
Reina tidak salah lihat, dia adalah Alena. Wanita yang sedang memasak di dapurnya adalah Alena. Bagaimana ini? Reina bingung harus bersikap bagaimana dengan Kakak dari suaminya ini. Apa mungkin Alena telah mengetahui tentang pernikahan mereka. Lalu Reina harus bagaimana sekarang.
Alena menghampiri Reina "Ayo makan siang Rein, aku sengaja masak agar pas kalian datang kalian bisa langsung makan"
Reina masih saja mematung di tempatnya. Di depannya adalah Alena, wanita yang jelas-jelas telah memintanya dengan mohon untuk meninggalkan Elion. Karena bagi Alena dialah yang membuat Elion jauh dari keluarganya. Dan Reina telah menyanggupi hal itu, lalu apa yang harus dia lakukan saat ini ketika Alena kembali bertemu dengannya dan di masih bersama Elion. Bahkan kini mereka telah menikah dan memiliki anak.
"Loh Kak Alen"
Elion muncul disana dan dia juga terkejut dengan kehadiran Kakaknya yang tiba-tiba ada di rumahnya ini. Elion segera mendekati istrinya dan menarik tangan Reina untuk menyembunyikan istrinya di belakang tubuhnya. Elion tidak mau jika Kakaknya sampai membuat Reinanya pergi lagi dari hidupnya.
"Mau apa Kak? Apa Kakak belum puas menghancurkan hidupku? Membuat wanita yang aku cintai pergi meninggalkan aku"
"El, Kakak minta maaf. Kakak gak bermaksud seperti itu"
"Lebih baik Kakak pergi dari rumahku sekarang"
"Mas..." Reina langsung memperingati suaminya yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya pada Alena. "....Jangan seperti itu, dia itu Kakakmu. Keluarga satu-satunya yang kini kamu miliki"
"Sudah tidak papa Rein, aku bisa kembali lagi kesini setelah El tenang" Alena pun pergi dari dapur, meski dengan perasaan yang sakit saat mendapatkan penolakan dari adiknya sendiri. Tapi Alena mengerti kenapa Elion sampai sebenci itu padanya. Dia yang telah memisahkan adiknya dari wanita yang dicintainya. Wanita yang menjadi sumber kebahagiaannya.
Reina menarik kursi meja makan dan menyuruh Elion untuk duduk disana. Lalu dia memutar kursi satunya lagi agar berhadapan dengan suaminya ini. Duduk berhadapan, Reina menatap lekat wajah suaminya yang tiba-tiba berubah menjadi datar.
"Ma, jangan seperti itu pada Kakakmu. Dia sudah baik meminta maaf, pasti juga dia sudah menyesali kesalahannya itu"
"Tapi dia yang udah buat aku kehilangan kamu, Sayang"
"Iya aku tahu, tapi tolong jangan seperti itu Mas. Dia itu Kakakmu satu-satunya, apalagi Oma sudah tidak ada. Hanya tinggal Kakakmu yang menjadi keluargamu saat ini. Biarkan saja semuanya berlalu, lagian waktu itu aku juga salah karena langsung mengiyakan permintaan Kakakmu tanpa memikirkan konsekuensi kedepannya"
__ADS_1
"Iya itu juga kesalahanmu" Elion mencubit hidung Reina, gemas rasanya saat dia mengingat jika istrinya ini meninggalkannya tanpa memikirkan hal yang mungkin terjadi kedepannya. Contohnya seperti kehadiran Rion yang tidak di ketahuinya.
"Duh, apaan si Mas. Sakit tau"
"Abisnya gemas sama tingkah bodohmu di masa lalu, ninggalin aku, buat hidup aku hancur berantakan"
Reina tersenyum "Hehe. Makanya jangan sok jaim, dulu aja nolak pernyataan cintaku. Sekarang di tinggal saja duniamu langsung hancur 'kan. Ya lah, pesona Reina emang paling gak bisa di tolak"
Elion tertawa mendengar ucapan istrinya yang terlalu percaya diri itu. Ternyata Reina masih sama dengan yang dulu. Di saat dia sudah benar-benar menemukan kebahagiaannya, kini keceriaan itu telah kembali. Reina telah menjadi Reina yang dulu. Gadis yang ceria dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Pantang menyerah dalam segala hal, termasuk saat mengincar hati Elion.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Pagi ini Reina mendapat pesan dari Alena. Entah darimana wanita itu mendapatkan nomor ponselnya. Namun, Alena mengajak Reina untuk bertemu di suatu tempat. Reina menyetujuinya karena memang ada yang mereka bicarakan sekarang. Semua hal di masa lalu dan sekarang perlu mereka bicarakan.
