
"gak apa?!!"
"itu tompel lo hilang, kok bisa? Apa bener kata Varel tompel lo itu sebenarnya palsu" kata Rayen menatap nanar Naya.
"a..apa?! Hi...hilang, itu anu emm..." Naya berkata gugup dan menatap apa saja, asal jangan menatap ke arah Rayen.
"aduh kenapa pake lepas segala sih, ribetkan. Eh tapi tunggu, gue kenapa jadi takut gitu?!! Enggak, enggak, gue gak boleh terlihat seperti itu" batin Naya.
"iya itu palsu, memangnya kenapa?! Itu bukan urusan lo" Naya berkata dengan galak, dia sudah kembali menatap Rayen.
"ahaha gak apa-apa sih, tapi itu wajah lo kenapa jadi putih mulus separo?" kata Rayen lagi dengan heran. Melihat wajah hitam Naya yang tiba-tiba menjadi putih mulus sebagian.
"hah apa!!" Naya meraba-raba wajahnya, matanya kembali berkeliaran kemana-mana.
"ini itu gue, eumm,,, ah iya gue itu mengalami kelainan, kalau abis nangis dan muka gue kena air yang asin-asin, otomatis jadi berubah warna, ini gak cuman berubah putih saja, tapi juga bisa jadi warna pink, kuning dan warna yang lain-lain" Naya menjabarkan alasan yang sepuluh persen Reasonable( wajar) dan sembilan puluh persennya adalah kenyataan yang Unnatural(tidak wajar)
"selama hidup gue, gue baru dengar ada kelainan yang seperti itu. Coba lo nalar sendiri, wajar gak sih kelainan seperti itu!? lo pikir lo itu bunglon atau Raden kiangsantang yang dapat berubah-ubah!!" ujar Rayen dengan nada datar.
"emm, itu... Udah ah, itu bukan urusan lo. Gue cabut duluan" Naya berbalik dan di depannya tiba-tiba berhenti sebuah mobil yang sangat ia kenal, mobil sang Papah atau Tn. Dery.
"Naya" panggil Tn. Dery keluar dari mobil.
"mampos, apalagi ini!! Akh sial, tenang Naya tenang, tarik nafas hembuskan. Lo gak perlu marah atau ngeluh, karena lo udah terjebak dalam permainan lo sendiri" gumam Naya megusap-usap dadanya pelan dengan mematung.
"Naya ada apa dengan wajahmu, mengapa bisa begitu?!! Setau Papah wajah mu seluruhnya hitam, mengapa bisa begitu? Dan kemana benda hitam besar yang selalu menempel di pipi mu" ujar Tn. Dery terkejut melihat perubahan wajah putrinya.
"Papah?! Naya, apa Om Dery ini bokap lo? berarti lo bukan orang biasa? Lalu lo asli nya gak punya kelain tapi sengaja?" cerca Rayen dengan pertanyaannya yang berderet.
"kabur aja deh mending gue" batin Naya, dia benar-benar dalam keadaan tertekan. Sialan selama ini dia tidak pernah masuk dalam suasana tertekan seperti itu.
Naya masih diam menunduk dan mematung, menghirup oksigen dengan rakus, lalu mengambil langkah seribu dan berlari dengan kecang melewati sang Papah yang sedang heran dengan tingkah putrinya dan Rayen yang sedang menatap aneh Naya yang sudah meleset jauh.
"ada apa dengan Naya?!!" kata Tn. Dery dan Rayen bersamaan dan saling pandang.
。。。
"Nona muda kedua waktu nya makan malam, Tuan, nyonya serta Nona muda pertama sedang menunggu anda turun" kata salah satu Maid di keluarga Samatha.
"aku tidak mau makan, bilang saja aku tidak ingin turun" Naya sudah mengatakan itu berkali-kali, tapi tetap saja maid itu menulikan telinganya.
__ADS_1
"nanti Tuan akan marah Nona" kata maid itu lagi dari luar kamar Naya.
"mohon mengertilah, aku tidak ingin harus berapa kali aku katakan" Naya berkata dengan kesal dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"baiklah kalau begitu, saya permisi dulu Nona" akhirnya maid bawel itu pun pergi, membuat Naya bernafas lega.
Naya berbaring, matanya menatap nanar ke arah langit-langit kamarnya yang sudah ia desain sendiri dengan sedemikian rupa.
