CUPU!! Bodoamat

CUPU!! Bodoamat
RAY PTDA TIADA DUA


__ADS_3

"si Rose" ujar Renata singkat.


"kenapa?"


"dia nyapa gue OMG, lo tau pertama liat dia itu! Gue yang sebagai cewek aja di buat meleleh! Cantik, baik, ramah, kaya, pintar. Uhh idaman untuk jadi teman dan pacar semua cowok" teriak Renata memegang pundak Naya dengan senang.


"dia ngajak gue berteman, sekali lagi OMG! Mimpi apa semalam gue" pekik Renata dengan tidak tahu dirinya. Letak yang ketidak tahuan dirinya adalah membicarakan orang baru sebagai teman yang sempurna di depan sahabatnya sendiri.


"Oh" Naya hanya ber oh saja, lalu dia harus apa?! Meski kecewa ia rasakan juga. Berpikir positif, iya berpikir positif! Mungkin Renata hanya kagumkan pada Rose dan berteman biasa, bukan bermaksud untuk menduakannya sebagai sahabatkan?


"lo tau? Dia ngajakin gue nongkrong di cafe buat semakin memperdalam perkenalan dan pertemanan kami" Renata merangkul Naya dengan terus tersenyum. Stop it tidak tahu kah Renata bahwa sahabatnya terluka mendengar keantusiasannya bercerita perihal teman baru yang lambat laun juga bisa berubah jadi sahabat untuk Renata.


"heum gitu yah, yaudah semoga lancar Tat" Naya melepaskan rangkulan Renata dari pundaknya, dan berjalan masuk menuju kelas tanpa permisi duluan ke pada Renata.


Renata yang melihat sikap Naya itu, hanya mengedikan bahu-Nya . Dan berlalu kelain tempat tanpa mengejar Naya, ia melihat Rose melambai padanya dan segera ia menghampiri.


Naya berbalik memastikan apakah Renata peka dengan perasaannya, namun bukan itu yang ia dapatkan! Malah ia semakin kecewa melihat Renata dan Rose saling tertawa di kejauhan.


"kali ini lo benar-benar berhasil melukai gue tat, luka yang tak berdarah tanpa lo sadari telah lo letakkan di hati gue" bisik Naya dalam hati dengan tersenyum kecut, tidak menyangka sama sekali.


"Cupu, malam tadi gue belum sempat ngebalas lo karena dah berani bilang gue kurang waras" kata Rayen mengagetkan Naya yang sedang dalam suasana melow itu.


" EH, BELATUNG ALASKA" Latah Naya yang hampir saja melakukan gerak refleks ingin memukul Rayen. Tentu saja ia latah, saat dia sedang berada di alam ngelamu dan batin-ngebatin, dirinya tertarik paksa oleh sebuah suara yang membuat mood nya makin nyusss jatuh sejatuh-jatuhnya.


"enak aja lo bilang gue belatung Alaska, yang ada ini gue adalah RAY PTDA tiada dua" Rayen bergaya cool, memasukan kedua tangannya ke saku celana.


Naya melirik Rayen dari atas sampai bawah, mata nya membola saat menatap bagian sepatu Rayen yang membuat mood-Nya naik drastis dari -0,00% sampai 9,99%


"ehem, emangnya PTDA apaan?" tanya Naya yang menahan tawanya seperti ingin membuang kentut di tempat keramaian.


"PTDA singkatan dari Pangera Tampan Dari Alaska" Rayen memperbaiki dasinya dengan satu tangan yang masih berada di saku celananya.


"Bwahahaha kebanyakan gaya lo!! Gak sadar pakai sepatu beda sebelah, pakainya kebalik lagi! Kiri di kanan, kanan di kiri, Ray Ray benerkan gue lo emang kurang waras" Naya tergelak menujuk-nujuk sepatu yang di kenakan Rayen, sungguh hari ini ia puas menertawakan Rayen.


Rayen menunduk memastikan apakah benar yang di katakan Naya...

__ADS_1


Blushh


Pipi Rayen memerah malu, belum lagi siswa lain yang melihat itu cekikikan. Oh no lunturlah sudah pesonanya sebagai PTDA. Gara-gara ingin cepat cepat ke sekolah untuk menjahili Naya dia menjadi tidak konsentrasi saking banyak nya ide jahil menyebalkan untuk Naya yang tidak ada ciutnya.


