
"saya mau mengeritik teman kelompok saya Bu, saya ingin pindah ke kelompom lain kalau tidak Kanaya yang di pindah!!...?"
"apaalasanya Renata?" Tanya Ibu Dini.
Sedangkan Naya, dia sedang mengerutkan keningnya bingung, kesalahan apa yang membuat Renata kesal padanya sampai sebegitunya usaha Renata menghindar dari nya.
"tidak apa-apa Bu, kebetulan rumah kami sangat berjauhan bu! Sepertinya akan sedikit sulit" Renata menjabarkan alasan yang kurang tepat, terlihat sekali bahwa bukan itu masalah sebenarnya.
"baiklah! Renata di ganti saja dengan Ray, dan kamu Renata kamu masuk ke kelompok lain nanti" ujar Ibu Dini lalu kembali membagi kelompok.
"Tat lo kok gitu sama gue, salah gue apaan coba!?? di cuek-In mulu gue, lo gak kayak biasanya gini Tat" bisik Naya sendu dan menoleh menghadap ke belakang di mana Renata duduk.
"terserah gue! Emang kenapa?! Lo siapa rupanya bagi gue!!" ucap Renata dengan kasarnya, tidak tau saja bahwa dengan berbicara begitu, Renata sudah membuat luka hati Naya makin dalam.
"Tat" lirih Naya makin tidak menyangka dengan sikap Renata.
Nathan yang duduk bersama Renata hanya menatap iba ke arah Naya, dia ingin ikut campur tapi tidak berani nanti dia di semprot Ibu Dini karena ikut-ikutan bicara dalam kelas.
"tut tut tut, kasian deh di jauhin sama sahabat sendiri!! yaiyalah di jauhin siapa yang mau teman sama Cupu kayak elo!" ejek Rayen di telinga Naya.
"HAHAHAHAHA KASIAN" tawa Rayen menggema, melupakan di mana keberadaanya sekarang dan melupakan keberadaan Ibu Dini yang sudah naik pitam.
"Ray, kenapa kamu?! Apa yang kasian!" ujar Ibu Dini menatap Rayen tajam.
"Itu Bu, semut ke pentok dinding" jawab Rayen asal-asalan.
"Dasar ngasal" ketus Ibu Dini.
"Lo ga capek apa ngejekin gue mulu" balas Naya berbisik pada Rayen.
"gue gak ada capek buat ngejekin lo!" balik bisik Rayen.
"apa utungnya sih jahatin gue!!" bisik Naya lagi.
"gak ada untungnya sih!"
"yah terus ngapain lo ejekin gue mulu anjim!! Belaska kampret" Naya memukul lengan Rayen dengan keras, kekesalannya sudah tidak berdeng lagi untuk anak orang yang bernama Rayen ini.
__ADS_1
"Kanaya apa-apaan kamu! ngomong sembarang saat ada Ibu, kamu gak ngehargain Ibu!" tegur Ibu Dini marah.
"maaf bu" kata Naya.
"hukumannya kamu bersihkan aula!" perintah Ibu Dini pada Naya.
"baik Bu" Naya langsung menyetujui, karena menolak pun percuma. Perintah guru itu bagai titah raja yang tidak dapat di tolak kecuali si Rayen Keenan Alaska yang berani menolak.
"saya mau bantu bu!" Nathan berdiri dan mengangkat tangannya, niatnya sih pengen ngebantu Naya dari hukumanya. Ciee pahlawan kesiangan...
"tidak perlu, kamu cukup duduk manis aja di situ dengarkan suara Ibu. Jarang-jarang Ibu ketemu sama kamu karena sering bolos!" ucap Ibu Dini menatap Nathan jengah.
"hehe, gitu ya bu. Yaudah gimana kata Ibu aja" Nathan kembali duduk dengan cengiran gingsul khas dirinya.
"Bruk"
"Brak"
Rayen menendang bangku yang duduki Naya tadi dengan tiba-tiba, membuat seisi kelas berkagetan seperti dapat uang kaget termasuk Ibu Dini.
"SAYA MAU DI HUKUMM!!" kata Rayen lantang.
"Iya Bu!" angguk Rayen dengan cepat.
"Yaudah susul Naya sana!!"
"Oke bu" Rayen cepat-cepat keluar dengan semangat.
"Aneh" lirih Ibu Dini dengan mengeleng-gelengkan kepala.
•••
Satu, dua
"Duaarr" kejut Rayen dari belakang Naya yang sedang sibuk menyapu
"Eh copot, Papah Dery terbang loncat loncat" latah Naya terkejut.
__ADS_1
"Papah Dery?!!" Rayen jadi berfokus pada perkataan Naya yang menyebut papah Dery. Rasanya ia mengenal nama itu.
"Om, Dery lvy Samatha itu bokap lo?! jadi bener waktu itu Om Dery emang Bokap lo?! Wah Gila lo" kata Rayen menatap Naya penuh curiga.
"Orang bego aja yang percaya kalo gue anak Tuan Dery" ujar Naya kembali menyapu, guna untuk menyembunyikan wajah gugup nya. Takut Rayen akan tau siapa dirinya karena di sini dia tidak mau orang mengenal dia sebagai putri bungsu keluarga Samatha yang culun dan ketinggalan jaman. Selain akan menyusahkan dirinya, itu juga akan mencoreng nama besar keluarga Samatha lalu dia akan terikat lagi pada ceramah panjang lebar sang Papah dan Mamah juga mak lampir Oliv.
Dan untuk alasan lainnya dia hanya ingin be himself with his own choice...
"Terus lo siapa!?" tanya Rayen.
"Gue... Gue anak pembantu di keluarga Samatha, udah itu doang" fyhuu untung saja gini-gini ia di karuniai otak dan mulut yang pintar ngeles, jadi bisa bebaskan dia dari maut keterbongkaran yang sebentar lagi hampir sampai karena kecoplosan.
"Heum" Rayen terdiam dan mengangguk-angguk tanda ia mengerti.
"Cocok aja sih, lo anak pembantu! Mungkin lo tadi refleks nyebut Om Dery Papah, karena ngehalu jadi anak Om Dery yang banyak duit" kata Rayen lalu mengambil sapu dan ikut-ikutan menyapu.
"Iya tadi cuman reflek" kata Naya.
"Untung aja Belaska Bego!! Hihi" lanjut Naya tapi hanya dapat ia ucapkan di dalam hati.
"Ngomong-ngomong putri semata wayang keluarga Samatha itu cantik yah, Oliv kan nama nya" kata Rayen dengan tersenyum-senyum sendiri, membuat Naya yang melihat itu jadi menduga bahwa Rayen ini ternyata pengagum rahasia Kakaknya si mak lampir Oliv.
"Dasar playboy, jangan naksir! Kakak gue udah punya tunangan" kesal Naya dan reflek kembali memukul pantat Rayen dengan sapu, permasalahannya itu Rayen senyum-senyum melulu sambil berkata nama Oliv, dan di sini seorang Kanaya marah melihat tingkah Rayen itu, dia merasa tidak suka dengan hal itu! Semacam cemburu tapi realitanya bukan itu! Entahlah pasti nanti ada jawabannya!!
"Kakak!!"
•••
TBC
#UP NIH, JANGAN LUPA BERI DUKUNGANNYA BUAT CERITA KANAYA DAN RAYEN, NEE💋
****Follow akun ig author yang baru dong: @ichaca_caa
Nih juga yang mau namkon-namkon, otor bagi nomor otor 083112073701, kebetulan otor juga butkon😸
OK Readrs so salam sweet dari Cupu!! Bodoamat.
__ADS_1
...Tnku luv luv🐣****...