
"AYANG NATHANNN!"
Nathan menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya, begitupun Naya ia juga refleks menoleh. Dengan cekatan juga Nathan segera menutupi wajahnya menggunakan tas yang tersampir pada pundaknya
"Mampus, kuntilanak bibir monyong lima cm nongol." Lirih Nathan, yang masih dapat di dengar Naya.
"AYANG NATHAN KAMU SAMA SIAPA ITU." teriak seseorang yang disebut Nathan kuntilanak bibir lima cm tadi. Terlihat jalannya yang lemah gemulai atau berjalan dengan versi slay itu menghampiri Nathan dan Naya.
"Cepat Zoe kita cabut dari sini sebelum tu kuntilanak nerkam kita." Nathan menggenggam tangan Naya dan menuntunya berlari bersamanya. Naya menengok kebelakang dimana selain bangunan dan kendaraan yang berlalu lalang ada objek yang lebih menarik, seorang cewek dengan langkah slaynya itu kembali berteriak-teriak memanggil Nathan. Yang ada dalam pikiran Naya, bagaimana bisa suara teriakannya itu bisa tidak sinkron dengan cara ia menyikapi keadaan yang telah dialaminya tersebut.
Emm sesuai pemikiran Naya, lebih singkatnya itu dapat ia definisikan sebagai entropi di dalam fisika, yang maksudnya adalah ukuran ketidakteraturan. Dapat diambil contoh seperti keadaan yang sekarang Naya lihat, semakin cewek itu mengeluarkan suara kencangnya, semakin gemulai langkah dan gerak-geriknya. Hah cape!
Nathan terus menyeret Naya berlari, tak peduli sekalipun mereka sedang di tempat keramaian yang bisa saja menjadi pusat perhatian sebagian orang, tapi yang ia pikirkan terpenting dirinya dan cewe yang sedang ia seret berlari itu tidak bertatap langsung dengan Gisella!
"Sialan." Umpat cewek yang bernama Gisella itu menatap langkah Nathan dan Naya yang terus berlari, ia berhenti mengejar dan berteriak-teriak seperti orang gila, skincarenya terlalu mahal untuk setetes keringat yang mampir pada wajahnya.
.
Merasa Gisella sudah tidak mengejar lagi, Nathan berhenti otomatis Naya juga ikut berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
"Damn it!" Naya mengumpat sambil melirik Nathan tajam.
"Hah, Lo ngabis-ngabisin tenaga gue tau, emang kenapa sih lo kabur dari mahluk meletoy itu."
"Kalau mau lari ya lari aja, jangan ngajak-ngajak gue. Gak guna." Ketus Naya lagi, lari-lari di pinggiran jalan seperti tadi sungguh bukan kegiatan yang ingin ia lakukan hari ini, tapi karena mungkin ada permasalahan antara Nathan dan cewek meletoy yang ia sebut tadi, hari ini, tanggal ini masuk dalam blacklist Naya.
"Sorry gue nggak bermaksud buat lo capek." Ujar Nathan merasa bersalah.
"Sebagai cowo gue pantang dong ninggalin lo sendirian disaat posisi terakhir lo itu pas lagi bareng gue." Sambung Nathan lagi.
Naya memejamkan matanya sejenak. "Huh.."
"It's ok deh, nggak usah dibahas lagi, sekarang gue cuman pengen pulang."
"Jangan, ayo kita makan dulu Zoe." Cegah Nathan pada Naya yang sudah berbalik ingin menjauh.
__ADS_1
"Gue mau pulang." Kekeh Naya.
"Tapi..." Nathan menatap muka Naya dengan mimik mengiba.
"Nathan." Tekan Naya.
"Ok Zoe, gue pesanin taxi." Kalah Nathan akhirnya.
Jadilah dua remaja yang masih memakai seragam sekolah dan habis lari-larian itu membubarkan diri saat taxi yang di pesan Nathan sampai di lokasi mereka berada.
.
"Bruk" Naya mengehempaskan badanya ke ranjang, menurutnya hari ini juga sangat melelahkan, ditambah suasana rumah yang bak istana itu senyap dan sepi, menjadikan mood Naya semakin rusak tak berbentuk. Ia menyadari bahwa ia sendiri, sedangkan keluarganya pasti masih asik menikmati dan merayakan atas pertunangan Kakaknya. Ingat Kakaknya! Lantas mengapa ia malah sendiri disini? Jawabannya adalah karena pilihan.
