
Seorang gadis dengan telaten membersihkan badan seorang pria yang sudah 3 bulan ini masih setia dengan tidur panjangnya. Ia tak menyerah untuk membersihkan, menjaga, dan merawat pria yang tertidur lamanya.
Tya, gadis itu sudah seperti istri bagi pria tersebut, dimana ia mengurusi pria yang entahlah kapan ia akan bangun.
“kamu lama sekali bangun, aku lelah mengurusimu.. besok aku akan pergi ke negara yang sangat ingin aku datangi dan aku akan menetap disana memulai kehidupan baru bersama sikembar-kembar”. keluhnya.
“aku akan menjalani hidup tanpa kalian semua, oh ya sikembar sudah dapat daddy baru loh... dan mereka sangat menyukainya, tolong restui kami ya....” ucapnya lagi dan bersiap akan pergi namun....
Tiiiiiit......tiiiiit...........
Bunyi monitor.
Tya yang kaget langsung saja panik, ia masih melihat layar monitor dan beralih melihat Tyo.
“Aduh gaswat, ini monitor bunyi petanda buruk ya ? huaaa aku harus gimana ? dokter mana dokter “ panggilnya pelan.
Hingga akhirnya ia memilih berlari keluar memanggil sang dokter.
Selang beberapa menit.
“Anda tunggu disini biar kami yang urus..” ucap suster meminta Tya untuk menunngu didepan.
“aduh kalau saya diluar yang di dalam siapa ?” ucap Tya kesal sekaligus panikan.
“Ada kami bu” jawab suster sabar.
“aduhhhh lalu aku yang ngurusin dia selama 3 bulan enggak dibolehin masuk gitu ?” tanyanya heran.
Dia yang jagain kenapa dia yang tidak boleh masuk juga. Kan heran... mau protes eh keburu susternya diteriakin dokter.
“maaf bu permisi” ucap suster
BRUKKKK>... (bunyi pintu ditutup dengan keras)
“Alamak sadis juga si susternya” ucap Tya kesal.
Tya menunggu dengan rasa tak sabaran, padahal baru 5 menit yang lalu suster dan dokter masuk tetapi dengan tak sabaran ia mengetuk pintu kamar rawat Tyo dan berkata :
Tok.... tok...
“Sus, Dok.... udah selesai belum.....”
20 menit kemudian....
Tok... tok... tok...
“Susterrr... sudah belum.. saya mau pergi ke toko nih, nanti telat gimana ?” tanya Tya kesall.
Tok... tok.....
Sedangkan di dalam ruangan.
“Aduh, wanita itu kenapa sih. Ketak ketok ketak ketok” ucapnya kesal sekali.
__ADS_1
“yang sabar sus..”ucap sang dokter Sanciario setelah selesai memeriksa keadaan Tyo.
“Ya gimana... ketak ketok.. suara sepatu kuda” ledeknya terkekeh geli.
Tyo yang mendengar itu hanya menatap bingung, siapa yang dimaksud kedua orang berpakaian putih itu. Ia baru menyadari bahwa dirinya hanya bertiga dengan suster dan dokter yang entah siapa, ia lupa tapi merasa kenal.
“maaf dok, saya kenapa ada disini ?” tanyanya heran.
“ Ha... kamu nggak ingat ?” tanya Dokter Sanciario heran.
Karena tidak ada tanda\=tanda amnesia didiri pasiennya, mana mungkin hasil pemeriksaannya salah. Yang ia pahami Tyo hanya kekurangan darah akibat kecelakaan itu dan membuat ia kehabisan darah. Tapi ini ia menanyakan ia kenapa berada disini ? what the hell ???
Sementara disisi lain.
“Aduh, papi lama banget geraknya” ucap Mami Adinda kesal.
“Aduh mami... ini jalanannya macet banget, bagaimana sih” jawab papi Retno yang ikutan kesal.
Sementara Zici dan anaknya memilih ikutserta mertuanya ke rumah sakit, namun karena macet mereka harus menunggu didalam mobil yang bergerak seperti siput. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Yang mana ada beberapa pengemudi berteriak kesal, bahkan mengumpat dan menyumpah serapah. Sedangkan pengendara motor mereka memilih melintas di atas trotoar untuk menembus jalanan macet. Sedangkan para polisi sudah aduhai, kesal sekali.
Sudah satu jam lebih mereka berada dijalanan itu, entah apa yang terjadi mendengar sirine ambulan membuat mereka bertanya-tanya.
“iiii tuiiii tuiii.. bunina” pekik Tiara yang mendengar sirine ambulan.
“Aduh nak, duduk ya jangan berdiri begitu” tegur Zici kepada anaknya.
“tualana tayak tidu mi, lutu tekali hihi....” jawabnya girang dan sekali-kali mengikuti bunyi suara sirine ambulan.
“terserah kamulah sayang... mami diem aja udah hehehe...” jawabnya
“Uh, akhirnya jalan bebas dari macet” ucap Mami Adinda lega.
