Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 7


__ADS_3

Part 7


Dekapan Angga, tak jua terlepas dari tubuhku. Sedangkan waktu di HPku menunjukan pukul 12.00. Dan adegan ini sudah dimulai dari pukul 10.00 pagi tadi. Sedikit demi sedikit aku mencoba melepaskan tangan berotonya itu, pelan pelan dan pasti. Baiklah ini berhasil!


“Kamu mau kemana?” tanya Angga malah terbangun


“Aku ga kemana mana mas. Ada ko disini!” jawabku


“Mel, kayaknya aku udah mending. Aku sudah mulai berkeringat”. Ujar Angga sambal mengelapkan tanganya kearah lehernya.


“Syukurlah, berarti aku bisa pulang kalau gitu!”


“Jangan, kita makan siang dulu!”Ajakanya itu tidak bisa ditolak


Bahkan sampai malam hari kami masih bersama, makan malam dan sedikit tongkrongan di minimarket berhadapan.


“Kayaknya aku bakal kangen terus sama kamu!”


“Kangen apa Mas. Dari tadi kita bareng terus!”


“Ga tau ko aku jadi gini. Tapi besok beliin aku sarapan terus pingin diaterin ke kostan aku”


“Iya, iya. Sekarang kamu istirahat. Biar badanya baikan”


“Udah baikan ko karna pelukan”bisikan manjanya Angga tepat ditelinga kiriku


Entahlah bagaimana reaksi aku seharusnya, merasa berbunga bunga atau malah sedikit ngeri. Aku yang belum pernah mengecap manisnya pacaran. Membuat aku tak tau arah, kearah mana hubungan ini mau dibawa. Tak tau pula, hal atau kegiatan apa yang sebenarnya harus ada dalam pacaran.


Keesokan harinya, aku yang diberi mandat membelikan sarapan ini. Harus segera dating karena ditelpon terus.


“Hai hai, ini dia sarapanya”


“Ko, lama”


“Yang sabar yach, karna orang sabar disayang tuhan.”

__ADS_1


Akhhhhh…..dia Nampak seperti agak emosi.


“Maaf, tadi aku nyari buku dulu!”kataku dengan wajah penyesalan


“Yaudah kita makan aja sekarang, ko cuma satu” expresi Angga agak kaget


“Aku sudah sarapan mas!”


“Ga bisa kita sarapan bareng pokonya, sini dech aku suapain.”


Suap suapan itu, dihiasi sentuhan tangan Angga kebibir bawahku. Dengan alasan belepotan dia berani menyentuhnya. Jemari tangan Angga mencoba meraih tanganku juga, sembari mendekatkan bibirnya. Dia kecupkan bibirnya kejemari tanganku. Diiringi bisikan ”Aku sayang kamu”. Aku hanya terpaku merasa kikuk dan tak tau hal apa yang harus dilakukan. Tatapan mata Angga mengarah ke wajahku, menatapku dalam. Mebuat jantungku berdetup kencang, kecupan ini tidak hanya hinggap di jariku tapi juga ke pipi sebelah kanan dan kiriku. Kembali dia berbisik ”Tidak apa apa kan ini?”pertanyaan ini sama sekali tidak bisa aku jawab. Diamku itu seperti persetujuan yang di syahkan oleh pengadilan Asmara di negri dongeng. Beberapa ******* bibirnya yang sedikit membasahi bibirku, menjadikan aku patung tanpa jeda. Nafasku yang sedikit aku tahan, tak mau Nampak aku bak orang yang tak berpengalaman karna nafas yang terengah engah tak jauh seperti orang yang ber mil mil aku berlari.


“Sekarang aku tau pasti, ternyata perasaan mu sama besarnya denganku” Ungakapan Angga ini menbelungguku


Beberapa kegiatan yang kami lakukan ternyata membuat dia mengambil alih hatiku, seenaknya dia mengambil keputusan sepihak. Sedang aku yang tak tau sedang tersesat dihutan mana. Hanya linglung kebingungan. Mencoba untuk menahanya, malah aku terjebak lebih dalam. Masuk dalam perangkap cinta tak karuan. Cinta yang seperti tak bertuan, tuanya masih mencari arah dan tujuan. Akhinya ada bisikan dari arah selatan untuk, menikmati saja alurnya.


