
Keesokan paginya.
"Semangat Rayen, lo pasti bisa secepatnya menuhin perjanjian sialan itu." Ujar Rayen sebelum memasuki kelas. Matanya berkeliaran kemana-mana mencari sosok yang sering ia sebut cupu itu. Namun ia sama sekali tidak menemukannya. Ia hanya melihat Renata dan Nathan yang sibuk menanyai keberadaan Naya yang biasanya selalu awal datang.
Rayen tersenyum seang, berarti hari ini ia bebas tanpa harus menjalakan misinya.
"Yess hari keberuntungan." Dengan semangat 45, Reyen berbalik meninggalkan kelas, dan berniat akan ke kelas Rose untuk mengajak sarapan bareng.
Sedangkan disisi lain.
Naya menimang-nimang kunci mobil di dalam garasi mobilnya, ia ingin menggunakan mobil itu tapi ia juga egan, mengingat ia tidak terbiasa dengan semua kemewahan. Tapi kali ini Naya akan menggunakan mobil tersebut.
Akhirnya Naya akan menggunakan mobil itu. Mobil McLaren elva itu siap Naya tumpangi menuju sekolahnya.
Mobil mewah Naya memasuki pekarangan sekolah, menuju tempat parkir mobil, tentu saja McLaren elva oleh MSO dengan seharga 1,7 juta dolar AS itu menarik perhatian banyak mata, agaknya siapa yang menggunakan itu.
Naya turun dengan dirinya yang baru, dan tentu itu membuat keadaan semakin ramai. Layaknya manusia pada umumnya, semua mulai mendekat dan berkumpul untuk mengatasi rasa kekepoan mereka itu.
Mobil mewah, gadis cantik dan mereka seperti familiar.
Diam-diam Naya tersenyum menyeringai memperhatikan orang-orang tersebut, orang-orang yang menurut Naya hanya memanusiakan mereka yang punya kemewahan.
Sepanjang menuju kelas Naya menjadi pusat perhatian, gadis cantik yang berjalan penuh kepercayaan diri itu. Tidak ada yang mengira itu Naya, sama sekali tidak ada, padahal itu adalah Naya. Kanaya Zoetessa yang sebenarnya.
Naya berdiri diambang pintu kelasnya. Seisi kelas terdiam, melirik Naya dari atas sampai bawah. Dalam pikiran mereka tuh Naya adalah siswa baru, sebelum Renata berteriak dan memeluk Naya.
"OMG NAYAAAAA, AKHIRNYA." Renata hebob mengelilingi Naya, meneliti penampilan Naya, memegang rambut Naya yang terurai. Dan suara ricuh kelas menambah suasana bising, sedangkan Nathan sedari tadi bungkam. Mengetahui ternyata itu adalah Zoe-nya.
"Kok riuh banget, adaapasih." Ujar Rayen yang sudah kembali, ia belum menyadari kehadiran Naya.
"Halo Rayen." Ujar Naya menyapa Rayen, seketika membuat raut wajah Rayen mengeryit heran. "Siapa dia?" Batin Rayen.
"Lo siapa." Kata Rayen.
"Lo gak kenal gue?" Naya tersenyum meremehkan.
"Biar gue kenalin lagi." Naya menghadap semua teman sekelasnya. Dengan mendongak agak sombong Naya berkata.
"Gue Kanaya Zoetessa."
"Dan inilah gue sebenarnya."
Semua diam, dan melongo dan tentunya tidak sedikit yang shock termasuk Rayen.
Bertanya-tanya apa benar itu Naya?
__ADS_1
"Lo oplas ya." Ujar Rayen tiba-tiba mencekram pergelangan tangan Naya, bda dari yang dulu, dulu pergelangan itu hitam. Sekarang menjadi putih dan terasa lembut.
"Muncung lo mau gue kepang?" Naya mengeplak mulut Rayen pelan. Apa segitunya kah perubahan dirinya?
Rayen menatap Naya intens, dan tiba-tiba merangkul Naya dengan tersenyum manis.
"Sorry, sorry, gue gak ngira aja ternyata lo cantik."
Naya mendengus sebal, dan melepaskan rangkulan Rayen secara kasar. Naya melangkah menuju tempat duduknya, dengan padangan orang yang berbeda-beda.
"Risih gue." Ujar Naya pelan, dengan menghela nafas panjang.
Jam istirahat.
"Yay lo gamau ke kantin, ayok bareng gue." Ajak Renata pada Naya yg sedari tadi diam saja, menurut Renata mungkin Naya masih marah pada dirinya. Padahal jauh di dalam lubuk hati Renata, ia senang akhirnya Naya tidak lagi pada pedirian kulotnya itu. Sebab Renata merasa inilah awal dimana cerita Naya dimulai.
