
*š¾**Let things take their courseš¾**
..biarkan hal-hal mengambil jalannya***..
greetings from Kanaya Zoetessa & Rayen keenan alaska
HAPPY READINGā£
ā¢ā¢ā¢
Naya memasuki rumahnya yang sudah gelap, mungkin orang rumah sudah tidur. Naya yang pulang hampir jam dua belas karena ia membatalkan tujuan awal dan memilih menuju rumah Renata.
"Naya dari mana kamu? Tidak biasa-Nya kamu pulang tengah malam, Papah tidak ingin sampai ada berita memalu kan tentang kamu kerena keluyuran" suara Tn. Dery terdengar dari belakang Naya di kegelapan.
"bisakah Papah sebelum berbicara menghidupkan saklar" kata Naya tanpa berbalik.
"jangan bersikap terlalu lancang kepada Papah, kamu bisa sebesar ini dengan kehidupan mewah hasil uang dari Papah" ujar Tn. Dery berjalan menghidupkan saklar lampu. Tn. Dery menatap penampilan Naya yang masih menggunakan seragam dari atas sampai bawah, penampilan Naya yang berantakan membuat Tn. Dery sudah mengira-ngira Putrinya berbuat hal yang tidak-tidak.
"Papah tidak perlu berpikir buruk untuk ku, Naya yakin pikiran Papah tidak sesempit itu" ucap Naya dapat menebak apa yang sedang di pikiran Papah-Nya, Naya bisa melihat dari mimik wajah Papahnya.
"ehem,,, sebaiknya kamu cepat membersihkan badan lalu makan, setelah itu Papah ingin bicara kepadamu. Kali ini Papah tidak menerima penolakan keras kepala mu itu" kata Tn. Dery mengalihkan pembicaraan sekaligus dengan tatapan mengintimidasi yang di layangkan untuk Naya......
"yes Papah" kali ini Naya menurut tanpa banyak bualan yang ia keluar kan.
Badan-Nya yang terasa lengket dan gerah membuat Naya enggan berbicara banyak. Belum lagi moodnya yang di rusak oleh Rayen dan sebuncah rindu untuk Bunah Sella. Ah,,, benar-benar membuat malas Naya.
Setelahnya Naya menaiki tangga, menuju kamarnya di lantai dua dengan gontai.
Memasuki kamar mandi dan berendam di bath up dengan air hangat. Uuhh sungguh ini membuat pikiran serta badan Naya rileks, nyaris matanya tertutup dan hampir terbang ke-alam mimpi kalau saja ia tidak ingat obrolannya dengan sang Papah.
"huh akhirnya aku di intrograsi juga sama Papah" gerutu Naya mengeringkan rambutnya.
Naya berjalan santai menuruni anak tangga, menggunakan piyama lama dan lusuh dengan penampilannya seperti biasa, hanya saja rambutnya ia gerai.
__ADS_1
"lihatlah anak yang sangat sombong tidak ingin ada marga samatha di belakangnya tapi masih bergantung juga pada keluarga Samatha, cih besar mulut" kata seseorang di belakang Naya, suara musuh bubuyutan Naya yang berbentuk sang Kakak itu membuat suasana santai Naya jadi rusak.
"ck" Naya hanya berdecik menanggapi perkataan Oliv. Melongos dan berlalu duduk di meja makan, bersiap untuk memenuhi nafkah perutnya.
"ingin sukses dan memastikan kalau marga dalam setiap keterunannya adalah Zoetessa! Oh adik gue yang cantik mengapa mimpi lo sangat besar, ayolah buang mimpi lo itu. Bagaimana bisa sukses dengan jerih payah sendiri sedangkan uang jajan saja masih minta!!" Oliv berkata dengan nada meremehkan.
"ups,,, benarkah barusan gue mengatakan lo cantik, sorry kebablasan, harusnya lo gak pantes sih dapat tuh pujian" Oliv memandang jijik Naya yang sedanng asik makan. Ehem,,, Naya masih sabar untuk tidak meneladani Oliv, karena ia sedang makan.
"lo mau tau alasan gue masih bergantung di sini?!!" kata Naya sinis saat sudah menyelesaikan makannya.
"Eheum. Bagi gue, lo itu benalu di keluarga, kenapa di sebut benalu? Ya tentu saja lo gak berguna!!"
"gue putri bungsu di keluarga Samatha, bahkan nama gue tercatat sebagai ahli waris kekayaan keluarga Samatha, bahkan berapa kali gue bilang tidak ada marga Samatha di ujung nama gue! Tapi tetap aja gue jadi ahli waris. So kalau di pikir sayangkan gue harus susah-susah banting tulang nyari uang, padahal di sini gue ahli waris" kata Naya penuh kemenangan.
"lo..." Oliv menudingkan jarinya telunjuknya, ia merasa geram mendengar perkataan Naya, yang menurutnya sengaja menyombong diri di hadapanya.
"APA!! DASAR NENEK ROMBENG, KALENG GAYUNG, KAKEK NGESOT, SUSTER CANGKUL!! GARA-GARA LO GUE JADI GAK MOOD KETEMU PAPAH, HUH" Naya kembali naik tangga dengan menghentak-hentakan kaki-Nya. Ia benar-benar tidak jadi menemui Mr. Dery, tidak apalah PHP kepada Papahnya sesekali.
Sedangkan Oliv melotot melihat kelakuan Naya yang berani berteriak di depannya dan pergi seprti anak kecil yang merajuk.
Tenggelam dalam buai mimpi,,,
Di butakan oleh ilusi, ibarat mengikat angin dalam genggam,,,
Arunika,,, menembus menyadarkan bahwa itu hanya angan yang hanya dapat di capai oleh khayal,,,
Terbangun mematung semua terasa Candramawa,,, berputar memaksa otak untuk bekerja kembali,,,
Hingga tersadar itu semua hanya imajinasi di dalam mimpi, khayal-khayalan yang membuat candu indahnya ilusi,,,
(by : Lilia Chan)
from : Kanaya Zoetessa
__ADS_1
ććć
"Yaya gue ikut sedih, bangkai sepeda lo udah gak ada, mungkin sudah di buang sama penjaga" teriak Renata dari jauh. Belum Naya sepenuhnya memasuki gerbang sekolah, tapi mahluk setengah jadi itu sudah menubruk memeluknya.
"gausah bersandiwara deh lo, gue tau lo itu senangkan karena sepeda butut gue udah hancur, udah musnah" ketus Naya melepaskan pelukan Renata.
"Yay lo itu sahabat ter the best, tau aja apa yang gue pikirinc cengir Renata.
"lo senang!! Tapi gue apa? Gue sakit ngerasa gak rela sepeda peninggalan Bunah Sella hancur gitu aja" kata Naya datar. Iyah datar tapi Renata sungguh dapat merasakan kegetiran setiap kalimat yang di ucapkan Naya.
"yaudah sih, lo cukup simpan di sini semua kenangan lo sama Bunah Sella lo itu" ujar Renata menyentuh dada sebelah kiri Naya.
"woi jangan sentuh dada gue juga kali, sialan Renata mesum" tepis Naya pada tangan Renata.
"wkwk sorry nyah" Renata cengar-cengir.
"nyengir mulu lo, gue tau ada sesuatu yang bikin lo senang!" tebak Naya, menatap Renata meminta jawaban.
"emang!" Angguk Renata senang.
"terus?!"
"si Rose" ujar Renata singkat.
"kenapa?"
...āāā...
...TBC...
...Beri Kanaya dukungan yawww......
...Thank you for sweet readersā”...
__ADS_1
...Sweet greetings from negri perhaluanš¾...