"shht ini semua gara-gara lo dasar Cupu menyebalkan" bentak Rayen kepada Naya, tangannya merambat menutupi wajah Naya. Ck sungguh memalukan!


"lho kok gue?! Ayolah Ray PTDA tiada dua kenapa lo ngetutup muka gue, harusnya muka li yang elo tutupin! Abisnya udah kayak tomat mau jatuh" Naya menurunkan tangan Rayen dari wajahnya.


"lo yah masih gak kapok hah!" Rayen berusaha menghilangkan wajah malunya itu dengan wajah garang.


"pfft daripada marah-marah mending lo buruan ganti deh tuh sepatu sebelum semua siswa tau PTDA nya bego" kata Naya mengulum bibirnya.


"ck, sialan" Rayen akhirnya beranjak pergi entah kemana Naya tidak ingin tahu.


•••


XI-IPA2


"Rayen Keenan Alaska" ujar Pak Deni yang sedang mengabsen kehadiran para siswa yang akan mengikuti mata pelajaran hari ini, Matematika.


"gak ada pak" sahut ketua kelas si Galang.


"kemana dia?" tanya Pak Deni dengan tatapan tajam, guru yang satu ini memang menyandang guru Killer di SMA Alaska.


"mana saya tau Pak, saya bukan bayangannya Ray" Malah Naya yang menjawab.


"Brak" Pintu di buka dengan paksa oleh Rayen.


"maaf Pak saya telat" ujar Rayen dengan tatapan tajam untuk Naya yang juga sedang tersenyum mengejek ke arahnya.


"yah duduk" sahut Pak Deni dengan malas.


Rayen berjalan ke arah bangkunya, tatapannya masih berpautan dengan tatapan Naya.


"Cupu! Lo duduk sama gue" kata Rayen pelan.

__ADS_1


Naya hanya mengendikan bahunya tidak peduli.


"ck ck ck" Rayen berdecik dan akhirnya ia duduk di bangku Nathan yang orangnya tidak kelihatan sama sekali batang hidungnya, padahal tadi pagi dia hadir. Ya apa lagi nama-Nya kalau bukan Bolos. Huft padahal Naya ingin menyumpal dan memberi wewejang buat Nathan agar tidak mulut ember tentang siapa dia.


"ngapain lo duduk sama gue, bukan nya lo jijik" sinis Naya, ia mengambil buku dan mendirikannya agar tidak ketahuan untuk melancarkan aksi tidurnya, karena mapel matematika sungguh kekalahannya.


"terserah gue, semua tindakan yang gue lakuin terserah gue" kata Rayen melakukan hal yang sama dengan Naya. Terbukti dia juga sangat malas mengikuti mapel tersebut.


"cih! Gimana lo udah bisa pakai sepatu dengan benar!! Gak kayak batita lagi kan, pfft!" ujar Naya menengkulupkan kepalanya.


"gak usah bahas itu lagi, sakit telinga gue dengar suara lo Cupu" ujar Rayen juga menengkulupkan kepalanya tapi dengan wajah yang menghadap ke arah Naya.


"gue punya nama" ketus Naya menghadapkan wajahnya juga ke arah Rayen.


"terserah gue lah, mulut mulut gue" balas Rayen dengan tersenyum simpul.


"dasar Belatung Alaska!"


"gue oh aja wahai cupu!!"


"si brengsek yang tidak menghargai barang milik orang!!"


"terserah gue lah Cupu, lo mau apa rupanya? Masih dendam lo sama kejadian kemaren, udahlah sepeda butut paling lo juga dapat di tempat pembuangan akhir tuh sepeda, atau hasil curian. di lihat dari segi apapun gak ada nilai istimewah" kata Rayen dengan nada songongnya minta di tabok terus di buang ke sungai nil."


"BRUK"


"LO YAH, JANGAN ASAL NGOMONG KALAU TIDAK TAU SEJARAHNYA"


...●●●...


...TBC...


...Kasih dukungan dan semangat buat cerita Kanaya dan Rayen yaaaw...


...Thank you for sweet readers...

__ADS_1


__ADS_2