
Kini Ayumna telah sampai didepan kamar sang daddy, sebelum mengetuk pintu ia melihat kiri dan kanan. Merasa aman ia pun mengetuk pintu dengan sangat keras.
BUGH....BUGH...BUGH...
“Daddy, ayo makan” ucap Ayumna setengah berbisik.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ayumna yang cebol pun mendelik tak suka dengan tak ada sahutan dari sang daddy. Hingga memutus dirinya untuk masuk.
“Daddy Umna ijin masuk” ucapnya pelan.
KLEK....
“Sunyi sekali, daddy dimana ya ?” Lampu mana lampu ?” ucapnya sendiri.
Ayumna berjalan pelan tak lupa meraba-raba sekitarnya. Hingga kaki kecilnya tak sengaja tersandung meja kecil milik mommy nya.
DUG
“Aduh, cakit tekali” ucapnya yang terkadang masih menggunakan bahasa bayinya.
“Daddy dimana, hiks Umna takut gelap” ucap Ayumna menangis.
Sedangkan sang daddy tak mendengar tangisan anaknya yang mengadu takut kegelapan. Tak lama seseorang muncul dengan dahi yang mengkerut.
“Apa mas Tyo keluar ?” tanyanya dalam hati.
Namun, saat ia memegang ganggang pintu bermaksud untuk menutup pintu. Ia mendengar suara tangisan anak kecil.
“Suaranya dari dalam kamar ? tapi suara siapa ?” tanyanya dalam hati.
Tya tidak mengetahui bahwa salah satu putrinya tidak ada ditaman belakang yang mengakibatkan Tya tidak mengetahui yang berada didalam kamar adalah suara tangisan Ayumna.
“Ugh, gelap sekali. Apa mas Tyo lupa menyalakan lampu ?” tanya Tya heran.
Lalu Tya meraba-raba sekitar untuk mencari letak saklar lampu kamar. Namun, ia dikejutkan dengan seorang anak menangis ketakutan dan berteriak histeris, hingga ia berteriak.
“Siapa ???” teriak Tya
Ayumna yang mendengar suara mommy Tya segera membalas teriakan.
“MOMMY, Umna takut hiks.. hiks...” teriak Ayumna.
__ADS_1
“AYUMNA !!!” teriak Tya panik. Segera ia mencari saklar lampu dan setelah dapat ia langsung menyalakannya.
TEK !!!
Terlihatlah, suasana kamar yang sudah terang menampakkan Ayumna yang menangis dipojok meja dirinya. Namun, yang lebih dikagetkan adalah suami terletak di depan pintu kamar mandi dengan keadaan tak mengenakan.
Hal itu membuat Tya berteriak memanggil orang-orang dibawah sana. Namun karena mereka semua berada ditaman belakang jadinya tak ada satu pun yang mendengar teriakan Tya.
Tya segera menghampiri Ayumna yang masih ketakutan, ia membawa Ayumna kedalam pelukkannya dan setelah itu berjalan menghampiri Tyo yang sudah tak sadarkan diri.
“Mas Tyo ... bangun mas” ucap Tya sembari menepuk-nepuk pipi suaminya.
“Daddy kenapa mom ?” tanya Ayumna sesegukkan.
“Umna dengar mommy, kamu ke taman belakang panggil Opamu keatas. Tolong bantu mommy daddy tidak sadarkan diri” titah Tya pada putrinya
“Baik mommy” jawab Ayumna patuh dan berlari keluar.
Sedangkan Tya ia terus membangun suaminya, namun ia merasakan bila badan suaminya sangatlah panas, dengan wajah yang babak belur ulah Papi Retno. Tya baru menyadari apa yang dilakukan oleh Papi Retno.
Tak lama kemudian, datanglah Daddy gama, Papi Raffa, Andro, Alvaro dan juga Papi Retno.
“Ada apa Tya ?” ucap Daddy GAma.
Papi Retno yang melihat anaknya tak sadarkan diri, ia langsung menelepon Dokter Sanciario. Walaupun ia masih kecewa dengan sikap anaknya, tetap saja hati seorang ayah akan sakit melihat anaknya terbaring tak sadarkan diri karna dirinya.
Sedangkan dibawah, tampak Ayumna masih menangis dipelukan oma Amira. Ia menangis ketakutan akibat ia phobia gelap, semua saudara kembarnya ikut merasakan ketakutan Ayumna.
