CUPU!! Bodoamat

CUPU!! Bodoamat
APA ITU BAHAGIA?


__ADS_3

"manusia itu tempatnya berubah, kapan pun bisa berubah tetapi terkadang tergantung situasi yang dialami. Singkatnya seperti bunglon, dia bakal ngerubah warnanya seperti warna tempat yang ia bauri sekarang. Menurut gue itulah manusia."


"Jadi nurut lo gitu?"


"iya kebanyakan manusia gitu, mungkin juga termasuk lo." Naya menoleh sejenak pada cowok yang duduk di sampingnya itu. Sedangkan cowok tersebut hanya tersenyum dengan senyum simpul


"berarti lo bukan manusia." Cowok tersebut juga menoleh menatap Naya.


"Maksudnya?" Naya mengeryit heran.


"Lo itu munafik!"


Bukannya mendapat jawaban, Naya malah mendapat olokan, yang membuatnya semakin bertanya-tanya. Cowok disampingnya ini sungguh miterius.


"Lo itu munafik Zoe, lo bilang manusia tempatnya berubah, lo bilang manusia itu ibarat bunglon, dia bakal ngerubah warnanya sesuai kondisi dimana ia berada sekarang, gitukan maksud lo?"


"Tapi lo apa? Lo ada nerapin asumsi lo itu di hidup lo sendiri? Gaada Zoe." Cowok tersebut berbicara dengan nada agak meremehkan.


"Lo ingkar janji sama diri lo sendiri, sekali lagi lo nggak perlu munafikin diri lo sendiri." Semakin kesini semakin kesana omongan cowok tersebut seperti ada larutan emosi di dalamnya.


"Tunjukin lo sebenarnya, udah cukup sandiwaranya Zoe, apa susahnya jadi diri lo sendiri tanpa ada yang lo ubah? Apa susahnya lo ngejalanin hidup lo sesuai keadaan lo sekarang?" Sambung cowok itu lagi. Mimiknya tak sebersahabat seperti awal-awal mereka bicara.


Naya termenung sejenak, sedikit banyak ada benarnya juga. Kalo dipikir-pikir dan mengingat kejadian-kejadian yang sudah berlalu, ia berada di fase mempersulit diri sendiri.


Tapi seperkian detik kemudiannya, Naya tersenyum sinis.


"Lo mau ngatur gue?" Ujar Naya yang mendapat balasan berupa helaan nafas cepek cowok yang masih stay disebelahnya itu.


"Jangan kekanak-kanakan, gue bukan mau ngatur lo. Tapi gue cuman ngasih saran buat lo!" Nada bicara cowok tersebut sudah tidak santai lagi.


Ternyata Kanaya Zoetessa itu benar-benar sudah terbentuk menjadi gadis keras kepala.


"Coba lo pikir, apabedanya, ngasih saran sama ngatur gue, menurut gue lagi secara tidak langsung saran lo itu emang bertujuan buat ngatur gue." Naya menjeda sejenak omongannya.


"Dan gue Kanaya Zoetessa tidak suka diatur, apalagi ngikutin aturan orang yang nggak sesuai sama yang gue mau."


Cowok tersebut hanya mampu mengeleng-geleng, tanda ia tak tahu mesti bagaimana lagi ia bicara dengan Naya ini.


"Lo itu terlalu egois, apa nggak bisa lo ngehargain sedikit saran gue?"


Naya tercenung, apa benar dia egois? Tapi dia tidak merasa kalau dia seperti itu.


"Tapi gue udah nyaman sama gue yang gini, gue udah kebiasaan gini, lo tau kalo ngubah kebiasaan itu sulitkan. Dan gue nggak berencana buat hancurin keadaan yang buat gue nyaman!" Ujar Naya dengan agak tergesa-gesa, tanda bahwa kesalnya sudah diujung tanduk.


"Lo nggak nyaman sama diri lo yang penuh drama itu."

__ADS_1


"Lo sebenarnya nggak nyaman. Lo cuman perlu orang tulus dalam hidup lo, lo cuman perlu disayangkan?"


"Jleb" perkataan dari cowok barusan membuat Naya terdiam seribu bahasa, diotaknya tergiang kata "lo cuman perlu orang tulus dalam hidup lo, lo cuman perlu disayangkan." Benar, memang benar, ia hanya perlu disayang.


Pada akhirnya Naya hanya mampu menyahut


"Lo nggak perlu sok tau, dan ngatur-ngatur gue, gue ya gue, lo ya elo."


"Lo kenapa mesti harus repot-repot ngatur gue dan sok paling tau tentang gue?"


"Emang lo siapa?"