“Hah, kamu udah ciuman sama Angga.”ujar Mega dengan kagetnya


“Ssssssst, Ini Kantor Meg. Plis”


“Ngapain kamu ciuman coba. Heh laki laki itu wataknya penasaranan. Nanti biasanya kalu udah ini mau itu”


“Ya udah kalau kamu ga mau dengerin, jangan nyesel yach!”


“Emang kamu belum pernah ciuman sama Riki”


“Ko jadi nanya balik,…” heranya Mega padaku dengan pertanyaan balik yang aku ajukan


Aku hanya berharap curhatanku tidak sampai Riki, karna ceritanya akan sangat panjang sekali. Dan berharap apa yang di ungkapkan Mega pun tidak sesuai dengan karakternya Laki laki pada diri Angga.


“Aku kangen, jam 7 malam ini ke kostanku yach!”


Pesan singkat ini datang dari no Angga. Aku menamainya Mas Anggaku. Dan membalasnya dengan singakt.


“Iya, mas”

__ADS_1


Ciuman waktu itu memang membuat medan magnet di hati kami bermuatan lebih banyak dari sebelumnya, yang biasanya dia yang datang menghampiri. Sedang aku sekarang harus melakukanya hanya dengan persetujuan dalam pesan singkat dam hp Androidku.


Aku menghampirinya malam minggu ini, yang biasanya kami bertemu didepan minimarket. Kini aku harus kesana ketempat kost kostannya.


“Hay, Nungguin yach!” Kata ku berharap gombalanku diterima


“Lama banget, aku udah kangen nich!” Jawabanya bak gayung bersambut


“Udah kangen atau sudah lapar sich!” ujarku sembari membuka kantong kresek hitam berisi nasi goreng


“Waw, tau aja nich. Suara perutku.”


“Iya mas, tadi sebelum kesini ada tukang mie goreng langgananku lewat. Aku yakinya kamu belum makan karena pasti kamu pulangya sore tadi. Pasti belum sempat kedepan beli makan. Jadi aku beliin dech”


“Makasih sayang…” Kata Angga kepadaku


Kini tahtaku sudah berubah, yang asalnya masih memanggi nama. Sekarang ada gelar sayang di panggilan itu.


“Sama sama Masku” Jawabku untuk menyambut gelar baruku


Pernah berfikir bahwa ciuman itu hanya akan sampai situ saja, ternyata dugaanku salah. Ciuman itu berlanjut menjadi rutinitas kami disetiap malam minggu yang kami lalui. Bahkan sesekali tangan jahilnya merebak kedaerah sensitifku. Tanganya yang hanya hinggap dibagian pinggangku kini menjalar kesemua daearah tubuhku.


“Jangan Mas…”sesekali menolaknya


“Ga apa apa sayang….ini adalah expresi cinta kita.”ujarnya sedikit beralasan


Beberapa malam selanjutnya, dia sesekali melempar tubuhku ketempat tidurnya. Mencoba membuka beberapa kancing bajuku. Terbuka didaerah inti saja. “Jangan Mas…”hanya kalimat itu yang bisa aku lontarkan. Seperti dia tidak mengindahkan kata kataku, dia melanjutkan seranganya. Dengan beberapa sentuhan didaerah sensiitifku, aku terkapar tak berdaya. Sentuhan bibirnya kini hinggap disemua penjuru tubuhku. Menggerakan tubuhku kekanan kekiri, keatas kebawah. Aku yang hanya mampu mengerang ….sembari sedikit menggigit bibir bawahku. Untuk tanda ada rasa sakit yang luar biasa nikmat. Segala hal yang dia lakukan malam itu membuat aku terbawa hingga ke puncak gunung Everest dan mengecap nikmatnya surga dunia yang terlarang.


Sesaat setelah itu, aku melihat wajahku dicermin. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Hidupku Nampak tak berharga sudah. Air mata berlinang membasahi kedua area pipiku.


Melihat keadaan itu, masku terkaget kaget.


“Kamu kenapa sayang…?” tanya Angga


“Kayaknya aku pengen pulang, ga enak pengen badan pengen mandi!”merasa kotor dengan semua cumbu rayu itu, ingin segera mandi. Berharap melunturkan semua dosa besarku

__ADS_1


“Aku anter yach,,,,,,!”ucap Angga yang sedikit hawatir karna sudah malam


“Ga usah, pulang sendiri saja!”dengan nada sok tegar padahal lumayan takut. Sedikit jijik padanya, orang yang aku cinta tapi sudah menyetubuhi aku.


__ADS_2