
Bara yang panik sekaligus khawatir langsung menelfon Devan. Bara menyuruh Devan ke rumah sakit untuk menjemputnya dan juga menyuruh Devan membawa bodyguard. Bara tak menjelaskan apa yang terjadi pada Devan, kenapa dia mendadak ingin langsung pulang dari rumah sakit, dan kenapa Bara menyuruh Devan membawa bodyguard. Bara juga memerintahkan Devan untuk menuju jalan permaisuri yang terkenal sepi karena di kelilingi hutan dan perkebunan. Devan juga menurut saja, tak ingin membuat darah tinggi Bara naik.
"Bisakah Lo tambahi kecepatan mobil nya, kita tak punya waktu banyak, atau hal yang buruk akan terjadi." Ucap Bara mencoba tidak membentak. Raut wajah Bara benar-benar khawatir, bahkan pria itu terlihat tak tenang. Devan mengangguk lalu menambah laju mobil itu. Mobil hitam yang di kendarai oleh Devan sekarang masuk kedalam kawasan perkebunan, yah mereka sudah sampai sekitaran jalan permaisuri. Tapi di mana Sora? Tak terlihat mobil sama sekali, apa Sora masih mengikuti perintah Bara untuk tetap menyetir?
"Bos ngapain kita kesini?" Tanya Devan yang fokus menyetir.
"Sora sama anak gue di kejar sama orang gak di kenal Van, jadi cepetan cari mereka, gue gak mau kejadian buruk menimpah mereka!" Seru Bara. Devan juga ikutan khawatir sekarang, bagaimana pun sekarang nyawa keponakan dan calon kakak ipar nya dalam bahaya.
"Bang gue bakalan ngebut, jadi pegangan." Peringat Devan yang terkesan seperti sebuah perintah. Bara hanya mengangguk dan berpegangan. Mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
'Semoga kamu baik-baik aja Zey, Sora, setelah ini Aku janji bakalan jujur atas semua nya, aku akan mengakui semua nya, aku harap kamu gak benci sama aku Ra.'
Mobil yang dikendarai oleh Devan berhenti tak jauh dari sebuah mobil yang menabrak batu besar, tak jauh dari mobil itu juga terdapat dua pria misterius yang tertawa puas melihat kejadian didepan mereka tanpa berniat membantu wanita dan bocah yang terjebak di dalam mobil, toh memang itu yang mereka inginkan.
"Mau kita bunuh atau kita bakar aja nih mobil?" Tanya si pria bertindak pada si botak.
Setelah memastikan dua pria misterius itu benar-benar pergi barulah Bara dan Devan keluar dari dalam mobil di susul oleh dua bodyguard yang di bawahnya untuk berjaga-jaga.
"Van Lo keluarin Zey dari dalam, Sora biar gue yang keluarin." Perintah Bara yang berusaha membuka pintu.
__ADS_1
"Bang, Lo bawa Zey aja, tangan lo luka bang." Setelah di pikirkan benar juga, dan akhirnya Bara yang mengendong Zey. Devan dan Bara membawa ibu dan anak yang pingsan itu kedalam mobil. Bara dan Devan membawa Sora dan Zey ke rumah sakit terdekat. Luka Sora tidak terlalu parah, wanita itu hanya tergores kaca depan mobil yang pecah. Zey—bocah itu dapat di pastikan harus mendapatkan transfusi darah dengan segera.
"Van cepetan, anak gue darah kening akhhh, kening anak gue gak berhenti mengeluarkan darah, CEPETAN." Teriak Bara yang kalut. Dapat di lihat dengan jelas oleh Devan dari balik spion yang memperlihatkan Bara yang mulai menangis sambil memeluk tubuh kecil Zey, dan paha nya di jadikan bantal untuk Sora.
"Zey, nak kamu bertahan yah, Daddy gak mau kamu kenapa-kenapa, Daddy belum jadi ayah yang bertanggung jawab. Daddy ingin jadi ayah yang sempurna untuk kamu, jagoan nya Daddy." Bara memeluk tubuh Zey yang tak sadarkan diri. Pipi pria itu sudah basah karena menangis. Devan yang mendengarkan nya juga ikutan menangis tanpa suara, tanpa di lihat pun Devan yakin Bara sekarang benar-benar kacau.
"Ra maafin aku, aku jahat, aku laki-laki brengsek yang gak segaja perawani kamu malam itu, maaf." Lirih Bara mengusap darah yang mengalir dari pipi Sora.
typo maklumi yah, like komen vote favorit nya jangan lupa. see you next episode
__ADS_1