CUPU!! Bodoamat

CUPU!! Bodoamat
RAYEN VS NAYA


__ADS_3

"ck" Rayen menepis tangan Naya


dan tanpa permisi ia menarik Naya keluar.


Bu Dini yang melihat itu hanya diam dan kembali melanjutkan pelajaran. Bu Dini terlalu malas untuk berurusan dengan muridnya yang bernama Rayen itu. Raten yang ribet tidak sesuai dengan ukuran Bu Dini yang simpel.


Di luar kelas, Rayen menyeret Naya ke tengah-tengah lapangan basket.


"cih, beraninya lo pegang-pegang tangan gue" Naya menyentak tangannya dari cengkraman Rayen.


"gue terpaksa megang tangan lo, mungkin habis ini gue mau konsultasi ke dokter. Siapa tau tangan gue kena virus cupu elo." kata Rayen tersenyum mengejek.


"heh, bisanya cuman ngehina, lo laki atau apa sih?" Naya melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh.


"ternyata besar juga nyali lo!! Lo gak tau siapa gue, hah." Rayen berkata tajam di depan wajah Naya.


"gue emang gak tau lo!! yang gue tau lo yang cupu sebenarnya"


Rayen mengeryit heran.


"maksud lo?"


"nalar sendiri." ketus Naya dan berbalik meninggalkan Rayen.


"eitt... mau ke mana lo, urusan kita belum selesai sweety." Rayen kembali menarik tangan Naya.


"sweety pala lo peang, sekali lagi lo manggil gue sweety. gue jotos kepala lo ampe bolong." kata Naya dengan menarik kencang dasi yang di kenakan Rayen.


"lo pikir ancaman lo ngaruh buat gue?"


"ngaruh gak ngaruh, gw gak peduli. Udah ah gue mau balik ke kelas, ini hari pertama gue masuk. Lo sudah berani nyulik gue."


"jangan terburu-buru sweety, mari kita bicara lagi." ujar Rayen mengerlingkan matanya. Ia mengapit kepala Naya yang memang tingginya hanya sebahunya saja.


"Damn it, lepasin gue stupid." umpat Naya dan berusaha melepaskan diri.


"dasar gadis aneh." ujar Rayen dan


"pew" Rayen menjawil hidung Naya dan berlalu dari hadapan Naya.


"huh, si sialan itu." geram Naya.


"tuk" Naya meleparkan sepatu nya tempat di kepala Rayen.


"auh" Rayen mengusap belakang kepala nya yang terkena lemparan sepatu milik Naya.


"sakit woi." Rayen menggeram kesal.

__ADS_1


"Tadi nya gue mau ngelepasin lo, tapi karena lo ngelunjak sekarang gue tantang lo main basket, gimana?" kata Rayen sinis menatap Naya dengan pandangan meremehkan.


"berani gak ya, berani gak ya? ya berani lah masa enggak." ujar Naya dengan nada mengejek dan tersenyum miring.


"cih..., oke nanti istirahat ke dua gue tunggu."


"sekarang juga bisa"


"nunggu semua siswa nonton, emm buat permaluin elo gitu ceritannya" ucap Rayen enteng.


"uhh gue takut maluuu." ujar Naya dengan nada takut yang di buat-buat.


"ehem, tapi sebenarnya gue lebih takut kalau yang lo ucapin itu, jadi boomerang buat diri lo sendiri" ujar Naya lagi sambil meniup-niup kukunya dengan congak.


"gak akan deh dan sekarang gue punya sayarat! Kalau lo kalah, lo harus gunain seragam lo buat bersihin sepatu gw selama tiga minggu. Eitt tapi lo gak boleh punya baju seragam cadangan, gimana?" Rayen menaikan sebelah alis tebalnya.


"Baik, gue juga punya syarat. Kalo lo kalah, lo harus ngaku suka sama gue yang cupu ini, pada pandangan pertama di depan orang banyak. Terus jadi babu gue selama dua minggu dengan alasan bucin sama gue, dil gak?" Naya tersenyum miring.


"Dil"


"Dil" mereka saling berjabat tangan, sebagai tanda saling setuju.


