DADDY, KAMI YANG MANA MOM ?

DADDY, KAMI YANG MANA MOM ?
BAB 16


__ADS_3

“Tia kenalan dulu sama kakak-kakak ini ya sayang...” pintanya kepada anaknya Tiara untuk berkenalan dengan saudaranya.


“Hayluuuu, ma tuh Thialla...tamu namana tapah ?” ucapnya dengan imut.


“Nam atuh Umna, pandil tata Umna” balas Ayumna memperkenalkan diri.


“atuh, tata Undha......” ucap Ayundha.


“Atuh, Tiano. Ituh aban Liano, aban Likia, dan aban Lian.” ucap Kiano memperkenalkan saudara kembarnya yang laki.


Yups.... Riano menggunakan pakaian biru muda kotak-kotak, Rian menggunakan baju merah kotak-kotak dan Dikia menggunakan baju Hijau muda kotak-kotak. Mereka hari ini bertema kotak. Hehe sama persis dengan kedua Ayah Varell dan Daddy Tyo.


**********************Happy Reading**********************************


Skippp ya.... lanjut yang di ruang tamu.


“Hallo, kalian sudah datang “ ucap Mommy Amira.


“Iya mba...” balas Mami Adinda.


Mereka berdua cepika cepiki.... dan dibelakang disusul oleh Zici dan anak-anak. Hal itu membuat kedua orang tua Syandra kaget melihat kedatangan kedua orang tua Tyo, begitu juga Syandra ia bingung bagaimana bisa kedua orang tua Tyo tahu bahwa mereka berkunjung kesini. Hal itu, terlihat jelas dimata Mommy Amira yang memandang puas wajah pucat Mami Farida dan Papi Bratomo. Bagaimana tidak, mereka menginginkan Tyo tapi malah datang ke mansionnya apa tidak salah tempat, pikirnya.


“Wah, ada jeng Farida dan suami serta anaknya ya....” sindir Mami Adinda.


“Hehehe iya jeng.... kita mau mampir main kesini” ucapnya gugup.


“Oh begitu, tumben sekali ada angin apa ini ?” tanya Mami Adinda yang terus menyindir kelakuan Farida.


“Kalian sedang bahas apa ?” sela Papi Retno yang juga gatal mengumpat keluarga Bratomo.


“Bahas pekerjaan” jawabnya enteng dan sancuyyy...


“Oh aku kira, kamu mau melamar Andro untuk putrimu haha” ledek Papi Retno.


“Haaaa..... Nggak kok mas” jawab Papi Bratomo gugup.


“Hadeh Kalo gini kan, susah juga ngomongnya” ucapnya dalam hati

__ADS_1


“Heiiii, anakku masih mudaa.... “ sela Daddy gama.


“Hahaha, muda-muda gini kan seru disuruh nikah, apalagi kamu sudah tua” ledek Papi Retno.


“Aku masih muda ya bukan tua” sarkas Daddy Gama.


“Kenapa jadi kalian yang ribut” tegur Mommy Amira.


“Hehehe......” yang dijawab cengegesan oleh mereka bertiga.


Melihat suaminya yang tampak gugup, membuat Mami Farida untuk pergi dari sana dengan alasan, ada tamu yang datang kerumah, sedangkan Syandra ia beralasan ada syuting di sore hari dan hal itu membuatnya harus pergi secepatnya. Tanpa mereka sadari Mommy Amira dan Mami Adinda menahan tawa, melihat keluarga itu gugup setengah mati.


Setelah kepergian ketiga manusia itu, barulah kedua wanita paru baya itu tertawa terbahak-bahak. Aneh tapi nyata..... bagaimana bisa ada orang seperti itu. Tyo yang penasaran pun mau tak mau membuka suaranya.


“Mom, Mam....... kalian kenapa tertawa setelah kepergian ketiga orang tersebut ?” tanyanya.


“Hahhahahha..... Rahasia ya mba hahahahha” jawab Mami Adinda.


“Hahahha iya loh...” tawa Mommy Amira.


“Hisss......” ucapnya kesal dan berlalu meninggalkan mereka yang masih tertawa di ruang tamu.


“Bagaimana, dad. Apa Clarissa sudah pergi kerumah Tya ?” tanyanya khawatir.


“Sudah sayang... aku ingin menghubungi Tya dulu, membujuk mereka agar mau tinggal dimansion ini.” ucapnya lagi.


