
"Ukhh~" Leguhan seseorang membuat ketiga manusia itu mematung.
"Mommy sakit..." Lirih bocah yang baru saja sadarkan diri setelah dua hari berbaring diatas kasur rumah sakit.
Sora dengan cekatan menekan tombol di ranjang itu. Lalu menangkup pipi tembam Zey.
"Kamu gakpapa sayang? Ada yang sakit atau gak enak?" Tanya khawatir Sora. Zey tersenyum tipis melihat sang mommy yang perhatian pada diri nya.
"Zey cuma pusing mom." Jujur bocah itu memegang bagian keningnya yang terbalut perban bekas operasi kemarin. Sora memberi kecupan pada kening bocah kesayangan nya itu.
"Cepat sembuh Zey." Tak berselang lama akhirnya para tenaga medis datang memeriksa keadaan Zey. Sora dan yang lain di suruh menunggu di luar ruangan dan mereka menuruti nya.
Sora menunggu dokter keluar, berharap kabar baik yang akan dokter terkait kondisi sang putra. Dengan perasaan cemas khawatir yang melanda Sora mengigit bibir bawahnya, dia begitu mengkhawatirkan Zey—putra sematawayangnya itu.
"Zey mommy sayang kamu nak, jadi bertahan yah sayang." Gumam Sora. Sebuah tangan terulur mengelus bahu nya, Sora menoleh ke sebelah nya.
"Zey baik-baik aja kok." Bara tersenyum tipis memberi semangat pada wanita-nya itu.
__ADS_1
"Iya aku tau." Ucap dingin Sora. Bara hanya mampu menghela nafasnya, sudah ditebak oleh nya sifat Sora pasti akan berubah jika sudah mengetahui kebenaran nya, dan sekarang itu kejadian, Sora menjadi dingin pada nya. Bara tidak bisa menuntut sifat Sora yang dingin pada nya, toh itu memang salah nya sedari awal, dia yang datang membawa malam petaka untuk Sora.
"Bos!" Panggilan itu membuat Bara menoleh, dilihatnya Devan yang datang dengan pakaian kerja nya, pasti Devan langsung datang kemari setelah menyelesaikan tugas kantor.
"Apa Van?" Tanya Bara mendekat kearah Devan.
"Bos besar nyuruh bos kembali ke rumah utama, kata nya ada hal penting yang akan di bicarakan nanti malam, dan bos di minta untuk hadir." Ujar panjang lebar Devan.
"Maksud Lo ayah?" Devan mengangguk mengiyakan, toh siapa lagi bos besar kalau bukan ayah nya Bara.
"Gak tau bos, mungkin mau ngebagiin harta warisan." Celoteh Devan asal. Kan dia gak tau juga hal penting yang di maksud ayah nya Bara, dia hanya disuruh menyampaikan amanah itu, hanya itu tidak lebih. Firasat buruk terselip dalam hati Bara, gak mungkin ayah nya menyuruh nya pulang karena pembagian harta warisan, dan Bara cukup sadar diri, kalaupun benar ayah nya ingin membagikan harta waris pasti dirinya tidak akan mendapatkan sepersen pun, kan ayah begitu membenci nya, mana mungkin memberikan harta warisan.
"Firasat gue akan terjadi hal buruk malam ini Van, pasti ayah bakalan bertindak egois lagi." Ucap Bara mengutarakan kegelisahan dalam hati nya. Devan hanya mengangguk, dia juga tau betul sifat ayah nya Bara yang sangat-sangat egois dan mementingkan diri nya sendiri daripada orang lain, jahat emang.
"Jadi Lo mau datang atau gimana bang?" Tanya Devan, enek juga dia manggil Bara dengan embel-embel Bos, enakkan manggil Bang
"Apa sebaiknya gue gak datang aja yah Van? Gue males tiap ketemu ayah pasti bawaan nya kesel, ayah egois." Nah kan Devan jadi kasihan pada Bara sekarang, kehidupan orang kayak mah sulit plus rumit, jadi orang miskin juga berat. Devan menepuk-nepuk pundak Bara memberi semangat.
__ADS_1
"Kalau gue gak datang ayah pasti marah besar. Jadi terpaksa gue harus datang dan menghadapi apapun yang kemungkinan terjadi nanti malam." Lesu Bara. Devan yang mengerti hanya mengangguk sambil menepuk-nepuk bahu Bara. Sayup-sayup Sora dapat mendengarkan pembicaraan dua laki-laki itu, dia penasaran tapi yah kali dia menanyakan apa yang kedua insan itu bicara, mungkin aja terkait privasi kan gak sopan kecuali.
Tak berselang lama, dokter dan dua orang suster keluar dari ruang rawat Zey, Sora dan yang lainnya langsung mengerumuni sang dokter.
"Gimana kondisi anak saya dok?" Tanya Sora to the poin.
"Kondisi anak ibu sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi kami akan terus mengontrol keadaan anak ibu sampai benar-benar pulih total." Jelas sang dokter menerangkan.
"Ouh yah, ini resep obat yang harus ibu tebus dulu." Dokter itu memberikan resep obat pada Sora tapi di rebut oleh Bara.
"Iya dok akan segera saya tebus, terimakasih dok." Bara tersenyum tipis begitu juga dokter.
"Iya sama-sama pak, kalau begitu saya permisi, mari."
"Iya dok, mari." Dokter itu langsung pergi setelah pamit. Hening sesaat sebelum Bara angkat bicara.
"Aku tebus obat dulu, kamu jagain Zey ya." Bara langsung pergi dari sana, meninggalkan Sora, Jhonny, sedangkan Devan mengikuti Bara.
__ADS_1