
“Utuh... utuh.. anak Ayah Palell, tantik tali” ucap Tiara yang sekarang tengah bersama Bunda Ayu dan Gracia.
“tatak Tiala duga tantik tok” balas Bunda Ayu menirukan suara cadel khas bayi.
“ Hihi hi matasih.. matasih...” jawabnya malu-malu.
“Tiara kesini tadi dianterin siapa ?” tanya Bunda Ayu yang sama sekali tidak melihat Mami dan Papi Tiara.
“Tama Ayah Palell” jawabnya
“Lalu Ayah Varell dimana ?” tanya Bunda Ayu.
“Udah Balik Tantol ladi, und”jawabnya kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang hari, Tya mengurung dikamarnya entah iya merasa takut atau karena ia masih merasa sakit hati atas penghianatan Tyo setahun yang lalu. Namun, disisi lain Tya sangat merindukan sosok Tyo, hanya saja ia tak bisa mengekspresikan apa yang ada dihatinya.
Di sebuah kamar, nampak seorang gadis baru saja menyelesaikan aktifitas mandinya, ia segera bergegas berganti pakaian dengan pakaian formal karena hari ini ia akan pergi kesebuah butik yang ia rintis bersama Ayu. Setelah itu, ia berdandan tipis untuk memberi warna di wajahnya yang tembem ini hehe.
CEKLEK...
“Mommy.......” pekik Ayumna dan Ayundha.
Tya menoleh kearah pintu terbuka yang menampakan dua sosok gadis kurcaci yang sudah siap menggunakan seragam sekolahnya dengan rambut yang dikepang dua.
“Sayang..... kalian tidak turun sarapan ?” tanya Tya.
“Kami tunggu mommy,...Ayo kita salapan balang mommy” ajak Ayundha.
“Hm, baiklah sayang...” ucap Tya tersenyum.
“Mommy, apa mommy akan antal kami sekolah ?” tanya Ayumna mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat mommy nya.
“Hari ini kalian sama Oma Amira dulu ya, mommy akan ke cake shop bersama bunda Ayu.” ucap Tya
“Apa mommy masih takut beltemu Daddy Tyo ?” tanya Ayundha kepo.
Tya yang ditanya seperti itu hanya terdiam tanpa berniat menjawab, ia menggandeng kedua putri cantiknya menuruni tangga, mereka tak menggunakan lift karena posisi lift dari kamar Tya berada di ujung kamar sikembar Ayundha dan Ayumna sedangkan kamar Tya terletak didepan tangga, jadilah ia setiap hari naik turun tangga.
Sesampainya diruang makan, Tya disambut hangat oleh kedua orang tuanya dan juga sikembar, jangan lupa ada Baby Gracia yang tengah duduk di baby chair miliknya disamping kanan Ayu.
“Pagi Mommy.... “
“Pagi Daddy..”
“Pagi semuaa...”
Ucap Tya, Ayundha dan Ayumna bersamaan.
“Pagi..” jawab semuanya.
“Hali ini,mommy duduk diantala Undha sama Umna ya” titah Ayumna galak.
“Hahaha... baik lah,karena kalian sudah menjemput mommy kekamar.” ucap Tya.
“Hallo baby Cia.. “ sapa Ayundha.
“Hawoooooo hiak hiak” pekik Baby Cia.
__ADS_1
Hal itu membuat bubur yang ada di dalam mulut cia bersembur keluar. Ayu hanya menggeleng pelan melihat reaksi anaknya.
“Kalian berdua akan pergi ke cake shop ?” tanya Daddy Gama.
“Iya Dad. “ jawab Ayu dan Tya bersamaan,.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
“Halluww... Halluuwww.. Tiala tantik datan” teriak Tiara dari ruang penghubung ruang makan dan ruang tengah.
“Haduh, Tiara jangan teriak-teriak telinga oma sakit ini” ucapnya kesal dengan sang cucu yang berteriak seperti tarzan.
Mereka kemudian menyambangi keluarga Daddy Gama untuk sarapan bersama. Hari ini Daddy Gama dan Papi Retno akan pergi keluar kota bersama para assistennya masing-masing tetapi mereka memilih satu mobil. Sedangkan Mami Adinda dan Mommy Amira akan mengantar jemput anak-anak sekolah, begitu juga Tya dan Ayu beserta Baby Gracia yang akan pergi ke cake shop milik mereka.
