeritik cara penampilannya. hah lagi-lagi pasal penampilan.
"malu tau gak liat lo gitu. Lo penampilan nya gitu, gue yang malu." ujar Renata dengan cemberut.
"ye,,, kalau mau ngapa masih mau temanan sama gue." kata Naya ketus dan melanjutkan jalannya.
"yang ada gue gak punya teman, anak orang yang terkaya di kota ini lagi dong." kata Renata dengan terkekeh dan mengikuti jalan Naya.
"jahanam lo." Naya menoyor kepala Renata dan terus berjalan menuju ruang kepsek.
walaupun Renata terkesan sering ngomong blak-blakan dan tidak bisa mengontrol mulutnya tentang dirinya. Namun ia tau Renata sangat tulus berteman dengan dirinya hanya saja Renata sangat sering mengomentari dan menyuruh ia berganti gaya penampilan yang membuat ia jengah setengah mati.
"Yaya istirahat ini kita cari cowo ganteng yuk, romur nya di sini banyak cogan." ajak Renata dengan antusias.
"Tat, lo ini udah bayak dosa. Cukup di sekolah-sekolah dulu aja lo nyebar dosa, di sini jangan." cegah Naya dengan wajah yang seserius mungkin.
"lo ngomong gak di sensor dulu. Coba sebutkan apa salah satu dosa gue?"
"jadi playgril gak ada obat. Nah gimana dong ini, makin hari makin jadi."
"sialan lo Yay, gituamat sama sahabat sendiri juga." Renata bersungut kesal.
"Tat Tat, gitu aja udah kesal, Padahal gak nyadar aja kalau tiap hari kerjaan nya bikin orang kesel teroooss."
"Yay bisa gak sih lo jangan manggil gue Tat Tat melulu, serarasa kek pantat gue."
"yakan emang, cocok untuk wajah lo yang kek pantat. Bego nya pantat king-kong lagi." ejek Naya dan segera berlari dari hadapan Renata sebelum ada tragedi sepatu terbang.
"YAYAAAA" teriak Renata frustasi.
•••
"Tok tok tok"
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu di kelas
XI IPA 2 yang membuat perhatian sesi mengajar teralihkan.
Ibu Dini sebagai Wali kelas sekaligus guru yang mengajar di bidang Fisika itu mempersilahkan orang yang di balik pintu tersebut masuk.
"krek"
pintu terbuka menampilkan dua gadis yang berbeda jauh, satu cupu, satu cantik, siapa lagi kalau bukan Kanaya dan Renata.
"ya persilahkan perkenal kan diri." kata Bu Dini mempersilahkan.
"nama gue Kanaya Zoetessa, bisa di panggil Naya." Naya memperkenalkan diri nya dengan singkat bahkan sangat.
"nama gue Renata Silvi Mirley. Panggil Rena bisa, Nata bisa, Tata bisa asal jangan Tat Tat kayak teman di sebelah gue ini. Pindahan dari SMA GEMILANG 1 sebenar nya malas sih pindah... tapi karena teman gue ini yang jahil dan di keluarkan terpaksa gue ngikut, sebagai teman yang sejati sesungguh nya."
"plak"
"Tat tat, lo itu perkenalan atau buka aib gue sih!! Gak penting banget perkenlaan kek gitu abis-abisin tenaga." kata Naya dan tanpa perintah Naya berjalan menuju bangku kosong di sebelah cowok yang sedang tertidur.
"eh Yay kok langsung duduk sih?"
"maafkan teman saya ya Bu." kata Renata berbalik menghadap Bu Dini.
"baik Bu." Renata berjalan ke arah tempat duduk tepat di belakang Naya berada.
"ya baikalah, untuk murid baru perkenalkan nama Ibu, Ibu Dini Maharani. Wali kelas ini dan juga mengajar di bidang Fisika dan mari kita lanjutkan pelajaran." kata Ibu Dini dan kembali ke sesi pelajaran.
Naya memperhatikan dengan teliti apa yang di jelas kan oleh Ibu Dini. Sesekali ia juga nampak mencatat.
Saat Naya menengok cowok yang di sampingnya, kebetulan juga cowok yang tertidur itu mengangkat kepalanya, padangan mereka bertemu dan refleks cowok yang bernama Rayen itu kaget bak melihat sebuah penampakan.
"astagfirullah, setan ngesot. Bu ada penamakan." teriak Rayen.
"Ray yang sopan, dia bukan penampakan dia murid baru di kelas ini." tegur Bu dini tajam.
Rayen cengo dan kembali memperhatikan Naya sekali lagi.
"ya emang bukan sih, jaman yang sekarang serba ootd kok masih ada yang penampilannya kek hidup dijaman peradaban. Cantikan juga mba kunti daripada dia Bu, haha." ejek Rayen pada Naya yang bersikap tidak peduli.
"HAHAHAHA" semua murid juga ikut mentertawakan Naya, terkecuali Renata.
"diam." bentak Bu Dini, sontak semua terdiam dan kembali fokus.
__ADS_1
"udah cupu gak bisa bicara lagi, sadis amat hidup lo. Lahir dari rahim siapa sih lo." ejek Rayen masih berkelanjutan, ia sama sekali tidak menghiraukan teguran Bu Dini.
Naya mengepalkan tangannya di kala mendengar kata rahim di bawa-bawa.
"Nay, stth..Nay." panggil Renata menoel-noel bahu Naya.
"apaan sih Tat, gak usah gangu gue." kata Naya pelan tanpa melihat ke belakang dan malah Rayen yang menengok kebalakang.
"idih, cupu ini teman lo ya?" tanya Rayen pada Renata.
"iya." jawab Renata seadanya, ia malah asik memandangi wajah Rayen yang terpahat nyaris sempurna.
"Ray, Renata perhatikan apa yang ibu jelaskan." tegur Bu Dini lagi.
"iya Bu." Rayen kembali memperhatikan Naya dari atas sampai bawah.
"cupu jangan duduk sama gue, jijik tau gak!" usir Rayen, tanpa perasaan.
"cepat pindah tuh teman lo duduk sendiri."
"apa peduli gue." sahut Naya akhirnya.
"uhh, savange juga jawaban lo, tapi udara dari mulut lo bau busuk, haha." ejek Rayen lagi. Dan Naya,,,
Naya sudah benar-benar geram dan,,,
"Bruk"
Naya menendang bangku yang di duduki Rayen, tangannya menarik kerah baju Rayen.
"Bangsat lo, punya mulut kok kayak cewe, nyinyirin orang aja. Emang elo siapa hah!! Jangan lo kira gue diam aja, saat gue di bully." bentak Naya pada Rayen.
Hening kelas menjadi hening.
"Naya!! Apa yang kamu lakukan jangan membuat keributan di dalam kelas, apabila mau lanjut ribut sana keluar." ujar Bu Dini menahan amarah.
"ck. "Rayen menepis tangan Naya
dan tanpa permisi ia menarik Naya keluar.
● ● ●
_Kanayazoetessa
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan ♡