"Lo duluan aja Tat, gue gak lapar." Sahut Naya melirik sekilas pada Renata, dan selebihnya kembali sibuk mencatat sesuatu, entah apa itu yang pasti sebenarnya Renata sangat kepo.
"Emm kalo gitu gue tinggal dulu ya." Dan perkataan Renata di angguki Naya sebagai respon dirinya. Setidaknya Renata agak senang sebab Naya sudah memanggilnya lagi drngan sebutan Tat.
"Huh." Sepergi Renata, Naya menghela nafas, jujur dia tidak terbiasa dengan itu semua. Riasan diwajahnya ia tidak suka walau riasan itu hanya sekedar lipstik, dan yang paling tidak ia suka adalah warna kulitnya yang menjadi putih bersih.
"Brak."
Nathan yang sehabis ke kamar mandi tiba-tiba mengebrak meja Naya tanpa alasan, mengagetkan Naya dan membangunkan Rayen yang tertidur.
"Lo sibuk ga hari ini?" Tanya Nathan, sungguh Nathan tambah suka memandang wajah Naya, inilah definisi ada udang dibalik gajah.
"Kenapa?"
"Jalan sama gue sabi kali ya." Ujar Nathan lagi menaik turun kan alisnya.
"Apa gunanya gue jalan sama lo." Dan inilah Naya, dia tidak bisa merubah gaya bicaranya.
"Pfttt." Rayen yang sedari tadi menguping pembicaraan Nathan dan Naya menahan tawa saat mendengar ajakan Nathan ditolak mentah-mentah oleh Naya.
"Daripada lo jalan sama dia, mending kita toko buku nyari buku, gimana." Ajak Rayen juga, tentu saja ajakanya itu bersangkut paut dengan misi perjanjian sialan.
"Apalagi sama lo ogah banget." Tolak Naya juga mentah-mentah. Membuat Rayen mendesis sebal.
"Pfttt, kena karma kan lo." Kata Nathan sambil menirukan gaya menahan tawa seperti Rayen tadi.
"Kenapa sih lo nolak terus dekat-dekat gue." Akhirnya Rayen mengeluarkan kefrustasianya. Bukan karna apa, tapi ia benar-benar ingin menyelesaikan perjanjian itu.
"Emang gue bisa untung apa kalo dekat-dekat lo." Ketus Naya menatap Rayen malas.
__ADS_1
"Gue kasih perhatian."
"Cih basi." Cibir Naya lagi.
"Yaudah Zoe bakal jalan sama gue." Nathan berdiri dihadapan Rayen dengan angkuhnya.
"Sama gaada untungnya juga gue dekat-dekat lo." Ujar Naya juga, hiks rasanya Nathan ingin mengubur hidup-hidup Rayen karena sama aja ajakannya ditolak.
"Rasain lo." Rayen mentap Nathan dengan raut mengejek, jadilah mereka saling tatap tatapan tajam.
Naya yang melihat itu menghela nafas panjang, ia beranjak diam-diam membawa sebuah note menuju perpustakaan tanpa menghiraukan lagi panggilan dari Reyen maupun Nathan.
"Bodoamat." Gumam Naya.
Sepanjang menuju perpustakaan memang Naya tidak luput jadi pusat perhatian, mungkin sebentar lagi di Mading ia menjadi trending topik. Bolehkan kalo dia se-PD itu.
sesampainya di perpustakaan Naya tidak melakukan apapun, dia hanya mengaca pada kaca yang ia ambil dari kantong seragam sekolahnya yang kini pun berubah ukuran, baju yang semula kedodoran dan lusuh menjadi baju yang ngepas di badan dan tentu saja rapi.
"gue cantik?"
"harusnya gue senang sekarang banyak pandangan yang kagum."
"tapi gue gak senang." lanjut Naya dengan gumamnya lagi.
"duarr."
"mamaku cantik." kaget Naya dengan spontan menggeplak kepala orang yang mengagetkannya. usut punya usut itu ternyata Nathan lagi.
Naya memutar bola mata malas, kenapa harus Nathan, Nathan dan Nathan lagi.
"apasih ganggu banget."
"santai Zoe, galak amat nanti cantiknya ilang." Nathan yang gemas mengacak-acak rambut Naya, tambahlah bibir Naya itu tambah monyong.
"ish ngerusak aja."
Nathan hanya tersenyum lalu duduk di depan Naya, memperhatikan Naya dengan intens yang membuat Naya agak salting.
"zoe." panggil Nathan dengan tatapan terus tertuju pada mata indah Naya.
"kenapa?" sahut Naya.
"gue mau bocorin sesuatu." raut Nathan berubah jadi serius.
.
__ADS_1
aloooo masih ingat dengan cerita ini?
kalo mampir jangan lupa beri dukungan, maacihh