"akh sial, sial, kenapa gue tadi jadi ceroboh, habislah gue! Pokoknya gue gak mau turun, pasti kalo turun gue pasti di cerca banyak pertanyaan oleh Papah"
"kayaknya gara-gara dekat dengan Rayen makanya sial, ok besok gue bakal akhirin kesepakatan itu" kata Naya. So tekadnya sudah bulat untuk batalin kesepakatan itu besok.
"tok tok tok"
"Naya ayo makan ada yang akan Papah bicarakan" kata Tn. Dery dari luar kamar Naya.
"Naya gak pengen Pah" tolak Naya masih dalam posisi berbaringnya.
"yasudah, tapi nanti temui Papah di ruang kerja" kata Tn. Dery sebelum berlalu.
"hm, kalo ingat" sahut Naya dengan memejamkan matanya.
•••
"Di mana Naya?" tanya Tn. Dery yang sedang sarapan pagi bersama Istri dan Oliv.
"Mamah juga mencari nya, tapi kamarnya sudah kosong. Kata para maid dia sudah berangkat ke sekolah" ujar Ny. Tania
"anak nakal itu, malam tadi dia tidak ingin makam malam, juga tidak menemuiku di ruang kerja dan sekarang anak nakal itu sengaja menghindar, pasti dia sudah mempredeksi kemungkinan-kemungkinannya" ujar Tn. Dery mengeleng-gelengkan kepalanya.
"memangnya ada apa Pah?!!" tanya Ny. Tania.
"tidak ada apa-apa, hanya ada sesuatu yang ingin Papah bicarakan pada Naya"
"ouhh" kata Ny. Tania ber-oh ria mendengar jawaban suaminya.
"sepertinya Papah mengetahui sesuatu yang mencurigakan dari Naya, aku juga akan mencari tau semua yang di sembunyikan Naya" batin Oliv yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
•••
__ADS_1
"huh capek juga jalan kaki sejauh ini" kata Naya mengatur nafasnya yang tidak teratur.
"Yay ngapain lo di depan sekolahan" tepuk Renata di pundak Naya.
"mau tauran, ya lo pikir mau apalagi! Ya mau sekolah lah" Naya melirik malas ke arah Renata.
"hehe bercanda, btw mana sepeda yang elo sayang-sayang itu?!"
"noh di parkiran, kemarin ketinggalan gara-gara gue pulang sama Rayen" jawab acuh Naya dan masuk, berjalan menuju kelas XI-ipa 2.
"ciee, yang udah punya pacar" goda Renata mencolek-colek pipi Naya.
"apaan sih lo tat! Jangan colek-colek gue lo kira sambelado!, lagian itu cuman kesepakatan tantangan, inget itu di catat" kata Naya.
"ye,,, judes amat sih. Tapi lo tau gak, lo sama Ray itu udah jadi treding topik, keren lo jadi terkenal gara-gara punya pacar ganteng, bukan terkenal gara-gara usil lagi" kata Renata menepuk-nepuk puncak kepala Naya.
"gue gak peduli, lagi syuh syuh jangan tepuk-tepuk kepala gue, mentang-mentang lo jauh lebih tinggi dari gue" kata Naya dengan kesal.
"asal lo tau yah Yay, gue itu pengen pendek, jadi keliatan imut gitu, aaa gemezz gue liat lo kayak boneka gantungan kunci" tangan Renata semakin menjadi menepuk-nepuk puncak kepala Naya.
"lo itu niatnya mau memuji atau ngehujat?" tanya Naya dengan padangan datar.
"dua dua nya niat, hehe... kalo gitu gue duluan ke kantinc Renata segera berlari saat melihat Naya melepas sebelah sepatu andalanya.
"Tat tunggu, rasaain nih terjangan dari sepatu tarzan gue" Naya melempar sekuat tenaganya, agar terkena Renata yang sudah lari jauh.
"bruk"
"auh, sakitt"
"Rose" teriak Rayen.
●●●
TBC
"oi kasih dukungan nya, beri author kesayangan gue semangat, kalo enggak sepatu tarzan gue yang sebelahnya, juga ikut melayang" Ancam Kanaya.
Hayo lho udah di ancam Kanaya, yuk kasih author dukungannya😂
__ADS_1