*
*
*
*
“Sampai kapan kamu begini denganku Tya ?” tanya Tyo.
“Sampai kita tidak bertemu lagi” ucapnya marah.
“Tapi aku tidak bisa Tya, aku sadar aku salah. Aku akan perbaiki semua ini” ucapnya memelas.
“Aku tidak mau “ pekiknya.
“sekarang keluar dari cake shop aku, jangan pernah datang kesini lagi” ucapnya bergetar.
“sampai kapan Tya ?” ucapnya lirih.
“Maaf, jika penghianatanku membuatmu menjauh dari hidupku”. ucapnya lagi.
Disisi lain, Tya menangis sejadi-jadinya niat hati ingin menenangkan diri di cake shop tetapi tanpa diduga Tya menyusulnya datang kemari.
Sedangkan Tyo, sebelum ia meninggalkan Cake Shop, ia terlebih dahulu meminta pegawai Tya untuk memberikan bingkisan kepada Tya.
*
*
*
“Sudahlah Tya, kamu tenangi dirimu... jangan menangis lagi lihatlah matamu sebengkak itu” ucap Ayu
“Huwaaa huwa huwaa” ledek Baby Gracia.
“Lihatlah anakku saja pandai meledek mommy nya yang menangis seperti bayi besar” ledek Ayu.
“Kalian sama saja” ucapnya ketus.
“Kami memang sama, anak dan bunda harus kompak” ledek Ayu lagi.
“Aku harus bagaimana Ayu, dia selalu datang menghampiriku” keluh Tya.
“Tapi kamu senang kan ?” goda Ayu.
__ADS_1
“Siapa yang senang, nggak liat apa kalau ketemu dia aku selalu benci lihatnya.” ucap Tya ketus.
“Benci bisa jadi cinta, Tya” ledek Ayu.
“Hia... hiaa “ ucap Baby Gracia.
“Aduh, anak bunda tahu aja belain bunda tersayangnya..” ucap Ayu sembari mencium wajah anaknya.
“Iya... iya kalian berdua sedarah sedaging secintuy” ucap Tya kesal dan ia berlalu memasuki kamar mandi.
“Mommymu selalu begitu nak, ngambekkan tapi aslinya cinta mati” gosip Ayu pada anaknya.
*
*
*
Tring.........................
“Wah, ayahmu nelfon nak.” ucap Ayu.
Baby Gracia hanya menoleh sebentar kearah Bundanya lalu berpaling memainkan botol susunya.
“Cuek amat dah” ucap Ayu kesal.
“Hallo.... ayah Varell Ayahnya Graciaa....” jawabnya
“Hallo... Bunda Ayu Bundanya Graciaa....” jawabnya password Ayah Varell.
“Ada apa ?” tanya Ayu to the point.
“Kamu lagi sama Tya ?” tanya Varell panik.
“iya. Ada apa ? kenapa menanyakan Tya ? kenapa kamu panikan ? what happend, beb ?” tanya Ayu beruntun.
“Nanya ya nanya, nggak sebanyak itu juga Bundanya Cia” ucap Varell kesal sekaligus panik.
“Iyaaa ada apa ?” tanya Ayu lagi.
“........................................”
Entah apa yang disampaikan oleh Varell yang mana membuat Ayu teriak memanggil Tya yang saat ini tengah merancang hiasan kue yang dipesan pelanggan. Tampak Tya bergetar hebat, tak percaya apakah ini hanya mimpi atau bagaimana ? yang jelas ia ketakutan yang luar biasa.
Sedangkan disisi lain.
“Ba..bagaimana keadaan saudaraku dok ?” tanyanya pada sang dokter.
“Pasien kritis, dan pasien juga kehilangan banyak darah dan segera transfusi darah, namun golongan darah pasien sedang kekurangan stock. Pasien membutuhkan 3 kantong darah dan kita hanya punya 1 kantong yang tersedia sekarang”.jelas sang dokter tersebut.
“Ambil darah saya dok...” jawabnya kepada sang dokter.
“Darah saya juga bisa dok, darah kami sama...” jawab lelaki yang satunya.
“to..tolong selamatkan nyawa anakku” ucap wanita paruh baya itu.
Ia menangis, melihat salah satu putranya terbaring tak berdaya diatas brangkar dengan keadaan yang dimana ia membutuhkan transfusi darah.
“Mami tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Doakan semoga abang melewati masa kritisnya.” ucap sang anak bungsunya.
__ADS_1