"Shitt!" Umpat cowok tersebut mendengar perkataan Naya, benar-benar membuat emosi jika berbicara dengan manusia batu itu. Mungkin jika boleh dikatan, Naya adalah orang yang teregois yang pernah ia temui sepanjang dia hidup.


"Lo masih nganggep gue, klo gue ngatur lo?"


"Sebebas pendapat gue, gue ngejawab iya"


Benar-benar keras kepala, sepertinya yang mencetak dia perlu dipertanyakan. Ya ya itulah pemikiran cowo tersebut sekarang.


"Kepala lo kebuat dari apasih?"


Naya mengeryit heran mendengar suara cowo tersebut yang mengeluarkan pertanyaan tidak penting.


"Lo bodoh atau gimana?"


"Manusia Alien." Umpat cowok itu dengan mimik amat frustasi. Memang benar yang mencetak Naya perlu dipertanyakan, gaya apa kiranya yang digunakan hingga menjadi Naya dengan segala ke egoisannya itu. Nyeleneh!!


"Gaada yang bisa ngalangin apapun yang gue mau." Sinis Naya.


"Termasuk lo. Tuan sok ngatur!"


Naya berbalik dan melangkah meninggalkan cowok tersebut. Namun rupanya kesialan selalu menyertai Naya, baru beberapa langkah dia menjauh, kakinya tersandung dan


"Brukkk"


.


"Auuu"


Naya merintih mengusap-usap jidatnya yang kepentok lantai kamarnya sendiri.


Tunggu-tunggu. Mengapa lantai kamar?


Naya menatap sekeliling, ini kamarnya, otomatis berarti dia berada dirumah. Lalu itu tadi apa?

__ADS_1


Mimpi?


Ah mimpi, benar itu hanya mimpi, cowok tadi hanya ia temui dimimpi. Mimpi yang terasa nyata sangat nyata.


Naya sedikit mengesot untuk menggapai sisi kasur. Nyatanya ia tidak tersandung tapi lebih tepatnya terjatuh dari tempat tidur.


Ia bersandar disisi ranjang king size-nya itu dengan kaki ditekuk. Naya menatap bengong dinding kamarnya yang bercat lilac.


"Tadi itu siapa ya?"


"Sok ngatur gue, emang dia siapa!" Naya cemberut apabila dia mengingat adegan di dalam mimpinya tadi, biasanya dia tidak peduli dan cenderung selalu lupa apa mimpinya ketika sudah bangun tidur. Tapi ini agak berbeda, entah mengapa dia tidak bisa lupa, seakan bait-bait kata yang dicuatkan oleh mulut seorang cowok yang ntah siapa Naya tidak tau itu bagaikan angin yang selalu mengelilinginya.


"Tapi kalo di nalar, perkataan tuh cowok ada benarnya juga."


"But!"


"Gue nggak kenal dia, gue nggak boleh percaya ataupun ngikutin omongan orang yang gak dikenal, terlebih gue lupa wajah cowok itu." Ujar Naya sendirian penuh keseriusan


"BUNAH NAYA BINGUNG" Teriak Naya sembari mengacak-acak rambutnya.


Ia menengadah dengan helaan nafas lelah. Netranya menatap sayu pada langit-langit kamarnya yang di dekorasi menyerupai nuasa awan dan langit yang cerah.


Seandainya nih ya. Hari-harinya secerah dekorasian plafon kamarnya itu. Pasti dia tidak meragukan lagi, bahwa apakah dia udah bahagia. Hei tapi jangan lupa bahwa hujan berasal dari langit.


Namun sekarang defenisi bahagia versinya perlu ia pertanyakan lagi.


"Demi Kak Oliv yang kayak nenek gayung."


"Gue harus benar-benar apa itu bahagia." Naya refleks berdiri dengan penuh ambis.


"Fithing Naya."


"Lo harus susun jadwal buat ini."


"Hal pertama yang harus lo lakuin adalah, ngebuat orang beranggapan bahwa lo itu adalah orang yang berbeda dari Naya yang dulu, lo harus ngebuat orang segan terhadap lo."


"Maybe?" Celoteh Naya dari tadi pada dirinya sendiri.


So, apa Naya sudah mengambil langkah yang benar?


Layak halnya teks prosedur, mungkin harusnya ia bisa mengikuti unsur-unsur teks prosedur. Setidaknya ia harus bisa menerapkan hal kecil seperti itu. Karena pada dasarnya hal besar berawal dari yang terkecil.


Bukannya langsung mengubah pandangan orang-orang terhadap dirinya. Atau ia bisa saja perlahan-lahan melakukan hal tersebut dengan "love myself"


Ya setidaknya semua berawal dari titik terendah, bukan meroket yang pada akhirnya jatuh kebawah

__ADS_1


Lalu, menurut kalian apa itu bahagia?


__ADS_2