Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 1


__ADS_3

Sebut saja Namaku Melia, Tinggal di daerah Bandung timur banget. Perbatasan antara Kota itu dengan Kota Garut, Tasik, Sumedang, dan Kota yang lainya. Terlahir dari pasangan orang tua tangguh. Pekerja keras dan penuh perjuangan. Mereka bangun subuh, hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi. Ayahku supir angkot dan mamahku penjual ketoprak/kupat tahu sebutan untuk daerah Sunda.


Tinggal didaerah Cileunyi, bukanlah hal yang mudah. Ketika kamu mau nyebrang jalan, hampir 80% kendaraan yang lewat bis besar nan kokoh. Dengan rumah berdempetan dengan terminal dan pasarnya. Gemuruh ombak pantai ku tiada terkira, menunggu penantian panjang ku terhadapnya bukan main bahagia. Aku ya aku, yang biasa saja seperti mereka. Beradu kekuatan fisik dan batin niah bercampur berbaur menjadi satu. Nothing special, sama saja sayang seperti mereka.


Pergi pagi pulang sore, naik angkot sana sini. Pergi kesana kemari, memperjuangkan secercah harapan merah membara. Secarik kertas yang terdiri dari bab bab berada. Abstrak sampai daftar pustaka.


Bab 1 punya ku ini harus bimbingan 7x, seminggu sekali saja dia tak bosan bertemu denganku.


”Ini masih belum bagus tabelnya, tidak ada kesesuaian antara curva dengan perolehan angka ini ini dan ini” oceh dosenku


“Iya pak, saya perbaiki lagi” Jawabku untuk mempersingkat waktu


“Ngomong ngomong, kamu bawa ga hasil bimbingan kamu dengan saya” Tanyanya


“Iya pa, gimana pak?


Responku so iye, so pengen iya iya. Dari tadi saja dia ngoceh sana sini aku tak kuasa menahan. Menerima atau menolak nya aku juga tak tau. Timbullah kata yang di ucap ulang. Respon yang seperti mengerti padahal ogah-ogahan. Kata seniorku kalau lagi bimbingan skripsi sama dosen, jangan ada pertentangan kita IYA kan saja apa yang dia inginkan. Antara benar dan salahnya kita kesampingkan dulu, kecuali kalua kamu mau perpanjangan waktu kuliah mu.


“Maksud saya, selama kamu bimbingan ini kamu bawa ga semua berkas yang pernah saya coret coret” Tanyanya dengan kalimat penjelas


“Iya pak, ada!”


Aku keluarkanlah itu, yang aku bilang secarik kertas. Yang tersimpan rapih, dalam map plastik harga 800 an saja. Dia kaget terheran heran,


“Kenapa banyak sekali perbaikannya, baiklah begini saja. Kamu langsung ke bab 2, bab 3, selesaikan semuanya. kamu cuma perlu 1x bimbingan lagi saja dengan saya. Saya akan meluluskan langsung!”


“Iya pak terimakasih banyak pak!


Ternyata dia agak kaget sendirian, setelah terlihat dari tebalnya proposal skripsi ku ini. Dia mempermudah perjalannya. Bagaimana tidak orang lain yang bimbingan bab 1 hanya 1-3x sedangkan punyaku tembus sampai angka 7. Terimakasih untuk …IYA …IYA nya aku ini. Karna beliau terkenal killer di antara dosen jurusanku sehingga pesan ..IYA ..IYA nya seniorku aku IYA kan saja.


Kini menjadi bagian cerita ku ini, sudah aku sempurnakan dengan lulus mudahnya skripsi ku ini.


++++


Sesaat dipodium wisuda,


MELIA ANJANI…..

__ADS_1


Namaku dipanggil ke podium, untuk sekedar disematkannya toga ku. Namun hati ini benar benar berbangga. Setelah ku lewati 4,5th perjalan kuliahku. Kini ada di titik tertinggi, wisudaku ini aku persembahkan untuk mamah dan bapakku juga kakak dan adikku. Dan teruntuk sahabat terkuat ku, Riki Fabian. Dia rela menunda skripsinya demi aku.


“Selamat yach, sayangku!” Ucapnya sambil memberikan seikat bunga mawar warna warni


“Iya sama sama, kamu nyusul yach. Sesegera mungkin!”


“Yahh, paling sekitar 25% lagi kamu jangan khawatir”


“Aku ga khawatir, yang bikin khawatir justru bunga ini buat apa coba?”


“Duh pake dibahas, aku ikut ikutan sama yang lainya saja. Hahaha!”