“iya, jadi mami nggak ngomel-ngomel lagi.” jawab sang papi.
“Yah, enda dengel tuala tuiit tuiit ladi” ucap Tiara murung.
“Kamu teriak tuiit tuiit dikira orang kamu minta duit, cu “ ledek Mami Adinda kepada sang cucu.
“enda papa toma, ental benelan ditasik tuit.. puji Tuhan” ucapnya santai.
“Nggak ada yang mau kasi kamu duit gratis” ledek Mami Adinda lagi.
“ Pletiden na yang tasik tiala tuit anyak, api toma dangan mau ya” ujarnya.
Hal itu membuat Papi Retno terkekeh mendengar ucapan sang cucunya yang random bangetan. Sedangkan Zici ia menepuk keningnya tingkah siapa yang turun kepada sang anak.
Dua jam berlalu, kini mereka sudah sampai di loby rumah sakit. Papi Retno memintatolong sang satpam untuk memarkirkan mobilnya diparkiran. Setelah itu mereka bergegas keruangan Tyo.
Di kantor Daddy Gama....
“Opa.....” panggil Ayumna yang baru datang bersama semua saudara kembarnya.
“Iya sayang.... kalian sudah sampai ? Oma Amira mana ?” tanyanya pada sang cucu.
__ADS_1
“Oma lagi ketemu pelempuan didepan Opa” jawab Ayumna.
“Perempuan siapa ?” tanya Daddy Gama.
“tidak tahu opa.” jawab Riano.
“Ya sudah kalian berganti pakaian sana, diruangan opa” titahnya.
Semua anak-anak kurcaci memasuki kamar pribadi opanya, Ayumna dan Ayundha memilih berganti pakaian di kamar kecil milik mereka berdua. Kamar kecil itu dibuat oleh Daddy Gama untuk anak-anak perempuan karena disana lengkap dengan pakaian ganti mereka jika Ayumna dan Ayundha main kekantor.
Selang beberapa menit, Mommy Amira memasuki ruang suaminya.
“anak-anak dimana ?” tanyanya.
“Lagi ganti pakaian” jawabnya singkat dan menghampiri istrinya yang tengah duduk di sofa sembari menyalakan tv diruangan itu.
“Apa kamu tidak menjenguk Tyo dirumah sakit ?” tanya sang istri kepada suaminya.
“Habis ini kita jenguk mereka bersama ana-anak kurcaci” jawab Daddy Gama.”
“Omaa.... kami lapal nih” adu Rian mewakili saudara-saudarinya.
“Baiklah opa pesan makanan dulu ya” ucapnya lalu beranjak mendekati telepon kantor, ia segera meminta OG untuk membawa makanan khusus untuk mereka.
Tok...tok...
CEKLEK..
“permisi tuan nyonya... saya mengantar pesanan tuan besar” ucapnya ramah.
“Baik, aturlah dan ikut makan bersama kami” pinta Mommy Amira.
“ta..tapi nyonya..” ucapnya ragu setelah ia menata makanan diatas meja.
“Jangan sungkan... mari makan bersama” ucap Daddy Gama.
“Ayo, onty makan belsama kami” ajak Riano
“Iya Onty, ayo makan belsama kami...” ajak Ayumna dan Ayundha bersamaan. Sedangkan saudaranya yang lain menarik Gadis itu untuk duduk makan bersama.
“Huft, baiklah sayang..” ucapnya pasrah.
Mommy Amira dan Daddy Gama tentunya sangat senang, Mommy Amira berniat menjodohkan Andro dengan Ayana karena menurutnya serasi dan Mommy Amira jatuh cinta dengan kesederhanaan Ayana yang baru tiga bulan ini bekerja diperusahaan suaminya, karena Ayana pernah menolongnya dari pencopetan ketika Mommy Amira berjalan-jalan bersama Mami Adinda dan sahabatnya yang lain.
Ayana Safira gadis berusia 18 tahun yang baru tiga bulan lalu lulus SMA, ia tidak melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Ayana hidup sebatang kara namun ia tinggal di salah satu panti asuhan yang merupakan panti asuhan yang sering Mommy Amira dan Andro kunjungi. Keluarga Daddy Gama merupakan donatur terbesar di panti asuhan tempat Ayana tinggali. Namun Ayana diusir oleh ibu panti penggurus baru karena baginya Ayana akan menghambat dirinya untuk kaya dengan uang donatur dari Daddy Gama oleh sebab itu ia mengusir Ayana dengan fitnah keji.
Back to Story :
Mereka pun makan dengan lahap, Ayana bersyukur bosnya tidak segarang yang ia dengar dari rekan-rekan seniornya. Ia berharap akan betah bekerja di perusahaan ini walau hanya sebagai OG ( office Girl ).
“Makan yang banyak nak” ucapnya marah kepada Ayana.
“ini sudah banyak nyonya, Aya sudah kenyang” ucapnya tak enak.
__ADS_1
...HAPPY READING GUYS...