DADDY, KAMI YANG MANA MOM ?

DADDY, KAMI YANG MANA MOM ?
BAB 18


__ADS_3

“Ayo.....” ajak Tya ia tidak sanggup berdua-duan dengan Tyo yang raja gombal mematikan aliran listrikk..


“Ayo...” jawabnya sembari menggandeng tangan Tya, sementara tangan sebelahnya membawa tas berisi pakaian mereka delapan.


Mereka berdua keluar dari kamar Sikembar enam dan berjalan menuju mobil tak lupa Tya mengunci pintu lalu menyusul Tyo yang duluan pergi ke mobil.


“Sudah siap ?” tanya Tyo yang kali ini mengemudi karena Varell menjaga Ayu dibelakang, sementara Tya iya duduk disamping Tyo.


“Siap ?!” jawab Tya dan Varell bersamaan. Sedangkan Ayu ia masih tertidur.


Mobilpun bergerak menjauh dari perkarangan rumah Tya dan Ayu keluar dari area perumahan menuju jalan raya.


*********************Ayo Mampir Lagi Gaes*********************************


Beberapa waktu berlalu, mobil yang dikendarai oleh Tyo dan lain-lain telah tiba di perkarangan mansion Daddy Gama. Hal itu membuat mereka terburu-buru turun hingga lupa bahwa masih ada Varell yang tengah membopong Ayu yang masih tertidur nyenyak.


“Mommyyy........ “ teriak Tya mencari sang mommy.


“Hei, kita tanyakan pada ART saja.” tegur Tyo.


ART yang melihat Tya segera menghampiri, dan langsung mengatakan dimana keberadaan orang-orang rumah. Mendengar hal itu, Tyo dan Tya menghampiri keluarganya dikamar tamu, sementara Varell iya membawa Ayu ke kamarnya yang telah disiapkan oleh Mommy Amira beberapa hari yang lalu.


CEKLEK !!!


“Kiano sayang....” panggil Tya seraya menghampiri anaknya dengan sangat khawatir begitu juga dengan Tyo.


“Tata tatit mum.....hiks..hiks.. “ adu Ayumna sesegukkan.


“Mana yang sakit sayang ?” tanya Tya lembut.


Yup, tubuh Kiano sudah tidak kejang-kejang lagi karena sudah diberi obat penenang oleh Dokter Sanciario. Tya merawat anaknya dengan baik walau sebenarnya bukan anak kandungnya tapi iya menyayangi mereka setulus hati. Apalagi keenam anak kembar ini sudah memberi warna kepadanya dan juga Ayu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan ?” tanya Daddy Gama kepada istrinya.


“Apa Tya mau tinggal bersama kita, dad ?” tanya Mommy Amira.


“Daddy tak tahu, keputusan ada di Tya. Putri kita sayang.” jawab Daddy Gama.


“Aku harap, ia mau tinggal bersama kita.... “ucapnya lirih.


“aku juga begitu, berharap mereka tinggal bersama kita”. ucap Daddy Gama


“Semoga ya dad.. mommy ingin memberikan kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan dari kecil.”ungkap Mommy Amira.


“Daddy juga mom....” ucap Daddy Gama.


Sementara dikamar Ayu, Varell menjaga kekasihnya dengan sangat baik dan enggan beranjak sedikitpun meninggalkan kekasihnya. Namun tak lama, Ayu melenguh pelan hal itu membuat Varell mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


“Ugh...... aku dimana ?” tanyanya.


“Kamu sudah bangun, yang ?” tanya Varell lembut.


“Aku dimana ?” tanya Ayu.


“Kamu ada dimansion Om Gama....” jawab Varell


“Mansion Daddy ?” tanyanya ulang.


“Iya sayang.....” jawab Varell


“ini diminum dulu” pintanya lagi kepada Ayu.


Ayu pun meminum air putih yang diberikan oleh kekasihnya, ia sangat lemas sekali entah kenapa semalam ia mendadak meriang. Merindu Kasih Sayang..... eakss eakss..... karena ia juga marahan dengan Varell yang mengijinkan anak-anak banyak makan es krim. Hal itu membuat anak-anak pilek dan bersin.


“Sekarang kamu istirahat lagi ya ?” ajak Varell


“Hm.... tapi...aku bosan dikamar” jawabnya lirih.


