CUPU!! Bodoamat

CUPU!! Bodoamat
MAAFIN GUE YAY!


__ADS_3

"Pagi menjelang lagi, membuat secercah harap baru untuk gue,,, dan bertanya apakah pagi kali ini, sudah membawa paket pesanan yang berupa kebahagian! Yang gue pesan secara COD namun tidak ada datang-datang juga! Pengirimanya terlalu lambat!, ck" -Kanaya Zoetessa.


• • •


"Good Morning Zoe!!" Nathan datang, merangkul tiba-tiba Naya yang baru saja melangkah masuk ke dalam kelas.


"Than jangan panggil gue Zoe, gue gak suka!" ketus Naya melepaskan rangkulan Nathan.


"Kenapa!! Bagus tau" ujar Nathan, ia melirik ke arah Rayen yang sedang duduk di kursi nya. Mata mereka bertabrakan saling tatap, Entah mengapa Nathan merasa ada sesuatu rencana yang bukan sembarang rencana lagi yang sedang di lakoni Rayen, yang pasti sepertinya rencana tersebut akan di persembahkan untuk Naya!


"Gue gak suka!" tegas Naya lagi.


"Suka gak suka gue bakal tetap manggil lo Zoe, karena gue ingin menjadi satu-satu nya yang berbeda dengan yang lain" ujar Nathan menatap mata indah Naya yang tersembunyi oleh sebuah kacamata.


"Ada yang lebih dulu manggil gue Zoe, dan dia satu-satunya yang boleh manggil gue Zoe! Karena itu panggilan sayang dia buat gue!" ujar Naya balas menatap Nathan. Duh,,, tolong jangan begini!! Bila terus begini lama-lama dia baper dengan tatapan Nathan.


"Dia siapa!" kata Nathan dengan tampang sngat ingin tau.


"Lo gak usah kepo! Yang pertama mulut di gunakan untuk bicara hal-hal yang perlu dan seadanya saja! Kedua mulut bukan untuk membicarakan aib orang, yang ketiga mulut gak usah di ajak untuk mencari tahu atau bertanya hal yang di kerap di sebut kepo dan yang keempat ini cuman bagi gue sih!" ucap Naya meletakan jari telunjuk nya di depan bibir Nathan.


"Lo punya prinsip tentang mulut gitu amat, gak sadar lo sebenarnya gak naatin prinsip lo itu! Terbukti dari adu mulut lo sama Ray!" cibir Nathan. Menatap mayun ke arah cewek yang sedang nyegir tanpa dosa.


"Gitu ya!" Naya mengusap-usap tengkuknya.


"Udah lah, gue mau ke Renata" ujar Naya langsung, perhatianya teralihkan pada Renata yang berjalan keluar kelas. Tanpa memerdulikan apapun lagi Naya bergegas membuntuti Tat tat nya itu.


"Tat tat" Naya mencekal lengan Renata, membuat si sahabat berbalik dengan paksa.


"Apa!" ketus Renata.


"Udah gue bilang gue mau bicara!" sekarang Naya tidak lagi berbicara lembut dengan tatapan mengiba. Sebaliknya! Naya menatap Renata tajam dengan cara berbicara terdengar dingin.


"Gue gak mau bicara sama lo, sebelum penampilan lo berubah!" Renata sedikit kesal melihat Naya menatapnya seperti itu.

__ADS_1


"Lo salah besar ta, gue gak pernah ngerubah penampilan gue! Gue udah nyaman kayak gini" kata Naya menatap Renata datar.


"kalau itu mau lo!" Naya menghela nafas panjang.


"Gue gak bisa ta!" ucap Naya tanpa ada emosi apapun di dalam kalimat yang di kataknnya itu.


Naya berbalik, berjalan meninggalkan Renata!


Hm,,, baru begini ia sudah menyerah mempertahankan sahabatnya! Biarlah, karena dia juga sudah capek! Biarkan saja dia sendiri hidup tanpa cinta, hidup tanpa kasih sayang, hidup tanpa sahabat ataupun teman, toh dia juga yang menjalaninya. Naya kali ini ia menyerah, dia membiarkan jika Renata memang tidak akan pernah kembali menjadi sahabatnya yang dulu.


"YAY MAAFIN GUE!" teriak Renata! Membuat Naya menghentikan langkahnya.


Apa ia tidak salah dengar? Katakan itu nyata!


"Yay maafin gue! Gue tau perkataan gue kemarin-kemarin keterlaluan!" Renata menyentuh pundak Naya, membuat Naya berbalik.


"Yay gue lakuin ini agar lo jadi penampilan lo yang sebenarnya! Gue gak tahan ngeliat lo terus jadi gunjingan-gunjingan serta buly-an" Renata memeluk Naya dengan erat, matanya berkaca-kaca menahan tangis.


"Yay gue gak pernah masalahin penampilan lo, bagaimana pun elo, gue tetap bakal terima lo sebagai sahabat! Karena itu memang kewajiba seorang sahabat, yang tidak memandang apapun!" Renata menjeda ucapannya, mengontrol nafasnya yang turun naik menahan tangis.


"Sudalah ta, biarpun lo gak minta maaf! Gue sudah maafin lo!" Naya mengusap-usap punggung Renata, dan melepas diri dari pelukan Renata.


"Gue juga perlu waktu, gue kesana dulu ya! Jangan kejar gue!" kata Naya bergegas meninggalkan Renata, entah kemana tujuaanya, ia perlu juga menenangkan diri.


And Yes benar saja apa yang di khawatirkan Renata, kenyataanya Naya juga sudah terlanjur kecewa.


Ugh... Jadi ini kah arti dari kata maaf Renata kemarin!


• • •


Jam istirahat


Rooftop

__ADS_1


"Haha, gue masih lucu atas kejadian kemarin malam!" tawa Ziro terdengar mengejek, membuat cowok yang di sampingnya meradang.


"Gue gak nyaka, Ray! Si Rayen Keenan Alaska kemarin malam kalah balapan sama Ziro, ck bener-bener derajat lo sebagai pembalap liar tak terkalah kan telah runtuh!" ejek Ziro lagi.


"DIAM!" bentak Rayen.


"Telinga gue terlalu berharga untuk mendengar kicauan kacau lo" ketus Rayen menatap tajam Ziro.


"Kenapa lo malu!" Ziro menatap balik Rayen dengan tatapan meremehkan.


"Apapun pendapat lo tentang gue, nyatanya itu bukan gue" ketus Rayen lagi.


"Hm kapan lo bakal jalanin tantangannya, karena lo kalah balapan! Lo harus lakuin ketentuan yang telah lo buat sendiri!" ujara Ziro.


"Sialan!" umpat Rayen.


Sebenarnya ia sedikit agak ragu menepati tantangan itu! Apakah ia akan menjadi pria setega itu?! Namun segera ia tepis! Dia Rayen mengapa harus iba pada si cupu yang telah membuatnya malu!


Karena ego, kebodohan merajarela.


Karena ego, pikiran jernih telah keruh.


Karena ego dan harga diri, kata memaafkan hampir hilang...


• • •


TBC


UP Nih!! Ayo BERIKAN DUKUNGANNYA, YEYYY🙌


Beri Like, Komen, Hadiah dan Vote jika tidak keberatan! Untuk sebagai apresiasi kalian dan penambah semangat.


Yaudah, so thnks bagi para pembaca setia...

__ADS_1


Salam sweet dari otor...


Bye bye sampai berjumpa di part selanjutnya📝


__ADS_2