Reina mengambilkan sarapan untuk suaminya. Menaruhnya di depan Elion. "Mas aku izin keluar ya hari ini"
"Emm. Jalan-jalan saja sama Rion, udah lama juga aku tidak pergi jalan-jalan di kota ini"
Elion sedikit berfikir, dia menatap istrinya dengan lekat. "Beneran hanya mau jalan-jalan saja? Tidak ada niat lain?"
"Niat lain apasi Mas? Emangnya aku mau melakukan apasi di belakang kamu? Aku gak seberani itu Mas, lagian kalau niat juga dari dulu aja. Aku 'kan cantik, pasti banyak yang mau. Tapi hatiku tetap terpatri hanya untukmu"
Elion tahu itu, istrinya memang tidak mungkin bermain api di belakangnya. Selama 5 tahun ini, dia tetap setia padanya. Elion percaya itu. "Yaudah, tapi sebelum aku kembali dari kantor kalian harus sudah ada di rumah"
"Iya Mas, aku janji tidak akan lama-lama pergi keluarnya"
Akhirnya siang ini Reina benar-benar menepati janji untuk bertemu dengan Alena. Saat dia sampai di tempat yang di beritahukan oleh Alena, Reina segera menuju ruangan VIP restaurant ini. Saat pelayan yang mengantarnya membantu membukakan pintu ruangan, Reina langsung masuk dan melihat Alena telah duduk disana menunggunya.
__ADS_1
"Maaf terlambat" Reina masuk dengan menuntun tangan mungil anaknya.
Tatapan Alena beralih pada anak laki-laki yang sangat mirip dengan wajah adiknya sewaktu kecil. Jelas Alena tahu ini adalah anaknya Elion. "Sini Nak, sama Tante"
Rion terlihat takut, dia bersembunyi di balik tubuh Reina. "Tidak papa Rion, itu Tante kamu. Dia itu Kakaknya Papa"
Akhirnya setelah mendengar penjelasan dari Ibunya, Rion berani mendekat pada Alena yang sejak tadi sudah sangat ingin memeluk keponakannya itu. Alena langsung memangku Rion dan menciumnya dengan gemas. Reina duduk dan menatap pemandangan di depannya. Bagaimana Alena begitu tulus menyayangi anaknya. Mungkin wanita itu memang benar-benar sudah berubah.
Setelah asyik bermain sejenak dengan keponakannya, kini Alena kembali fokus pada tujuannya. Dia menatap ke arah Reina dengan lekat. "Rein maafkan aku, karena ulahku, kamu dan anak kamu harus merasakan berpisah dari Elion"
Reina tersenyum, dia tahu jika Alena sangat tulus sekarang. Mengatakan itu tulus dari dalam hatinya. "Iya Kak aku maafkan, lagian waktu itu Kakak tidak salah karena memang wajar saja jika Kakak hanya menginginkan adik Kakak untuk kembali pada keluarganya"
"Iya Rein, aku tahu aku salah. Maaf karena aku malah memaksamu untuk menjauhi Elion, padahal saat itu memang keluarga kamilah yang sedang banyak perseteruan dengan El"
"Iya Kak, sudah tidak perlu di bahas lagi. Biarkan saja itu semua menjadi masa lalu. Yang penting sekarang kita sudah menjadi keluarga. Maafkan juga dengan sikap Mas El kemarin, aku janji akan membuat dia menjadi dekat lagi dengan Kakak"
"Iya Rein terimakasih, aku mengerti kok dengan sikap El kemarin"
Akhirnya Alena menyadari kesalahannya. Dan dia sudah menyesalinya selama ini. Sudah waktunya dia meminta maaf dan memulai semuanya dengan baik.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..
Yuk mampir juga di karya temanku ini..
__ADS_1