“Ta... piii......”


Belom selesai Varell menasehati Ayu, muncullah Mommy Amira membawa nampan berisi makanan untuk Ayu.


CEKLEK


“Hai sayang.... sudah bangun” ucapnya seraya menutup pintu dan berjalan menghampiri Ayu dan Varell.


“Hm, sudah mom” jawab Ayu.


“Kenapa kamu sampai demam seperti ini ?”tanya Mommy lembut.


“Kecapeaan Mom...” jawab Ayu tersenyum.


Ia sangat bersyukur bahwa Mommy Amira dan Daddy Gama menerimanya dan mengangkatnya sebagai anak. Walau ia sangat canggung pada awalnya sekaligus iri terhadap Tya yang telah bertemu dengan orang tua kandungnya, ia juga berharap kedua orang tua kandungnya juga menemukannya. Ia jadi rindu dengan kedua orang tuanya yang entah ada dimana. Kenapa ia ditinggalkan didepan panti Asuhan dan berakhir diusir oleh ibu panti begitu juga Tya. Mereka sama-sama di usir karena menolak diadopsi oleh sepasang suami istri kaya yang angkuh dan sombong bergelimpahan harta dan kekuasaan padahal itu tak seberapa jika dibandingkan dengan harta keluarga Daddy Gama dan kawan-kawannya.


“Sayang kamu kok melamun...” tegur Mommy Amira.


Ayu hanya menggeleng dan tersenyum tipis, ia tak ingin membuat mommy Amira terbebani dengan masalah yang ia pikirkan sekarang. Ia cukup bersyukur dan senang ketika mereka mengangkatnya sebagai anak.


“Tidak apa-apa mom” jawab Ayu.


“Ya sudah, mom suapin kamu untuk makan ya habis itu minum obat... ini sudah sore” bujuk Mommy Amira.


“Biar Varell yang suapin tan...” sela Varell.


Ia ingin merawat kekasihnya, namun ia juga ingin belajar bagaimana merawat istrinya kelak. Adehhhhhh gini amat dah.


“Haduh, biar tante saja.... tante ingin merawat putri tante. Kamu temu om dan Tyo dibawah saja” ucap Mommy Amira.


Mendengar perkataan Mommy Amira, hati Ayu menghangat betapa mommy Amira sangat menerimanya, padahal ia bukannlah anak kandungnya, tapi kasih sayangnya tak pernah membedakan ia dan Tya.

__ADS_1


“Ayu sayang..... mom suapin” ucapnya seraya menyendokkan bubur ke mulut Ayu.


Ayu menerimanya dengan senyum yang tak lepas dari bibir mungilnya. Melihat sang kekasih nyaman disuapi oleh Mommy angkatnya, ia pun tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan anak dan ibu itu.


“Semoga kamu bahagia Yu...” ucapnya tersenyum.


Varell kemudian mencari keberadaan Daddy Gama dan Tyo, ia tak tahu bahwa ada Papi Retno di mansion.


“Eh, ada Papi Retno...” ucap Varell yang baru menyadari jika Daddy Gama dan Tyo tak hanya berdua saja.


“Loh, kamu disini, ngapain ?”tanya Papi Retno


“Main pi....hehe “ ucapnya terkekeh.


“kencan dia pi, sama anak Daddy Gama” ledek Tyo.


“Haaa sama Tya, Lalu kamu sama siapa ? ohhhh astagaaaaa... jangan-jangan”


“Etsssss.... bukan pi, Tya punya Tyo.....” sela Tyo.


Ya masa, Tya sama Varell kan sama dirinyaa. Wah nggak baik ini mah kalau begitu.....


“Whatssss lalu Varell sama anakmu yang mana lagi ?” tanya Papi Retno kepada Besannya.


“Anak angkatku dong hehehe......”jawab Daddy Gama santai.


“Wahhhh, ada anak baru ya” celetuk Mami Adinda.


Mereka menoleh kearah Mami Adinda, yang menggendong Ayumna si gadis manja hahahahahahh...


“Mami........”panggil Varell kaget.


Siapa lagi ini yang datang ke mansion Daddy Gama ucapnya dalam hati.


HAI JANGAN LUPA MAMPIR YA KE LAPAK AKU... MAAF KALO UPNYA SELALU MOLORR HEHEH...


