
"BRUK"
"LO YAH, JANGAN ASAL NGOMONG KALAU TIDAK TAU SEJARAHNYA" Naya melempar Rayen dengan buku-Nya secara membabi buta.
"woy Baper-an banget sih lo" Rayen berusaha manangkis setiap buku yang di lemparkan Naya.
"Baperan lo bilang, gampang banget lo bilang baperan setelah bikin orang marah" Naya menatap Rayen dengan sengit begitupun sebalik nya.
"nyuuss"
"tuk"
"tuk"
"kalian, kalau mau adu tinju maupun adu mulut, silahkan dekati tiang bendera dan bawa mikrofon gunakan untuk bernyanyi" kata Pak Deni dengan tajam, setelah sebelumnya berhasil melemparkan dua buah peluru berupa spidol ke arah Rayen dan Naya.
"auh, sakit pak" ringis Rayen mengusap-usap pelipisnya.
"ya sakit lah orang saya ngelempar spidolnya dari jauh, sekarang Kamu dengan teman cewek kamu itu keluar, tunggu Bapak di ruang BK" ujar Pak Deni menunjuk pintu keluar dengan garang.
Semua murid penghuni kelas kecuali Naya dan Rayen, hanya terdiam menunduk tanpa ada yang menyahut. Hati mereka berkata, lebih baik diam dari pada masuk sangkar singa emas yang berupa ruang BK di intrograsi langsung oleh Pak Deni, guru killer SMA Alaska.
"sekian terimakasih dan mohon maaf Pak, permisi" Naya yang sudah di suruh keluar pun segera keluar dengan senang hati mendahului Rayen.
Rayen pun ikut beranjak membuntuti Naya tanpa permisi, membuat Pak Deni berdecik.
"Cupu lo itu gak ada bosannya yah cari masalah sama gue" ujara Rayen ketus, mensejajarkan langkahnya dengan langkah Naya.
"yee gak sadar diri! Lo kali yang cari gara-gara duluan" sinis Naya memandang malas Rayen.
"soalnya gue gak suka sama lo!"
"siapa bilang lo suka sama gue, gue sadar diri wahai belatung!"
"jangan panggil gue belatung!"
"Bodoamat!!!"
sepanjang perjalanan menuju sangkar Singa emas atau Ruang pengadilan legendaris para Anak sekolah,,, oh tidak singkatnya adalah ruang BK, Naya dan Rayen terus berkicau, berselisih dan tidak mau mengalah! Entah apa yang sebenarnya mereka debatkan, yang pasti mereka tidak ada ubah-Nya seperti pasangan burung Beo yang saling bersahutan.
•••
"GUE BENCI LO CUPUUU!!" Suara Rayen menggelar di lapang upacara di depan tiang bendera. Tangan kanan posisi hormat dan tangan kiri memegang mikrofon.
"LAH GUE BODOAMAT! GAK ADA RUGI GUE DI BENCI SAMA LO, LO GAK SEPENTING ITU!!" Suara Naya pun ikut menggelar. Dengan Posisi yang sama dengan Rayen.
"Rayen dan Kanaya saya bilang bernyanyi bukan saling berbicara seperti itu" kata Pak Deni yang mengawasi di hadapan Naya dan Rayen.
"untuk siswa yang menonton silahkan bubar, kalau tidak kalian juga akan ikut bergabung dengan Rayen dan Kanaya" lirikan tajam Pak Deni layangkan untuk semua siswa yang menonton aksi hukuman Naya dan Rayen di bawah teriknya sinar sang surya. Tanpa di suruh dua kali semua siswa berhambur bubar.
"Cupu lo ngerasa panas gak?" bisik Rayen di telinga Naya.
"gak tuh, gue malah ngerasa di hawai sambil dangdutan" jawab Naya malas.
"cih miring lo!" dengus Rayen.
"Pak nyanyi lagu apa?" tanya Rayen.
"terserah!"
"Cupu, kita akur bentar yah buat nyanyi, jadi lo mau lagu apa?" kata Rayen menoleh ke arah Naya.
"gimana kalo cicak-cicak di dinding tapi di ubah pakai huruf I" usul Naya tersenyum lebar.
"boleh lo duluan"
"CICIK-CICIK DI DINDING" Naya.
"DIIM-DIIM MIRIYIP" Rayen.
"DITING SI IKIR NYIMIK" Naya.
"HIP~"
"LILI DI TINGKIP..."
"RAYEN, KANAYA LAGU APA-APAN ITU, CEPAT SEKARANG KALIAN LARI KELILING LAPANGAN" Pak Deni sungguh jengah dengan kelakuan dua murid yang sedang ia hukum ini. Biasa nya murid lain apabila di hukum langsung kicep, lah ini!! Its ok mari kita beritahu bahwa ini adalah Kanaya dan Rayen, beda dari yang lain.
"katanya terserah Pak! Bapak gimana sih?" protes Naya tidak terima. Enak saja di suruh keliling lapangan padahal sudah jemuran bak ikan asin yang belum kering.
Segelintir siswa yang lewat dan tidak sengaja hanya cekikikan dan mengeleng-geleng.
__ADS_1
"tau bapak kejam banget dah! Masa kesalahan ribut seperti itu saja tidak dapat di toleransi, kami gak sedang latihan mileter Pak" protes Rayen juga, ia memempetkan badannya ke Naya.
"iya Pak, ini nama-Nya sama saja kekerasan!" Naya juga memempetkan badanya ke Rayen.
"kekerasan apanya, saya ini memberi hukuman agar kalian patuh, saya ini sedang mendidik kalian" sangkal Pak Deni.
"Pak coba Bapak bayangin, nunggu Bapak di ruang BK aja udah hampir timbul uban, setelah istirahat di suruh berdiri di depan tiang bendera, kami belum sarapan. Laper pak, hauus" kata Rayen merangkul pundak Naya.
"benar Pak, masa di suruh keliling lapangan seluas pluto itu!" tangan Naya juga bergerak merangkul pinggang Rayen, karena apalahdaya ia tidak sampai merangkul pundak Rayen.
"yasudah kalian bebas, kalau masih di ulang tidak ada lagi tawar menawar dan berbagai alasan" akhirnya Pak Deni memilih mengalah.
"yes makasih Pak, so tidak akan di ulang" cengir Naya dan Rayen.
"yasudah kenapa kalian rangkul merangkul di depan saya, pamer kemesraan atau mau foto perewed?!!" sinis Pak Deni, sebelum berlalu meninggalkan Naya dan Rayen.
mendengar itu Rayen dan Naya saling menatap, dan segera melepas diri masing-masing. Sungguh katakanlah mereka khilaf.
"udah batas akur kita habis! Gak ada masa perpanjang" ketus Rayen.
"semua juga yang mau memperpanjang" ketus Naya juga.
Tanpa menanggapi omongan Naya, Rayen berlalu tanpa menghiraukan Naya lagi. Dia lapar, haus... Maybe karena itu iya nge stop adu mulut dengan Naya.
Naya pun tidak peduli, bahkan ia bersyukur Rayen jauh-jauh darinya.
Naya beranjak menuju kantin mencari keberadaan Renata, biasanya saat dia di hukum, Renata selalu stand menunggu sampai hukuman Naya selesai dan sekarang kemana kah gerangan Tat tat itu.
Naya mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru kantin, matanya menangkap pemadangan asing di mana sahabat satu-satu nya sedang bercengkrama bersama Rose. Seorang yang baru saja di ceritakan sahabatnya dengan antusias.
Boleh kah dia mengatakan kalau dia kecewa?
Boleh kah dia mengatakan hati nya terluka?
Boleh dia egois untuk tidak membiarkan sahabat mempunyai sahabat baru lagi?
Bolehkah dia menahan agar Renata tidak perlu mencari sahabat lagi?
Bagaimana pun Renata adalah orang yang selalu memperhatikanya selama ini dan selalu ada, selain Bunah Sella. Pantaskan ia merasakan itu semua?!
"gue baru ngerasa, begini ya sakitnya!!" Naya memukul-mukul pelan dada-nya.
"nyatanya di cuekin sahabat itu lebih sakit, dari pada ngeliat Peety tinggal Ban" lirih Naya dan berlalu pergi dari kantin.
Oh, hush, my dear, it's been a difficult year
And terrors don't prey on
Innocent victims
Trust me, darling, trust me darling
It's been a loveless year
I'm a man of three fears
Integrity, faith and
Crocodile tears
Trust me, darling, trust me, darling
So look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
I wish I could escape
I don't wanna fake it
Wish I could erase it
Make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
__ADS_1
Now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go (go)
Did all my dreams never mean one thing?
Does happiness lie in a diamond ring?
Oh, I've been askin'
Oh, I've been askin' for problems, problems, problems
I wage my war, on the world inside
I take my gun to the enemy's side
Oh, I've been askin' for (trust me, darling)
Oh, I've been askin' for (trust me, darling)
Problems, problems, problems
So look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
I wish I could escape
I don't wanna fake it
Wish I could erase it
Make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
I can't breathe, I can't be
I can't be what you want me to be
Believe me, this one time
Believe me
I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
Oh
Please believe me
Please believe me...
●●●
TBC
Di tunggu dukungan buat cerita Kanaya dan Rayen♡
Thank you for sweet readers❣
__ADS_1
Sweet greetings from Dari CUPU!! Bodoamat