
..Terkadang senyum bukan lambang kebahagian..
YES OR NO?!!!
...
"Yay lo gak mau ngelaporin perbuatan si genk cabe kambing guling itu, lo sampai pingsan Yay di pukulin tuh genk cabe kambing guling" protes Renata kepada sahabatnya yang terlampau baik itu, di bully dan di keroyok pun tidak mau melapor kepada pihak sekolah.
"Gak, gak mau gak suka gelay" sahut Naya acuh dan terkesan bercanda dengan mulutnya yang asik mengunyah gorengan harga serebu.
"Yay gue gak bercanda, kalo lo gak mau ngelaporin! Gue yang bakal ngelaporin" Renata merenggut menatap Naya yang, ya tetap acuh dan santuy.
"Tat jangan paksa gue, bikin ribet aja" Naya menatap kesal Renata. Sungguh Naya sedang malas berurusan dengan para guru, dia sengaja tidak melapor karena itu sangat membuat ribet, pikir Naya.
"terserah lo yay terserah, dasar keras kepala!!"
"prak"
Renata melempar sendok yang dia pegang dan beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi pada Naya. Bisa di katakan singkatnya Renata sedang marah.
"Tat tat kenapa? gue salah ngomong apa?" Naya menatap heran kepergian Renata tanpa menyadari kenapa sahabatnya tersebut. gak peka ihh!!
***
"Hebat lo yah, udah gue tolongin tapi gak bilang makasih" Rayen mensejajarkan langkahnya dengan langkah Naya yang berjalan menuju perpustakaan.
"Gue gak pernah minta tolong sama lo!" sahut Naya tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang menatap lurus.
"Yah tapi-kan gue udah nolongin lo, harusnya lo ngehargain dengan bilang makasih!!" kata Rayen yang sudah setengah matang dengan ekspresi kesal. Berdekatan dengan mahluk yang bernama Kanaya Zoetessa selalu membuatnya darting, begitupun sebaliknya. Huh!!
"Udah deh belaska!! Emang ucapan terimakasih dari gue bisa ngerubah lo jadi Jungkook BTS! Enggakan?!" Naya mempercepat langkahnya meninggalkan Rayen.
"Lo..." Rayen menggertakan gigi-nya merasa gemas dengan jawaban yang di lontarkan Naya.
"WOY TUNGGU, BELASKA APAAN??!!" Rayen meneriaki Naya dari jauh.
__ADS_1
"BELATUNG ALASKA. PUAS LO!!" Balas Naya berteriak juga dan menoleh kebelakang.
Penglihatannya menangkap objek di belakang Rayen yang lebih menarik dari Rayen, versi Naya.
Dimana sang sahabat yang akrab dia panggil Tat tat itu sedang bercanda berdua dengan Rose. Sungguh objek yang manarik sekaligus menyakitkan.
"Kenapa lo? Udah nyadar gue Ray PTDA Tiada dua" Rayen berkata dengan pd nya. Well well PD itu juga di perlukan dan berperan penting dalam keberanian.
Entah sejak kapan ia sudah berada di depan Naya! Yang pasti Naya tidak tau karena ia sedang melamun.
"Huh! bete gue ngeliat muka lo melulu!!" dengus Naya yang lamunannya sudah di buat ambyar oleh yang katanya si PTDA (Pangeran Tampan Dari Alaska) Tiada dua.
"Gue baru dengar ada yang bete ngeliat muka gue, biasanya juga jangankan bete, berpaling saja orang gak mau dari muka gue" kata Rayen memperbaiki letak dasinya, agar terlihat gaya cool.
Bagaimana dengan Naya!?? Jangan di tanya, dia sedang jijik menatap anak orang yang bernama lengkap Rayen Keenan Alaska ini.
"Sudah deh Ray! Lo kenapa selalu ganggu gue. Lo naksir yah sama gue?! Makanya gak mau jauh-jauh dari gue" Naya memasang wajah penuh selidiknya menatap Rayen.
"Ihh ogah, jangan asal nebak lo!" kata Rayen dengan nada sungguh OGAH.
Dan bukannya mendapat tanggapan dari Naya walau sekata, Naya malah sudah berlari memasuki perpustakaan sekolah yang sudah sangat dekat dengan jangkauannya.
Naya memilih-milih buku yang akan ia baca sambil menahan air mata yang hampir jatuh. Hati nya sedang tidak karuan, padahal tadi ia dan Renata sempat saling melempar tatapan, tapi Renata hanya acuh dan membuang muka. Begitu saja sudah membuat hatinya berdenyut.
Karena bingung memilih buku, Naya mengambil buku di rak secara acak. Ia berjalan menuju kursi dan meja yang paling pojok untuk membaca.
"Naya lo ngapain?!" sapa Nathan yang sudah berada di situ lebih dulu.
"Lo juga ngapain di perpustakaan??" Naya balik melempar pertanyaan.
"Ya ngebaca buku lah, ya kali buat tempat makan" jawab Nathan dengan terkekeh.
"Ya lo pikir aja, gue juga ngapain" ketus Naya dan duduk di depan Nathan.
"Hehe" Nathan hanya nyengir dan lanjut membaca buku. Entah buku pelajaran, cerita, atau Novel, hanya Nathan, Naya dan Tuhan yang tau.
__ADS_1
"Nat, masalah gue anak bungsu keluarga Samatha janga lo umbar-umbar " kata Naya dengan mimik muka memohon.
"Lo tenang aja, gue ngerti" ujar Nathan langsung setuju.
"Di mana teman lo?" tanya Nathan kepada Naya yang terlihat sudah mulai membaca.
Namun Naya tidak menyahut sama sekali, padahal telinganya mendengar jelas apa yang di tanya kan Nathan! Tapi rasa nya ia sangat egan membahas Renata.
"Nay, gue tanya sama lo?!!" kata Nathan lagi.
"Nat kita gak usah ngobrol ini di perpustakaan" ujar Naya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Telinganya mendengar Nathan, mulutnya menjawab omongan Nathan, mata nya sibuk ke arah tulisan di buku dan hebatnya pikirannya sekarang sedang melayang memikirkan sahabatnya. Sungguh kombinasi yang luar biasa.
"Hah!!" Nathan menarik nafas panjang dan menatap Naya nanar.
"Filosofi hidup, yang sayang dan selalu ada buat kita, nyatanya tidak selamanya bersikap seperti itu! Bisa saja dia berubah meskipun dalam hitungan detik" kata Nathan.
"Maksud lo!!?" Naya balas menatap Nathan bingung.
"Lo pasti tau apa maksud gue!"
"Lo tau apa yang sedang gue resahkan?" Naya berkata dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Gue tau" jawab Nathan singkat.
"Lo tau apa yang gue rasaain?" tanya Naya lagi untuk kesekian kali nya.
"Gue tau" Nathan mengannguk.
"Gue terharu sama lo!"
...
TBC
__ADS_1
Kanaya dan Rayen comeback, mohon dukungannya yaww✌
Thnkyou for sweet reading💫