LIKE,


COMMENT


AJAK TEMAN BUAT MAMPIR LAGI OKEYY...


Sedikit info hehehe...


novel ke 3, yang belum tahu kapan akan di up


Disebuah rumah sederhana...


"Undaaaaa......" pekik gadis cantik nan gemoy


"Iya sayang, ada apa?" tanya sang bunda.


"Riri takut apa sayang ? Kakak Rara mana sayang ?" tanya sang Bunda pada anaknya.


"tatak Lala tedang di tamal unda, Tatak tidungna beldalah-dalah unda" ucapnya panik.


Hal tersebut, tentunya membuat sang Bunda panik mendengar salah seorang putri kembarnya mimisan. Seketika ia berlari menuju kamar putri kembarnya diikuti Riri yang berlari sesegukkan.


Sesampainya dikamar sang putri, Ia bergegas memeriksa keadaan anaknya.


"Sayang...." panggil sang Bunda.


"Undaaa.... Lala beldalah ladi" ucapnya lirih.


"Unda, tatak lala hiks... hiks " ucap Riri


Icellie menenangkan kedua putrinya.. ia sangat takut terjadi sesuatu dengan kedua putri kembarnya. Apalagi ia kini tengah sendirian dirumah, suaminya sedang pergi keluar kota tadi siang dan besok ia beserta kedua putri kembarnya akan menginap di mansion mertua nya.


"Gapapa sayang, bunda bantu bersihin darahnya ya.. nanti Rara minum obat biar cepat sembuh" ucapnya lembut.


"Unda.... ayah tapan pulang.. Lala lindu sangat" ucapnya mencari sang Ayah.


"Uwaaaa Lili duda lindu tama ayah" ucapnya tak ingin kalah dari sang kakak.


" Ayah kan baru pergi siang tadi masa kalian sudah rindu sayang" ucap Icellie sembari membersihkan noda darah dihidung Rara.


"Lala penen tidul dangan ayah unda..." ucapnya sedih.


Padahal Icellie tidak tahu apakah suaminya besok sudah balik lagi ke kota J atau tidak. Karena sang suami tidak memberi tahu.


Drtt...drttt...


Icellie mengambil handphonenya yang berada di atas meja belajar anaknya. Ia menatap layar handphonenya dan segera menjawab setelah tahu bahwa sang suami yang menelfon.


"Hallo bang..."


"Hallo yang, kamu dikamar anak-anak ya?" tanya sang suami.. Karena ia melihat background dibelakang istrinya.


"Ia bang......."


"AYAHHHHHHHH !!! Pekik kedua anak kembar ketika mendengar suara sang ayah.


"Hai, sayanggg" sapa sang Ayah.


"Ayah,tapan pulang adek lindu ayah ?" tanya Riri


"iya ayah tapan pulang ?" ucap Rara sambil menutupi darah yang mulai keluar dari hidungnya.


Ayah yang melihat sang putri kembar berusaha menutupi sesuatu dibalik telapak tangannya pun bertanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa tutup hidung ? apakah ayah bau, sayang?" tanya sang ayah.


Hehe ayahnya ini suka sekali bercanda, padahal mah kalau diluar kulkas 10 pintu. Berbanding terbalik ketika bersama anak dan istrinya. Kulkas 10 pintu berubah menjadi hangat.


"ayah, Lala tatit hiks.. hiks " adunya pada sang ayah.


"iya ayah, Lili tedih tiat tatak tatit hu..hu.." ucap Riri sesegukkan.


sedangkan Icellia, menenangkan kedua putri kembarnya. Sangat jelas bahwa ia merasa sedih melihat keadaan putrinya Rara. Bagaimana bisa putrinya itu mimisan setiap ayahnya pergi bekerja yang mengharuskan ayahnya menginap beberapa hari. Penyakit yang aneh bukan???.


"Dekk... apa itu benar ?" tanya sang ayah


"iya bang, Rara mimisan lagi" ucapnya tak enak.


Suaminya hanya menghela nafas panjang, putrinya ini selalu begitu ketika ditinggal dirinya keluar kota.


"Rara, sayang......" panggil sang ayah.


"iya ayah.." jawabnya


"Rara minum obat ya, terus tidur. Besok Rara dan Bunda serta adik pergi ke rumah sakit untuk berobat lalu, pulang ke rumah opa dan oma ya" titah sang ayah.


