
Sampai di rumahnya, benar saja apa dugaan Reina. Anaknya sedang duduk di ruang tengah dengan di temani Rista. Rion langsung berlari ke arahnya saat melihat Ibunya yang datang. Rion menangis di pelukan Ibunya, segera Reina menggendong Rion dan membawanya untuk duduk di sofa. Memangku Rion yang masih terisak dengan menyembunyikan wajahnya di leher Reina. Memeluk erat leher Ibunya itu.
"Mama kemana saja? Rion takut kalau Mama pergi, cukup Papa saja yang tidak pernah menemui Rion. Mama jangan pergi juga"
Deg..Deg..
Tubuh Reina menegang mendengar ucapan anaknya itu. Elion menatap tajam pada Reina. Anaknya terluka seperti itu karena kebodohan Reina yang tidak bilang pada Elion tentang kehadiran Rion. Semuanya karena Reina yang berbohong pada Rion tentang Ayahnya. Sehingga Rion selama ini tidak bisa merasakan kasih sayang dari sosok seorang Ayah.
"Sudah tidak papa, Mama hanya ada urusan sebentar tadi. Sekarang, Rion tidur dulu ya" kata Reina
Rion semakin mengeratkan pelukannya di leher Reina. "Temenin sama Mama tidurnya"
"Iya di temenin sama Mama"
Reina membawa Rion ke dalam kamar mereka. Sementara Elion sedang duduk di sofa bersama Rista yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara dia sejoli ini.
"Yasudah, Om El tunggu saja disini kalau masih ada yang ingin di bicarakan dengan Reina. Aku mau ke kamar dulu"
"Hmm"
Rista hanya mengangkat bahunya acuh saat jawaban Elion yang dingin itu hanya sebuah deheman saja. Sebenarnya Rista ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka hingga pulang malam seperti ini. Tapi Rista tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan mereka. Biarlah mereka menyelesaikan semuanya. gumamnya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Rista duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kepala anaknya lalu memberinya kecupan selamat malam yang selalu dia lakukan pada anaknya itu. Semoga kita tetap bahagia ya. Bunda Sayang Duta.
Rista naik ke atas tempat tidur dan ikut terlelap sambil memelik anaknya itu. Semoga malam ini dia akan kembali mimpi bertemu dengan pria yang masih di cintainya hingga membuatnya bodoh.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Reina keluar dari kamar saat merasakan tenggorokannya yang kering. Setelah mengambil minum di dapur, Reina bermaksud kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat dia tidak sengaja melihat sosok yang tertidur di atas sofa. Perlahan Reina mendekat ke arah sofa. Duduk di sofa tunggal disana. Menatap Elion yang terlelap di sofa depannya, hanya terhalang meja.
"Aku kira dia sudah pulang"
Reina bukannya sengaja meninggalkan Elion. Karena kepalanya yang masih terasa pusing, membuat Reina ikut terlelap dengan anaknya. Hingga tengah malam dia terbangun karena merasa haus. Reina mengira jika Elion sudah pulang dari rumahnya. Tapi ternyata lelaki itu masih berada di ruang tengah.
Reina mengambilkan selimut di kamarnya saat melihat Elion yang meringkuk kedinginan di atas sofa. Reina menyelimuti Elion dengan perlahan, takut akan mengganggu tidur pria itu. Namun sepertinya hal yang di lakukan Reina malah membangunkan Elion dari tidurnya. Dia menarik tangan Reina hingga gadis itu jatuh terjerambah di atas dada Elion. Jarak mereka begitu dekat, bahkan bisa saling merasakan hembusan nafas hangat dari masing-masing. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat.
"Mas..." lirih Reina saat tersadar dari setiap keterkejutannya.
"Sudah diam, malam ini aku hanya ingin tidur dengan memelukmu"
"Tap..." Reina mengurungkan ucapannya saat melihat Elion sudah kembali terlelap dengan memeluknya erat. Reina berusaha melepaskan pelukan Elion. Tapi pelukan pria itu terlalu erat hingga Reina tidak mampu melepaskannya.
Akhirnya Reina mulai meras nyaman, dia menyusupkan wajahnya dia dada Elion seperti hal yang sering dia lakukan dulu saat tidur bersama Elion. Keduanya merasakan kenyamanan yang sama.
__ADS_1
Elion membuka matanya saat merasakan hembusan teratur nafas Reina di dadanya. Elion tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu.
Pagi ini Rista di kejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa. Sepasang kekasih yang terpisah lama karena suatu hal, sedang tidur berpelukan di atas sofa. Tidak ingin menganggu, Rista memilih berlalu ke arah dapur untuk menbuat sarapan. Jujur, Rista berharap sahabatnya itu bisa kembali bahagia bersama Elion.
Reina mengerjapkan matanya pelan, hal yang pertama kali dia lihat saat membuka mata adalah wajah tampan pria yang dia cintai. Pria yang menurutnya adalah sosok malaikat tak bersayap yang telah menyelamatkan hidupnya 17 tahun lalu. Saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya terjadi.
Perlahan tangan Reina mengusap lembut wajah Elion. Garis wajahnya nyaris sempurna. Jantungnya masih berdebar saat dia berada di posisi seperti ini. Menatap diam-diam wajah Elion dari jarak dekat seperti ini.
Tersadar dengan apa yang di lakukannya, Reina segera bangun. Dia duduk di pinggir sofa, melriik sekilas pada Elion yang masih terlelap. Reina segera berlalu dari sana. Sementara Elion tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
Elion terbangun, dia duduk di sofa dengan selimut yang masih menutupi kakinya. Elion kembali tersenyum mengingat yang terjadi malam tadi. Dia dan Reina tidur dengan saling berpelukan. Setelah sekian lama, akhirnya Elion bisa merasakan tidur nyenyak dan sangat nyaman karena wanitanya telah kembali. Meski Elion masih memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya pada anaknya nanti.
"Sudah bangun, kita sarapan dulu Mas. Aku mau bangunin dulu anak-anak" kata Reina yang baru saja datang dari dapur dan melihat Elion yang sudah terbangun dari tidurnya.
Elion menatap punggung Reina yang menjauh darinya. Dia memikirkan kata-kata Reina barusan. Anak-anak? Apa Reina sudah memiliki dua anak? Apa benar pernikahan itu telah terjadi dan Reina juga memiliki anak dari pernikahannya ini?
Tidak mungkin..
Elion menggeleng pelan, mengusir fikiran buruk di kepalanya. Reina hanya pergi selama 5 tahun. Tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu membuat Reina bisa langsung memiliki dua orang anak. gumamnya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga