
"Selamat pagi Naya." sapa riang dari Rayen yang berdiri di depan pintu kelas, agaknya dia menunggu Naya, atau ada alasan lain?
"Emm p-pagi." Naya membalas sapaan cowok itu dengan agak kikuk, katakan dirinya sedang terkejut. Pasalnya ternyata belaska ini memang sudah baik ya dengan dirinya. Hemm maybe.
"Sudah sarapan?" Rayen melempar pertanyaan yang bisa di artikan sebuah perhatian kecil, atau sekedar hanya basa-basi.
"Belum." jawab Naya, diriya menerobos ingin masuk kedalam kelas, namun cepat-cepat di halangi oleh tokoh yang bernama Rayen.
"Eitss cantik, sebelum masuk pastikan makan dulu, yuk gue anterin kekantin." cegah Rayen.
Perkataan Rayen membuat seorang Kanaya melongo. Di alam lain dirinya sedang terjungkal, terdorong, terguling, terkejang-kejang, tersedak, terlempar tertiup angin topan lalu tersangkut di pohon kurma. Yang benar saja? kata "cantik" untuk dirinya, uhuk uhuk ketara sekali bohongnya ini.
Orang-orang yang mendengar Rayen memanggil Naya cantik pun, bagai layang-layang yang talinya putus, beterbangan entah kemana. Syok? Tentu.
Bahkan para kaum hawa ada yang tersenyum dan berasa mendapat angin segar, bagaimana tidak. Kalau Rayen memanggil Naya cantik dengan penampilan cupu dan dekilnya itu, bagaimana dengan diri mereka yang berpenampilan cukup bagus dan menarik.
"Gak perlu." ketus Naya, dirinya memaksa bersikap biasa saja, yang memangnya harus bersikap apalagi. Dia tidak akan mudah meleleh dengan perkataan Rayen barusan.
"yaudah, gue pergi dulu. bye" Rayen akhirnya pergi dengan melambai kepada Naya.
"bodoamat." gumam Naya dan mengangkat bahunya acuh, ia bergerak masuk kedalam kelas.
Dan pemandangan pertama yang di lihatnya adalah, seluruh penghuni kelas itu menatap padanya dengan ekspresi yang berbeda-beda, termasuk Renata.
"kenapa? ada yang salah?" tanya Naya. Buru-buru semua mengalihkan pandangan.
"huftt." Naya menghela nafas, dan berjalan dengan kurang semangat ketempat dimana bangku dan mejanya berada. Sebentar, Kurang semangat? Memangnya hari-hari biasanya dia semangat? oh tentu saja tidak.
Renata segera mendekati Naya, dirinya tentu saja juga syok dengan kejadian simple di depan kelas tadi.
"yay, lo??"
seolah tahu apa yang diinginkan sahabatnya yang pernah berubah karena sebuah alasan itu, Naya lagi-lagi menghela nafas.
"kenapa pada syok gitu sih liat gue ama Ray barusan?"
"saking gak pantesnya ya? kalau emang gitu yaudah sebut aja fenomena." kata Naya sambil mengeluarkan buku pelajaranya.
Renata pun menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan tampang meringis.
"emm bukan gitu, maksud— " belum sempat Renata menyelesaikan perkataanya, tapi sudah di srepet oleh Naya.
__ADS_1
"dia minta maaf kemaren sama gue, terus kayaknya dia emang gak jahilin gue lagi."
"lo yakin, dia tulus minta maaf atau jangan-jangan ada tujuan lain." ujar Renata dengan mimik serius.
"gak perlu nanya itu dulu, tanya sama diri lo, apa udah yakin gue maafin lo?" ucap Naya tanpa melihat kearah Renata yang terdiam, ia sibuk dengan buku-bukunya tanpa menghiraukan apapun lagi.
.
"bodoh! cantik? gila aja kali ya, gue bilang gitu sama si cupu." ujar Rayen menggerutu kesal sambil berjalan ke arah kantin.
"gimana?" Zico tiba-tiba ikut berjalan di samping Rayen.
"kayaknya bakal sedikit sulit." sahut Rayen.
