
..Jam mata pelajaran terakhir..
"Bu saya ijin ke toilet" Naya berdiri mengangkat tangannya, meminta izin kepada Bu Alin yang mengejar di bidang PPKN.
"yah silahkan" sahut Bu Alin.
Naya berjalan seorang menuju toilet, masuk ke toilet pun seorang! Ya emang harus seorang, kalau ramai-ramai gimana ceritanya!
Naya yang selesai dengan kegiatan buang air kecil-Nya, mencuci tangan di wastafel. Ia memperbaiki letak kacamatanya beserta rambutnya yang terkepang dua.
"grep"
secara mendadak dan tanpa aba-aba, ke dua tangan Naya di cekal oleh beberapa orang dan di seret entah kemana. Kacamatanya terlepas di gantikan dengan sebuah kain yang menghalangi seluruh penglihatannya, mulutnya juga di bekap.
Naya sungguh tidak tahu ada apa ini?!! Ini semua terlalu tiba-tiba dan juga tadi ia tidak melihat sama sekali ada orang di sekitarnya. Sungguh ia merasa sedang di culik ninza hatori.
"kreat"
"BUGH"
"auh, siapa kalian" ringis Naya mengelus-elus bokongnya yang terasa sakit akibat di dorong dengan keras.
"dasar Cupu murahan, beraninya lo udah dekatin Ray kita, udah berasa ratu lo ya di sini. Songong" bentak Violet, salah satu fans garis keras Ray.
"asal lo tau, kita-kita sengaja ngebiarin lo berapa hari ini, karena apa? Karena mau bikin lo puas dulu setelah itu jangan harap bisa tenang, kalau masih ngedekati Ray" Cilla satu server dengan Violet. Ada juga beberapa teman mereka yang masih diam menatap Naya jijik, Lika dan Ira.
"kenapa kalian tidak menyerang Pangeran kalian itu? Kuping kalian gak dengar yah, waktu itu Ray yang nembak gue, bukan salah gue dong!!" sinis Naya berdiri, tangannya bergerak melepas kain yang menutup penglihatannya.
"Iri bilang bego!! Jangan asal ngenyeret orang! Emang Ray itu berharga banget apa! Sampai di bela-belain gitu, orang dia tampang kurang waras begitu. Pfftt sungguh TER-LA-LU" Naya berujar dengan nada mengejek dan meremehkan, membuat ke empat gadis yang menculiknya tadi tambah naik pitam.
"dengarin nih gusy, kalian kalo fans sama Ray jangan keterlaluan dong, masa Ray gak bisa dekat-dekat sama cewek. Ray itu hanya seorang remaja yang juga ingin kesenangan bebas, kalian jangan egois!! Boleh ngefans asal jangan keterlaluan sampai menyiksa cewek yang dekat sama Ray, aneh suer dah!" Naya mengeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, melihat para pengemar Rayen ini seakan ingin memakannya bulat-bulat.
"gak usah sok lo nasehati kita, Ray kita cuman boleh bersanding dengan Rose! Lo itu gak pantas, Cupu!!" Lika bergerak menjambak rambut Naya.
"asal lo tau kita gak ngebatasin sama siapa Ray dekat, tapi kita semua di suruh Ray buat ngehujat lo karena dia benci sama jijik dengan lo"
"Plak" Violet menampar Naya.
"oh gitu yah, jadi apa rencana kalian?" Naya tersenyum miring dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Emang pada dasarnya Violet menampar dengan sangat keras.
"berani lo masih ngomong, hm!!"
__ADS_1
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
Cilla menendang dan memukul Naya tanpa henti, di ikuti Lia, Violet pun juga bergerak menampari Naya.
"Bugh"
"plak"
"plak"
"lo jangan ganguin Ray!"
"Bugh"
"cupu murahan!"
"plak"
Naya tidak melawan dia hanya diam menerima serangan demi serangan, melawan pun rasanya percuma. Satu banding empat, bagaimana dia bisa menang! Badannya juga kecil.
