
Di perusahaan milik Sora, wanita itu dibuat heran dengan datangnya sebuah surat rumah sakit ke perusahaan nya. Di bacanya surat itu dengan teliti, terpampang jelas nama pria yang setiap hari berada di sisi nya.
"Bara masuk rumah sakit? Perasaan kemarin sehat-sehat aja tuh, mungkin pura-pura biar bisa bolos kerja tuh laki." Sora menoleh kebelakang, melihat jelas tubuh tegap laki-laki yang sudah dianggap nya sebagai saudara sendiri.
"Gak boleh gomong gitu Jhon, gak baik." Nasehat Sora. Jhonny merotasikan bola matanya. Jujur saja sebenarnya Jhonny tidak suka pada Bara, menurutnya pria itu terlalu sok soft dan sok perhatian dengan Sora. Dia gak suka. Wajah Jhonny benar-benar masam dan terlihat malas.
"Serah Lo." Kesal Jhonny, Sora menghela nafas menetralkan emosinya supaya tidak memukul kepala Jhonny.
"Nanti jam makan siang kita kesana jenguk dia," ujar Sora, Jhonny menoleh dan ingin membantah, tapi lagi-lagi suara Sora menghentikan ucapan Jhonny.
__ADS_1
"Gak ada penolakan Jhon, atau gaji Lo gue potong." Seketika Jhonny bungkam, ancaman Sora tak main-main. Dengan malas Jhonny pun mengangguk disertai dengan helaan nafas. Dalam keheningan Jhonny terus bergumam tak jelas.
"Dasar Mak tiri, kejam banget sama gue, gak tau apa kalau gue ini anak yatim yang harus di sayang." Gumaman Jhonny kali ini dapat di dengar jelas oleh Sora. Wanita itu sempat membulatkan matanya saat mendengarkan nya.
"Heh anak yatim apa nya? Lo aja udah kepala dua masa harus gue kasihani." Sarkas Sora dengan tampang julit nya. Jhonny mendengus lalu menghentakkan kaki meninggalkan ruangan itu. Sora melongo melihat nya, tingkah Jhonny benar-benar kekanak-kanakan menurut, akhirnya hanya gelengan kepala dan helaan nafas Sora yang terdengar.
"Dasar Jhonny, udah gede juga tapi tingkah masih ke bocil SD." Didalam ruangan tersebut hanya tinggal Sora seorang diri dengan keheningan yang begitu kentaran. Hingga akhirnya pikiran nya tiba-tiba mentok pada nama seorang pria.
Waktu terus berjalan, tanpa di rasa sudah waktunya makan siang. Sora dan Jhonny dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka tidak berdua tapi bertiga dengan adanya Zey. Bocah itu begitu semangat saat mendengarkan nama Bara, tapi senyum nya luntur saat mendengarkan kalau Bara sedang di rawat di rumah sakit. Wajah bocah itu terlihat murung sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat Bara di rawat.
__ADS_1
Mobil itu berhenti di parkiran rumah sakit. Setelah mobil tersebut terparkir dengan benar, barulah para penumpang keluar dari sana. Jhonny berinisiatif ingin mengendong Zey yang terlihat lemah dan pucat, bocah itu mau-mau aja tanpa membantah. Mereka bertiga pergi masuk kedalam rumah sakit. Mereka bertiga berhenti untuk bertanya pada resepsionis terkait ruangan di rawat nya Bara.
"Permisi Mbak, mau nanya, ruang rawat atas nama Bara dimana yah?" Tanya sopan Sora. Si Mbak-mbak itu langsung mengeceknya di komputer.
"Maaf Bu, pasien atas nama Bara yang mana yah? Soalnya banyak yang nama nya Bara. Abdul Bara zali, Habibah Barali, Bara Jainabhabibie, Baravesion Agatha William." Jelas si Mbak tersebut. Sora menoleh kearah Jhonny terkait nama lengkap pria yang ingin di kunjungi nya. Jhonny mengangkat bahunya tak tau, lupa soalnya. Si Mbak resepsionis yang peka pun angkat bicara.
"Kalau boleh tau umur pasien yang ingin ibu kunjungi berapa yah?" Tanya santun si Mbak itu.
"Sekitar 25 keatas Mbak." Ujar Sora di balas anggukan mengerti oleh si Mbak resepsionis.
__ADS_1
"Menurut data cuma ada 1 Bara yang umurnya 25 keatas, Baravesion Agatha Wiliam, ruangan pasien di lantai dua kamar VVIP Gold nomor 2." Sora mengangguk lalu tersenyum tipis pada Mbak resepsionis, sementara Jhonny terdiam mendengarkan nama yang tadi di sebutkan, seperti tidak asing di telinga nya tapi siapa?
"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya permisi, ayok Jhon." Jhonny mengangguk lalu berjalan bersama Zey yang berada didalam gendongannya.