"hm, gue gak sabar nunggu kelanjutannya. Semangat bro." Zico tersenyum miring, dan berlalu pergi setelah menepuk pundak Rayen pelan.
Rayen menghentikan langkahnya.
"dia,,, ada dendam apa sama cupu?"
.
"Baik bu." sahut serentak para murid di kelas XI ips1 itu. Tanpa banyak tanya atau perintah apapun lagi, semua mulai berdiskusi dan mencari jawaban bersama teman sebangku masing-masing. Kecuali,,,
Terkecuali dua pasang teman sebangku yang sedang berdebat. Pasangan Rayen-Renata dan Nathan-Naya. Dan selalu Rayen yang membuat keributan.
Rayen bersikeras menyuruh Renata bertukaran tempat duduk dengan Naya. Tapi Naya tetap Naya, seseorang yang keras kepala, dan tidak mau mengalah. Dirinya menyatakan tidak ingin berpindah tempat duduk, ok TITIK cukup sampai disitu dia tidak ingin menerima paksaan apapun.
"Ehem."
"Mohon dikondisikan suaranya." tegur Ibu Dini tajam. Rayen tidak menghiraukan.
"Nathan, tukeran sama gue." fiks, Rayen menemukan jalan keluar. Dia bisa duduk dengan Naya. Kenapa tidak dari tadi ia kepikiran.
"Ok." sahut Nathan tanpa banyak protes, segera ia bangkit dan bertukar tempat duduk dengan Rayen. Dan yahh Naya tidak peduli.
"Naya, gue boleh duduk disinikan?" basa-basi Rayen sangat basi.
"Itu kursi milik umum, bukan milik gue." sahut Naya ketus.
"Hm." Rayen rasanya sedang ingin tertawa, menertawakan pertanyaan sendiri.
__ADS_1
Akhirnya Rayen bisa diam, dengan Naya yang sibuk memberi perhatian kepada para soal, dan Rayen yang hanya diam memandang Naya dari samping.
.
"Naya pulang sama gue." ucap serempak mahluk yang memiliki nama berbeda itu, Rayen dan Nathan. Mereka menghadang Naya di depan gerbang, masing-masing menggunakan motor sport.
"Gak perlu." Naya melongos begitu saja, meninggalkan dua cowok yang tak perlu Naya hiraukan. Nanti akan membuat dirinya ribet sendiri.
"Hap."
"Akh." Naya kaget saat dirinya berjalan tiba-tiba melayang begitu saja. Tidak, maksudnya dirinya tiba-tiba di gendong.
"Naya pulang sama gue." Rayen meletak Naya di jok penumpang, memasangkan helm. Lalu melaju tanpa menghiraukan lagi protesan Nathan dan protesan Naya sendiri. Melaju begitu saja, meninggalkan Nathan yang menaruh curiga banyak untuk Rayen.
"BELASKAAA TURUNIN GUE." tangan kecil Naya memukul-mukul pundak Rayen yang terbalut dengan jaket kulit bertuliskan borderan "YOU BACOT!"
"Baca tulisan jaket gue di belakang." Rayen memelankan laju motornya.
Naya yang penasaran menyorot tulisan jaket Rayen tersebut, dan merasa tersindir sendiri.
"Belaska, lo apa-apaansih. Gue bisa pulang sendiri."
"turuni gak!" Naya mempelototi Rayen melalui kaca spion.
"Rayen,,, turunin." dari nadanya, Naya merengek. Tangan mungilnya menarik-narik ujung jaket Rayen.
"Belaska turunin gue, atau gue loncat." yang mengancam adalah Naya, si keras kepala. Tidak peduli akan menjadi bahaya, yang terpenting dia menepati ucapannya.
"hah." terdengar Rayen menghela nafas kasar. Dan berhenti meminggir.
Rayen turun, membuka helmnya, sedangkan Naya di juga lekas turun walau sedikit agak meloncat. huft pemandangan itu agak menggemaskan bagi Rayen.
"lo kenapa gak mau gue bonceng sih?"
"lo kenapa tiba-tiba gini sama gue?"
dua pertanyaan itu keluar dari mulut yang berbeda.
• • •
HALO
__ADS_1