"gak usah banyak omong lo!!" bentak Violet.
"gusy berhenti, ambil air kotor yang mengenang di dalam ember itu" perintah Violet menunjuk sebuah ember yang berada di pojok ruangan.
"oke" dengan sigap Lia beranjak mengambil ember yang berisi air itu dan menyerahkan kepada Violet.
"byur"
Violet dengan tidak berperasaannya menyiram Naya dengan air kotor itu setelah membuat badan Naya penuh memar.
"ingat lo gak usah dekat-dekat Ray, mati aja lo sana. Peran lo gak penting di sini!! Cuih" Cilla berludah di dekat Naya yang terbaring lemah.
"yuk gusy cabut" ajak Violet kepada teman-temannya.
"*BLAM"
"cklek*"
__ADS_1
Pintu tertutup dengan keras, di iringi bunyi pintu terkunci. Artinya Naya sudah terjabak dalam gudang terbengkalai yang lokasinya jauh dari bangunan-bangunan lain. Iya gudang, Naya memang di seret masuk ke dalam gudang yang sangat jarang di jamah para siswa, guru maupun penjaga. Yes nama-nya saja gudang terbengkalai.
"peran gue gak penting yah di sini?!" lirih Naya tersenyum miring.
"lo lucu Ray, lucu sama aneh, sekaligus menyebalkan! Lo juga hebat Ray, nyatanya lo gak seremeh itu" Naya kembali menyunggingkan senyum miringnya, entah apa maksudnya? Yang pasti di situ ada mengandung sesuatu makna.
"sedikit demi sedikit gue bakal tunjukin apa arti sebenarnya peran gue di sini!!" Naya perlahan menutup matanya berangsur-angsur dengan kesadarannya yang semakin menghilang, dan terjadilah tragedi jatuh pingsan akibat kekerasan dan pembully-an.
•••
Kring kring kring
Bel pulang berbunyi, namun Renata sudah kalang kabut mencari keberadaan Naya. Ia bertanya kepada setiap mahasiswa, namun tidak ada yang tau, karena pada saat itu mereka semua masih di dalam kelas mengikuti pelajaran.
"haduh Yay dimana sih lo!? Gak mungkinkan lo udah pulang duluan, gue yakin elo belum pulang" Renata mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"eh Renata, ayok kita ke cafe" sapa Rose menghampiri Renata.
"Rose maaf yah kayaknya hari ini batal deh, gue sibuk mendadak" kata Renata dengan mimik wajah tidak enak. Bagaimanapun Naya masih tidak ada, tidak setega itu ua membiarkan Naya.
"oh ok deh, lain kali yah" ujar Rose dengan tersenyum manis.
"ok, lain kali janji" kata Renata juga ikut tersenyum.
"kalo gitu gue duluan yah, bye" Renata beranjak meninggalkan Rose, saat ia melihat Nathan melambai padanya di kejauhan.
"yo'i" sahut Rose tersenyum.
"gimana Nat, ada gak?" tanya Renata pada Nathan yang juga ikut mencari Naya.
"gak, setiap ruangan udah gue periksa tapi gak ada tanda-tanda keberadaan Naya" ujar Nathan mengeleng pelan.
"hah! Yaudah kita pulang aja, siapa tau dia udah pulang duluan. Mungkin aja akan dia tiba-tiba mendapat kabar mendadak dan langsung pulang atau dia bolos" kata Nathan memberi masukan pada Renata yang sedang resah.
"hm kalo gitu biar gue cek, kalo gak ada dan besok Naya gak sekolah baru kita laporin ke guru" Renata berkata dengan sendu.
Rayen yang dari tadi tidak sengaja mendengar percakapan Renata dan Nathan pun nampak berpikir keras. Ia juga beranjak tapi bukan pulang, karena dia sudah mendapat satu kesimpulan dan kemungkinan.
●●●
**TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, ok❣ beri dukungan untuk cerita Naya dan Rayen♡
Thank you for sweet readers❣**