“Umna, jangan nangis lagi” ucap Ayundha lirih.
Diangguk semua saudaranya Dikia dan Kiano yang paling cuek dan dingin hanya menatap tanpa ekspresi. Walau begitu mereka berdua paham apa yang dirasakan saudari kembarnya.
“Ayumna sini sama aunty Aya, Umna mau liat bintang jatuh tidak ?” tanyanya
“Undha endak diajak onty ?” tanya Ayundha.
Ia juga ingin melihat bintang jatuh, apa itu ada ? begitulah Ayundha yang selalu penasaran dengan hal baru dunia orang dewasa.
“Boleh kok, ayo kalau mau lihatnya” ajak Ayana
Ia menggendong Ayumna yang gempal badannya akibat banyak makan namun tetap imut, begitu juga dengan Ayundha walaupun badannya tak sesemok Ayumna tetapi Ayundha memiliki badan yang berisi sangat menggemaskan.
__ADS_1
Melihat kepergian ketiga wanita berbeda usia itu, para orang tua membereskan tempat-tempat yang dipakai dengan dibantu oleh para maid.
“Tini, tolong bantu saya” titah Mami Rara kepada Tini yang hanya diam melihat orang lain bekerja.
“Maaf, tapi anda tidak bisa memerintah saya” ucapnya ketus dan berlalu.
“Lah, pembantu kurang ajar itu. Orang lain kerja dia nongkrong. Nikmat sekali hidupmu nak” ucap Alana kesal melihat Tini yang mengacuhkan permintaan tolong dari sang mami.
“Ala, bantu ya mi” ucap Alana berniat membantu sang mami membawakan alat-alat masak ke dalam rumah.
“Tidak nak, kamu sedang hamil. Jangan banyak gerak” ucap Mami Rara menolak bantuan anaknya.
“Istirahat saja non” ucap Bibi Sitih yang datang membantu Mami Rara
“makasih bi” ucap Mami Rara dan Alana bersamaan.
Disisi lain,Tini yang sedang asyik bertelpon tak sengaja menabrak tubuh gempal Tiara dan Zayanzia.
BUGH...
“Aduh, cakit” teriak Zia kesakitan
Karena pantatnya mencium batu kecil yang menghiasi taman samping. Sedangkan Tiara kepalanya membentur meja taman sehingga mengeluarkan darah segar dipelipisnya.
“dasar bocah nakal..!!!” ucapnya kesal dan berlalu pergi tanpa ada niat menolong Tiara.
“Tatak tial palana beldalah..hiks..hiks” ucap Zia sesegukkan
“Pala tiala pucing jia”. keluh Tiara
“MAMA... MAMA tulung atak tiala palana bolong” teriak Zia yang melihat Mama Nia yang panik melihat anak dan keponakannya terjatuh.
Ya, Amnia melihat salah seorang maid menabrak kedua anak kecil tapi ia tak melihat jelas siapa orangnya. Ia segera menghampiri anaknya dan juga keponakannya.
“Astaga, Tiara pelipismu keluar darah. Ayo tante obatin lukamu” ucapnya lalu menggendong kedua bocil tersebut.
Amnia bergegas, membawa keduanya keruang pertemuan keluarga besar-berbesanan. Sesampai disana ia meminta Bi Enda mengantarkan obat P3K keruangan pertemuan.
“Apa yang terjadi, Nia ?” tanya Amnio yang melihat anaknya terluka.
Amnia menceritakan kejadian yang membuat putrinya dan juga keponakannya terluka. Mendengar hal itu, Daddy Gama sangatlah marah, ia meminta Bibi Enda untuk memanggil semua maid nya dan berkumpul diruang interogasi dalam waktu 5 menit.
__ADS_1
Bi Enda pun bergegas keluar dan memerintah semua maid untuk berkumpul diruang interogasi. Banyak yang bertanya ada apa sebenarnya sehingga mereka dipanggil keruangan interogasi. Pasti ada masalah yang sangat-sangat fatal tapi siapa yang melakukan itu semua.
5 menit kemudian, semua maid telah berkumpul diruangan interogasi. Dengan pikiran masing-masing menanyakan apa yang telah mereka perbuat, namun salah seorang dari mereka bersikap santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.