"Sepi banget hidup gue ish." Naya melongos sendiri saat membayangkan keluarganya disana yang asik tertawa.
"Gue tuh kadang iri sama Kak Oliv, kalau dilihat-lihat kenapa bisa hidupnya seberuntung itu, sedangkan gue udah nggak jelas gini sedari kecil." Naya menyadari bahwa kepalsuannya selama ini, dan bahwa egonya yang keras melebihi batu dan karang, lalu setiap pilihannya membuat ia ribet sendiri.
"Apa gue perlu menjadi apaadanya, tidak ada lagi Naya yang pura-pura culun ketinggalan jaman dan ngikutin semua perkataan Mama dan Papa?" Naya mulai mempertimbangkan semuanya, Naya mulai ragu dengan dirinya yang sekarang.
"Tapi kadang gue capek terus-terusan begini tanpa ada yang gue pengen tuh terujud." Naya memejamkan matanya, memang dia baru menyadari bahwa musuh terbesarnya adalah ego nya sendiri, selama ini pikirannya mungkin terlalu egois. Sehingga membuat dirinya menyerah sendiri dengan keaadaan.
Disisi lain,,,
Ada seseorang yang mondar-mandir bak sterika sesekali menaikan celana kolornya yang kadang-kadang mau melorot.
"Aduh pusing, pusing, pusinggg." Rayen menjerit sambil menenggadah keatas dengan mimik mau nangis.
"Gimana caranya biar si cupu itu bisa suka sama gue, makin cepat kan makin bagus." Rayen mondar-mandir dengan berbicara sendiri
"ampun dah tuh cewek kepalanya ngelebihin keras HP Nokia" Rayen berhenti mondar-mandir dan berkacap pinggang sembari memikirkan sesuatu.
"sialan! gue kayaknya harus ngejar dan perjuangin dia duluan gitu?"
"ya iyalah goblok. Biar dia bisa luluh." Rayen bertanya dan menjawab sendiri, begitulah adakalanya diri sendiri adalah teman bicara.
__ADS_1
"yang gue tanya, gimana caranya biar gue nggak ngerasa ilfill dekat sama dia tolol."
"Arrghh." Rayen lebih mengajak rambutnya yang sudah acak-acakan.
"sialan, sialan, biasanya gue kejebak gini."
"Ziro sialan, si cupu sialan, semua sialan!" Rayen berjongkok sambil menacak-acak rambutnya lagi.
"aaah Mami Rayen pengen kecil lagi." Tiba-tiba Rayen berbaring di lantai kamarnya dan berguling-guling bak anak kecil yang dilarang makan permen.
Dilaporkan bahwa keadaan Rayen sekarang seperti orang yang over muatan dengan beban, padahal masalahnya cuman bagaimana agar Naya bisa suka sampai bertekuk lutut padanya.
Tiba-tiba lagi Rayen bangun dari acara guling-gulingnya secara sponta. Uhuyyy
"gimana sama Rose?"
Rayen menunjuk dirinya sendiri, kemudian berdialog,
"gue kan sukanya sama Rose."
"goblok goblok gue benar-benar dijebak Ziro, apesnya gue gak bisa lari dari tu perjanjian, kalau gue lari harga diri gue bakal diinjak-injak Ziro sampe jadi abu." Rayen kembali pada mode awal mulai berjongkok dan mengacak-acak rambutnya lagi dan lagi, tampaknya Rayen sedang mengalami stres ringan, tampaknya sih.
"Aaah lama-lama gue gila mikirin ini." Dengan spontan uhuy lagi, Rayen berbaring begitu saja dilantai kamarnya, memejamkan matanya sambil bergumam,
"Nggak lucukan kalo gue yang good looking and good rekening ini gila?"
"Mending turu bestie."
Akhirnya kamar Rayen itu menjadi senyap juga, dengan berisikan si pemilik ranjang king size yang tentunya dengan harga bukan kaleng-kaleng itu tengah tidur di atas lantai keramik tanpa ada alas apapun. Rayen kebiasaan!!
.
halooo, klo mampir jangan lupa,
#like, komen, vote, yaa seikhlasnya
__ADS_1
thnkyou kalian, satu like dari kalian sangat berpengaruh lohhh