Dia tau banget tentang keiritanku, hal hal yang tidak perlu itu dihindari. Dia mengakhiri ucapannya dengan hahaha .......Itu karna tau seperti apa karakterku.


“Aku ga suka bunga ini!” Ucapku


“Hahaha…jangan bilang bunga yang lain selain mawar!”


“Tepat nya lagi yang lebih bermakna!”


Tawa itu pun menghiasi megahnya perayaan wisuda ku. Aku dan Riki memang berteman sudah cukup lama dari awal kuliah sampai sekarang,selain kami satu jurusan kami juga satu organisasi di kampus. Itu membuat kedekatan kami tiada terhingga.


“Nanti kamu cek, email nya!’


“Email, ada apa dengan email ku?” tanyaku heran


“Cek aja lah, gak habisin quota ko!”


“Okeh,,,tapi mesti janji. Sebentar lagi kamu mesti nyusul lulusnya. Aku tanpa kamu kan kaya ambulan tanpa uiw uiw”


“Duh lebay nya, aku juga bilang kalau skripsi ku 25% lagi paling 2 minggu lagi!”


Aku tanpa dia, tak tau seperti apa skripsi ku. Ketikan nya, setingan nya, idenya bahkan runtutan ceritanya dia yang mendekor. Tak heran 25% skripsinya bisa dia kerjakan untuk waktu 2 minggu. Aku yakin 2 minggu itu bukan janji palsu, tapi akan terwujud nyata.


“Aku pasti kepikiran, kalua kamu belum kelar!”


“Iya, aku ngerti itu. Sepikan ambulannya tanpa uiw uiw.?”

__ADS_1


Berharap nuansa ini selalu ada, dia yang selalu sedia setiap saat dalam semua kondisi. Pasti akan berat bila ada dalam kehidupan nyata tanpanya. Karna buatku kuliah itu masih bermimpi, kenyataanya dialah dunia kerja dan masuk dalam kehidupan seutuhnya dimasyarakat.


Harapan selalu ada kamu nya itu, sampai maut memisahkan saja bolehkan? Bisikan hatiku


Kedekatan ini memang terlampau dekat, aku tidak mau kehilangan kamu dalam kondisi apa pun. Sampai sampai aku tak mau kehilangan rasa sayang ini berubah haluan. Jadi pacar misalnya, karna yakin tidak akan sesyahdu ini.


Namun sesekali pernah terpikir, bagaimana rasanya jika aku pacaran sama kamu. Rasa strawbery kah? manis asam segar? Atau rasa jeruk kuning asam mempesona.


“Akkkkkkkh malu rasa nya aku membayangkan itu,…stop…aku harus mampu mengerem khayal bau ku itu. Sudahi saja angan-angan ku. Karna kamu selalu ada itu sudah cukup."


***


“Kenapa sich harus dirayakan seperti ini?”


“Ga apa apa ki, kapan lagi mumpung ijazahnya belum keterima. Jadi masih mahasiswa si akunya!”


“Kamu selalu bilang harus hemat, jangan buang buang waktu apalagi buang buang uang kaya gini!”


“Kamu mau bilang aku mestinya tasyakur bini’kmat!”


“Benar itu.”


“Dirumah udah 2x syukuran, yang satu dipengajiannya mamah dan yang satunya lagi di rumah beserta keluarga. Nah sekarang aku mau quality time aja sama kamu. Lagian acara ini disponsori oleh biaya skripsi yang masin bersisa!” Tengilnya aku,


Aku yang terlahir dari anak penjual lontong kari dan supir angkot Cicaheum Cileunyi ini memang selalu menekankan untuk hidup hemat. Tak ada sepeser pun uang yang terbuang sia sia, apa lagi untuk jenis foya foya begini. Sifat hemat kikir ku ini jelas berpengaruh terhadap teman tercintaku. Makanya dia agak heran bukan main.


Rumah makan jung food dekat kampus nyaris tidak pernah aku hiraukan, kini harus sedikit tunduk hanya untuk sebuh perayaan. Suasananya lumayan ramai, makanannya enak, aku sedikit menyesal kenapa waktu kuliah aku belum pernah mencicipinya.


“Apalagi selain makan ini yang belum pernah dicicipi?” Tanya nya lantang seperti tau saja kata hatiku


“Yach apa lagi ki, pacaran khan!” Aku jawab dengan nada kesal


“Ya udah, kita pacaran aja. Gengsi khan masa kuliah udah lulus masih belum pacaran juga!” Ejekannya menyentuh hatiku.


“Emang yach bukan nya makasih udah di traktir malah ngajak pacaran!”


Perbincangan kami dipenuhi dengan canda tawa.

__ADS_1


__ADS_2