"tapi ayah, telumah na popa dan moma tan?" tanya Rara memastikan.


"iya nanti ayah susul ke rumah opa dan oma" jawab sang Ayah.


"tiap ayah, Lala batal ajak Lili dan Unda pelgi ke lumah tatit dan pulang ke lumah popa moma" ucapnya semangat ketika mendengar sang Ayah akan pulang besok. Sedangkan Icellie ia hanya tersenyum melihat semangat anaknya.


"Baiklah sekarang Rara istirahat ya dan jangan lupa minum obat".


"Baik ayah danteng" ucapnya semangat.


"Riri sayang...." panggil sang ayah yang melihat sang putri bungsu melirik kearah dirinya.


"ya yah .." ucapnya lirih.


"Riri, tolong bantu Kak Rara ya... nanti ayah pulang bawa oleh-oleh buat Adik sama Kakak ya" seru snag ayah.


"ayah, telius ?" ucapnya memastikan perkataan ayahnya. Wajah yang sembab nan cemberut itu berubah menjadi wajah berseri.


"Ia, ayah serius sayang..." jawab sang ayah..


" Tiap ayah lakcana kan" hormatnya ala tentara.


"HAHAHAHA oke sayang... Bunda mana ?" tanya sang ayah.


Riri pun memberikan ponsel ke sang Bunda, setelah itu ia mengajak kakaknya untuk berbaring agar bisa beristirahat.


"Dek.... besok ke rumah sakit ya ajak Rara periksa ke dokter Ciara ya" ucapnya kepada sang istri.


"Iya Bang, besok adek bawa ke dokter Ciara.." jawab sang istri.


"Baiklah kalau begitu kalian istirahat saja,biar besok tidak kesiangan. Jangan lupa bawa pakaian untuk menginap di rumah Mommy dan Daddy" ingatnya lagi


"Baik abanggg..... adek tutup telfon ya bang. Abang istirahat jangan begadang". nasehat Icellie.


"Siap Sayangku...." balasnya.


tut....tut....


Setelah sambungan terputus, Icellie memutuskan untuk merebahkan tubuhnya disamping Riri. Dimana Riri berada ditengah-tengah Bunda dan Rara saudari kembarnya.


Keesokkan harinya.....


"Sayangnya bunda... hayuu mandi, kita ke rumah sakit" ucap sang Bunda membangunkan kedua putrinya.


"............."


Hadeh, kedua putri kembarnya ini sangat sulit dibangunkan, bagaimana bisa keduanya masih nyenyak setelah dibangunkan bundanya dengan lembut.


"Yaudah, kalau kalian berdua gamau bangun bunda tinggal ya. Bunda mau kerumah opa sama oma" ancamnya.


".........."


Kemudian, Icellie meninggalkan kamar kedua putrinya dan pergi begitu saja. Ia paham dengan situasi yang ingin anaknya berikan.


CEKLEK...


"Undaaaaa..... " teriak keduanya.


"............."


" Lili, unda mana hiks ... hiks " tangis Rara pecah.


Niat hati ingin bercanda dengan bundanya, malah ia dan adiknya ditinggal.


"Lili endak tau tatak, hiks... hiks " jawabnya lirih dan tangisnya ikut pecah.


"kemon, tita tali unda tak" ajak Riri dan dijawab anggukkan oleh sang kaka.


Namun, baru saja mereka berdua turun dari tempat tidur. Pintu kamar terbuka dan muncullah seseorang yang sangat mereka berdua kangenin semalaman. Yups, dia adalah ayah dari putri kembar Rara dan Riri bersama sang bunda yang membawa nampan berdiri dibelakang sang ayah.


"Ayahhhhh..Undaaaaa....." pekik kedua buah hatinya


Keduanya bergegas menghampiri kedua orang tua, sambil menangis sesegukkan.


"Anak-anak ayah" ucapnya tak lupa mencium kening kedua putrinya.


Yup, semalam setelah video call dengan kedua buah hatinya dan istri, Ia menyelesaikan pekerjaannya untuk sisa pekerjaannya ia berikan kepada orang kepercayaannya dan ia pulang sendiri pada dini hari. Ia ingin mengantar putrinya untuk berobat dan juga menemui keluarga besarnya di weekend ini.

__ADS_1


__ADS_2