“Ah, baiklah. Semoga mereka mau”ucap Mommy Amira semangat.


Mami Adinda dan Papi Retno yang belum mengetahui bahwa anak kembar Amira dan Gama sudah ketemupun, hanya memandang heran begitu juga dengan Zici. Apa yang terjadi, mengapa Mommy Amira begitu semangat dan antusias.


“Mbak.......”panggil Mami Adinda.


“Ya... ada apa ?” tanya Mommy Amira.


“Tya itu siapa dan mereka siapa ?” tanyanya kepo.


“Dind.......... putriku yang hilang sudah ketemu dan itu adalah Tya, mengenai mereka, dia adalah Ayu putri angkatku.... dia yang menemani Tya selama ini, mereka tinggal dipanti asuhan bersama, bekerja bersama, belajar bersama, apa-apa bersama, sampai dimana..........”

__ADS_1


Belum selesai Mommy Amira cerita, mereka dikejutkan dengan teriakan Dikia dan Ayundha....


“nenetttttt, tatekkkkk........” teriak kedua bocah itu.


“Ada apa ?”tanya Mommy Amira yang tak kalah kaget.


“Piling tue petahhh duwooo....” adu Dikia.


“ia nenetttt.... tanan tiano beldalah beditu duga tati dedet Thiala” adu Ayundha.


Mendengar hal itu, mereka semua bergegas kearah ruang bermain. Yang herannya bagaimana ada piring disana.... bukannya ia meminta ART untuk menggunakan piring khusus bayi. Ada apa ini ?


Sesampainya disana, mereka terkejut melihat darah yang keluar dari kaki dan tangan Tiara serta Kiano. Daddy Gama dengan cepat meminta ART mengambil P3K dikotak tempat biasa. Sedangkan Papi Retno dan Zici menggendong Tiara dan Kiano. Mereka menangis kesakitan, Ayumna yang melihat saudaranya kesakitan meniup-niup luka ditangan kiano begitu juga Riano dan Rian mereka meniup luka dikaki Tiara. Hal itu membuat Mami Adinda gemas dengan tingkah anak kembar itu dan parahnya anak kembar itu sangat mirip dengan putranya waktu kecil dan wajah Ayundha dan Ayumna sangat mirip dengan wajah mediang Amora.


“Ini tuan....” ucap Bi Sitih


“terima kasih bi.” ucap Daddy Gama.


Kemudian ia memberikan P3K itu kepada istrinya. Kedua istri itu dengan cepat mengobati tangan dan kaki Kiano serta Tiara.


“Apa ini masih sakit ?” tanya Mami Adinda kepada Kiano dan Tiara.


“Tatit net” jawab keduanya sesegukkan.


“Yauda... dibawa istirahat aja mereka dikamar tamu”. titah daddy Gama.


Akhirnya Kiano dan Tiara dibawa kekamar tamu untuk istirahat sedangkan kelima anak kembar itu mengikuti Zici dan Papi Retno. Begitu juga Mami Adinda. Sedangkan Mommy Amira kedapur untuk bertanya kepada ART siapa yang memberikan piring kaca kepada anak-anak.


“Bagaimana bisa sampai terjadi seperti ini, siapa diantara kalian yang memberikan piring kaca kepada anak-anak? Saya sudah bilang jangan menggunakan piring kaca, gunakanlah piring khusus bayi. Kenapa masih ada yang ceroboh ?!” Amuk Mommy Amira.


Semua Art menunduk takut, sedangkan salah seorang dari mereka hanya mengumpat kesal, ia sangat kesal melihat bayi-bayi itu.... apalagi mereka banyak memerintah seolah mereka ada tuan rumah disini, padahal hanya bertamu dan hal itu membuat ia sangat kesal.


“cuma segitu doang gara-gara anak kecil, kita di omelin habis-habisan” ucapnya dalam hati.


“Saya tidak mau ini sampai terjadi lagi”ucapnya tegas.


“Bi Sitih, Lia, Bi Arsih dan Yunur... tolong jangan sampai terulang kembali... atau kalian saya pecat secara serentak....” ucapnya lagi.

__ADS_1


“Baik nyonya... tidak akan lagi” jawab Bi Arsih dan Bi Sitih serentak.


Sedangkan Lia dan Yunur hanya menggangguk kepalanya saja sebagai jawaban patuh.


__ADS_2