
"Come on, don't make people difficult Belaska, lo masih belum puas ngeyuruh para fans berat lo, buat ngebully sama ngeroyok gue!!" sinis Naya melipat tangannya di dada.
"terus lo pura-pura baik dengan nolongin gue, agar gue itu kayak ngerasa berhutang sama lo! gitukan?!! lo itu licik banget!!"
"padahal gue gak ngeganggu lo lagi! should be gue balas lo!! but gue lagi malas dendam-dendaman yang membuat perkara baru!" lanjut Naya lagi, menatap Rayen dengan sorot mata tajam.
"Maksud lo apaan hah!! Gue emang ngenyuruh mereka buat ngehujat lo! Tapi gue gak pernah ngeyuruh mereka buat nyekap sama ngeroyok lo!!!"
"Dan buat nolongin lo itu, niat gue bukan sama sekali yang ada di otak lo itu" Rayen berkata marah, sungguh ia marah. Bagaimana tidak merasa jengkel saat dirinya di katakan yang tidak-tidak! Dia emang mengganggu Naya, tapi dia masih punya rasa manusiawi. Mana mungkin ia sekejam itu menyuruh melakukan hal manyakiti seperti itu.
"Halah mana ada maling ngaku!!! Udah ah cape gue ngomong sama lo" Naya berbalik dan hendak meninggalkan Rayen.
"cupu tunggu!! Asal lo tau gue gak sekajam itu" ujar Rayen sengit, ia menyentak pelan tangan Naya.
"mau lo itu kejam, atau lo gak sekejam itu! Lo tetap manusia biasa di mata tuhan!! wahai Belaska" Naya menghepas tangan Rayen dan kembali berbalik.
"dan tunggu nanti gue juga akan pergi, saat waktunya sudah tepat" kata Naya sebelum benar-benar melangkah pergi.
"shitt! Tuh Cupu makin Gaje banget!!" geram Rayen, menggertakan giginya merasa gemas.
°°°
Kata Dilan "jangan rindu, ini berat. Kau takkan kuat biar aku saja"
But... Bagi Naya rindu itu menyiksa, lebih menyiksa lagi saat rindu tidak mampu di ucapkan dan lebih sangat menyiksa lagi jika rindu hanya mampu di pendam dalam kebisuan.
Rasa rindu menyeruak tiba-tiba, membuat jiwa seakan membeku
Rindu, sebuncah perasaan yang tidak mampu di elak saat ingatan kebersamaan dulu kembali hadir
Hati hanya tertuju pada setitik nama yang selalu di harapkan kembali...
__ADS_1
Kenyataanya itu menyiksa, menyiksa dan terasa hampa mengingat rasa kerinduan itu tidak pernah sampai
Seolah ingin terus menyiksa.... Rasa rindu itu tidak pernah mau pergi dengan sukarela
Sekuat-kuat berlari dan menjauh, rindu ada lagi Bak bayangan yang selalu mengikuti...
Seakan memang sudah terikat erat... Bergerak sujung jari pun tidak bisa...
benar ini rasanya sudah terpenjara dalam harapan yang tidak pasti. Nyatanya ini sudah terjebak dalam nama yang di sebut lembah kerinduan yang menyiksa...
Biarkan, biarkan, biarkan saja...
Nanti rasa rindu itu akan hilang seiring dengan hati yang mati rasa...
begitu yang di rasakan Naya, rasa kerinduan yang meluap-luap saat matanya menyorot sebuah foto yang sedang ia usap-usap pelan. Naya memutuskan untuk pergi ke rumah Bunah Sella, daripada terus berjalan tanpa arah dan ujung-ujungnya bertemu dengan si Belaska, Rayen.
"Bunah Sella tega, Bunah Sella nyiksa Naya, Bunah Sella kejam, apa Bunah Sella tau? Naya kangen banget sama Bunah!! harusnya kalo Bunah sudah cape ngurus Naya, sudah gak mau lagi sama Naya! Bunah Sella seharusnya konfirmasi dulu, biar Naya tidak terlalu merasa seperti ini!!" gumam Naya, dengan mata berkaca-kaca.
"Naya lagi butuh Bunah Sella sekarang" lanjut Naya lagi dengan terus mengusap-usap foto Bunah Sella nya.
"apa Bunah Sella juga tau?!!"
" tidak ada yang baik-baik saja dengan sebuah kepergian apalagi dengan kepergian tiba-tiba tanpa kabar... sebut itu kehilangan
kehilangan yang menyisakan luka, kehilangan yang juga hanya menyisakan kenangan... kehilangan yang meletakkan kerinduan mendalam untuk sang pemilik hati yang di tinggalkan!
bukankah ini kejam?! Seorang yang di harap akan selalu ada tapi takdir memilih kata kepergian di tengah-tengah harapan itu... bukankah ini sebuah lelucon orang yang tulus selalu di jauhkan... oh come on gantilah kata kepergian itu dengan kata di pertemukan lagi!!" lirih Naya pada foto Bunah Sella nya, seolah foto itu adalah Bunah Sella yang nyata.
"Bunah Sella! Tau gak kulit Naya masih hitam persis seperti saat Naya merengek pengen punya kulit hitam" ujar Naya tersenyum memgembang, mengingat setiap momen kebersamaannya dengan Bunah Sella di masa lampau.
FLASHBACK ON
__ADS_1
12 TAHUN YANG LALU
"Bunah Naya pengen jadi hitam" Naya kecil bergelayut di kaki jenjang Bunah Sella yang sedang membuat cake blueberry.
"coba bilang apa alasan Zoe nya Bunah, pengen jadi hitam!? hem" Bunah Sella berjongkong menyamakan tingginya dengan Naya kecil.
"Naya gak punya alasan, cuman pengen aja dan stop it panggil Naya, Zoe! Naya gak suka itu seperti nama laki-laki" Naya kecil melipat tangannya di dada dengan mengerucutkan bibir.
"hahaha ok ok, tapi Bunah punya cara buat Naya jadi hitam" ujar Bunah Sella dengan mencubit hidung mungil Naya.
"gimana caranya Bunah?!" seru Naya kecil antusias.
"rahasiaa! kalo pengen tau, Naya harus makan sayur-sayuran dan minum susu biar cepat gede"
"gak mau, Naya gak mau titik!!" Naya kecil menggeleng kuat-kuat mendengar tawaran Bunah Sella.
"yaudah kalo gitu Bunah juga gak mau, bantu Naya supaya jadi hitam!"
"ihhh Bunah, ayolah jangan main tawar-tawaran seperti ini" rengek Naya kecil bergelayut manja.
"Ihhh Naya, ayolah jangan main rengek-rengekan seperti ini" kata Bunah Sella mengikuti gaya bicara Naya kecil.
"Bunahhh" kesal Naya kecil dengan mata berkaca-kaca
"Hahahaha, baiklah-baiklah akan Bunah kabulkan permintaan tuan putri Zoe" Bunah Sella tertawa lebar dan mengendong Naya kecil menuju kamar untuk misi membuat agar Naya berkulit hitam.
FLASHBACK OFF
"NAYA!!"
Sekejap nostalgia Naya lenyap, oleh sebuah suara yang memanggilnya...???
__ADS_1