
Sejak hari itu, hari dimana keduanya terluka dengan cara masing-masing. Elion yang kembali sibuk dengan pekerjaannya, meski saat ini dia dan Reina berada di kota yang sama. Bahkan daerah yang sama. Toko kue Reina saja bisa terlihat dari tempat dia bekerja. Namun, keduanya saling acuh bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal. Bahkan beberapa kali Reina datang untuk mengantar pesanan kue, keduanya hanya saling acuh seolah tidak mengenal satu sama lain.
Semuanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Elion yang sibuk dengan pekerjaannya dan Reina yang sibuk dengan toko kue miliknya. Tidak ada lagi harapan di hati keduanya. Reina yang berpikir jika Elion telah menikah dan sebaliknya pun begitu. Elion yang tahunya Reina telah menikah dan memiliki anak. Apalagi dengan ucapan Reina waktu itu semaki membuat Elion terluka dan tidak ada lagi harapan untuk bisa kembali bersama dengan Reina.
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan keduanya. Mereka sedang tidak sadar jika saling menyakiti satu sama lain. Minimnya komunikasi dan hanya menyimpulkan dari praduga masing-masing. Membuat keduanya semakin jauh.
Hingga hari ini, tidak sengaja sebuah bola menggelinding ke arah Elion di saat pria itu sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu bawahannya mengambil mobil. Elion berjongkok dan mengambil bola itu. Bola yang menggelinding itu berasal dari arah sebrang, tepat dimana toko Reina berada.
Lalu seorang anak kecil menghampirinya, mungkin dia adalah si pemilik bola itu. Elion menatap anak kecil itu, dan tatapan mata mereka hampir sama. Tajam namun tetap menyimpan kehangatan di baliknya.
Anak ini yang waktu itu aku lihat, kenapa aku merasa sangat tidak asing dengan wajahnya.
"Maaf Om, bolanya bisa di kembalikan?" tanya Rion dengan wajah memelas, itu adalah bola pertama yang di belikan Ibunya setelah dia merengek beberapa hari untuk di belikan bola itu.
Elion tersenyum, dia berdiri lalu memberikan bola itu pada Rion. Elion juga mengelus kepala anak laki-laki itu. "Dimana Ibumu?"
"Emm sedang di toko"
"Lalu Ayahmu?"
__ADS_1
"Mama bilang jika Papa Rion tidak ada disini. Katanya kerja, tapi Rion tidak pernah bertemu Papa"
Elion mematung mendengar penjelasan anak itu. Di usia Rion, tidak mungkin untuk anak itu berbohong. Semua yang di ucapakannya pasti apa yang dia dengar dari Ibunya. Lalu, jika dia tidak pernah bertemu Ayahnya. Dimana Ayahnya berada saat ini? gumam Elion sebelum dia dikejutkan teriakan yang memanggil nama Rion. Elion mengerjap, lalu dia tersadar jika Rion sudah tidak ada di dekatnya. Anak itu telah berlari ke arah temannya yang menunggunya di halaman rumah sederhana yang merangkap menjadi sebuah toko kue itu.
Ucapan anak itu benar-benar menjadi sebuah pertanyaan di benak Elion. Dia tidak pernah bertemu Ayahnya, lalu pernikahan apa yang di jalani Reina selama ini? Elion menjadi bingung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Reina menikah, namun anaknya tidak pernah bertemu dengan Ayahnya sendiri. Lalu, pernikahan seperti apa yang terjadi pada Reina? Sepertinya Elion benar-benar harus menyelidiki semuanya, agar dia tidak banyak menduga-duga.
Saat Elion masih bingung dengan segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Sebuah mobil berhenti tepat di depannya dengan membunyikan klason. Elion segera masuk ke dalam mobil itu, yang dia tahu jika itu adalah bawahannya.
Selama perjalanan menuju apartemen, Elion hanya terus memikirkan apa yang di ucapkan Rion tadi. Semuanya terlalu membingungkan. Hingga sampai di apartemen pun, Elion masih memikirkan hal yang sama.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Reina duduk diam di kursi di halaman rumahnya. Tokonya telah tutup, dan dia sedikit menenangkan diri di tempat ini. Angin malam cukup menusuk ke dalam pori-pori kulitnya. Reina merapatkan jaket yang di kenakannya, untuk sedikit menghilangkan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Pertanyaan yang selalu di hindari Reina. Dia tahu jika anaknya juga merindukan sosok seorang Ayah. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Pria yang dia cintai juga Ayah kandung dari anaknya, sudah bahagia bersama istri dan anak mereka. Tentu Reina tidak mau merusak pernikahan orang lain dengan kehadirannya dan Elion di antara rumah tangga Elion dan Westy.
Mengingat hal itu membuat Reina menangis dengan tersedu-sedu. Dia pergi meninggalkan Elion juga demi kebaikannya. Supaya Elion kembali pada keluarganya. Namun, tidak pernah terpikirkan oleh Reina jika dirinya akan mengandung anak pria itu setelah dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ternyata takdir tetap berusaha mengikat mereka dengan hadirnya seorang anak dari buah cinta mereka selama ini.
Namun kenapa takdir harus semenyakitkan ini? gumam Reina di sela tangisannya. Tidak perduli jika banyak orang yang berlalu di depan toko mereka dan mendengar suara tangisannya ini. Saat ini Reina hanya ingin meluapkan segala sesak di dadanya selama ini.
__ADS_1
"Tolong kembalikan Elion pada kami"
Ucapan Alena waktu itu, membuat Reina tetap berusaha meyakinkan dirinya sendiri di tengah keraguan yang dia rasakan. Reina hanya ingin mengembalikan Elion pada keluarganya. Meski dia juga tidak merasa merebut pria itu dari keluarganya. Tapi, Reina tetap yang harus mengalah dalam hal ini. Karena sejak awal cintanya pada Elion memang tidak seharusnya terjadi. Cinta seorang anak angkat pada Ayah angkatnya.
Sosok Elion yang bagaikan malaikat di saat Reina benar-benar kehilangan separuh hidupnya karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Benar-benar membuat Reina merasa beruntung. Namun, perasaan di hatinya yang tiba-tiba tumbuh begitu saja hingga saat ini. Lalu, apa Reina salah?
Mungkin jika dia tidak nekat untuk mengungkapkan perasaannya pada Elion. Semuanya tidak akan pernah terjadi. Tapi, menyesal pun tiada gunanya sekarang. Rion telah hadir, dan Reina tidak ingin menjadikan anaknya sebagai penyesalan. Anaknya tetap anugerah terindah dalam hidupnya. Rion adalah malaikat kecil yang di kirim Tuhan sebagai pengganti Elion dalam hidup Reina.
"Sedang apa disini Rein?"
Rista tiba-tiba duduk di kursi depan Reina, hanya terhalang meja bundar saja. Reina mendongak dan segera menghapus sisa air matanya. Meski Reina tahu jika itu percuma karena Rista sudah pasti melihatnya.
"Masih memikirkannya, apa tidak sebaiknya kamu bicarakan saja tentang Rion padanya. Mau bagaimana pun dia berhak tahu"
Reina menatap menerawang ke arah jalanan di depannya. Masih cukup ramai kendaraan yang berlalu lalang di jam segini. "Aku rasa tidak perlu Ris, dia sudah memiliki kebahagiaannya sendiri. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang"
"Kau tidak menjadi perusak rumah tangga orang. Kau hanya perlu memberi tahukan soal Rion, karena mau bagaimana pun Elion tetap Ayahnya. Dia berhak tahu"
Reina tidak menjawab apapun. Dia hanya diam dengan segala pemikiran nya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..