°°°


"lo baru masuk, belum apa-apa juga udah ada masalah." kata Renata di pinggir lapangan basket, rencana nya sih pengen nyemangati Naya.


"jangan sampai kata! Gitu doang mah gampang, menjadi gini amat nasib gue."


"alah gak bakal, gue pasti menang." Naya menepuk-nepuk dada nya.


"iya-iya, terus sini tuh kacamata, lo gak bisa kan main basket pake kacamata." ujar Renata menarik kacamata Naya paksa.


"oi selow dong ngelepasnya, sakit tau gak."


"iya-iya maaf, nahkan agak enak di pandang. Tapi sayangnya tompel palsu lo itu yang ngebuat semuanya acur, lepas napa Yay."


"gak mau ah, gue lebih enak gini. Udah lah gue mau mulai, tuh cowok lambe kebo udah peletat-pelotot sama gue." tunjuk Naya pada Rayen yang memperhatikannya dan Renata dari tadi.


"yaudah hus hus sana, gue do'a-in moga kalah."


"yee marmut, gitu amat do'a lo." Naya berjalan ke arah Rayen.


"udah siap kan? Para murid udah ngumpul, yok mulai aja, jangan buang-buang waktu." kata Naya yang sudah berada di hadapan Rayen.


"WHAT!! Jadi ini murid baru kelas kita, sakaligus lawan tanding lo? Ck ck ck, tau gini gue tadi gak bolos." ujar Nathan salah satu teman Rayen, ia mengelilingi badan Naya, dengan mangut-mangut.


"hmm gue rasa ada yang aneh sama lo." Varel yang juga teman Rayen tapi beda kelas itu memajukan wajahnya kedepan wajah Naya.

__ADS_1


"mau apa lo?" sarkas Naya memundurkan wajahnya.


"kayaknya tompel lo itu palsu." ujar Varel mencoba menyentuh tompel Naya yang memang palsu, tapi segera di tepis oleh Naya, mata nya melotot menatap Varel.


"mana ada, tompel gue ini ori bukan kw, huh." sungut Naya kesal.


"kalau gitu, boleh gue pegang?"


"gak, gak boleh, tangan lo haram buat pegang tompel gue ini."


"cih, udah cupu kok belagu bange." cibir Varel.


"serah gue dong, hak-hak gue mau kek gimana." sahut Naya ketus.


"eh, nama lo siapa? kenalin nama gue Nathan. Cupu-cupu gini omongan lo pedas juga ya, hehe" Nathan sedikit tertarik untuk berkenalan dengan Naya.


"Kanaya." respon Naya sedanya, singkat, padat dan jelas.


"oh oke"


"nih cupu kok kelitan judes amat. Cocok nya jadi pereman pasar atau sejenis nya, tapi di liat-liat cantik sih." batin Nathan melirik-lirik malu ke arah naya.


"Nat napa lo, kasambet setan si cupu atau kesambet cintanya." bisik Varel pada Nathan.


"ah engga kok." kata Natha kembali malu-malu dan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"lah ini anak kok jadi goblog." batin Varel menatap aneh Nathan.


"ehem! Dari tadi gw mau ngomong gakada peluang melulu, asik kalian aja yang nyerocos." kata Rayen kesal, manusia yang dari tadi merasa terabaikan.


"hehe, mangap Ray." cengir Varel dan Nathan


"kuy cuy, kita siap-siap tanding, eh eh tunggu dulu kacamata lo mana? Hilang, terbang, rusak atau apa" kata Rayen memperhatikan mata Baya yang polos tidak mengenakan kacamata.


"pulang mau boker katanya, kepo amat sih jadi orang." Naya berlalu berjalan menuju tengah-tengah lapangan basket, di ikuti Rayen yang langsung mendapat sorakan dari para siswa yang menonton, terutama ciwi-ciwi penggemar Rayen.


Sedangkan naya? Ya begitulah, dari tadi hingga sekarang ia hanya mendapat gunjing-gunjingan. Tapi dia tidak peduli selama tidak menggagu kedamaian nya, keselamatan mereka masih aman.


•••


satu,,,


Dua,,, tiga,,, yesss.


permainan basket pun berakhir dengan skor empat : tiga dan di menangkan oleh...?


...

__ADS_1


TBC


__ADS_2