Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 26


__ADS_3

“Hadeuhhhh, …….!”ungkapka ku seraya menampakan kejengkelan terhadap hawa panas di rumah itu. Padahal sedang ada hawa lain dihatiku. Sembari mengipas ngipaskan tanganku untuk menujukan kegerahan jiwa dan ragaku.


“Kenapa? Panas? Aku nyalain AC dulu, …..!” ujar Rendra yang ingin memberiku kenyamanan di tempatnya.


Dia membwa remote, pencet tombol dan datanglah hawa sejuk itu. Walau masih belum bisa menyeluruh. Namun sudah bisa memberi hawa positif dalam tubuhku. Mas rendra pergi kebagian dapur rumahnya, membawa mangkuk dan sendok untuk kami makan. Membawa gelas dan teko kaca yang didiisi air dari kulkas.


“Eh, ga apa apa Mas. Mestinya kamu nyuruh aku.” Ungkapku tidak enak.


“Ga apa apa dong, lagian kamu tamu. Jadi kamu pasti sungkan untuk bergerak bebas dirumah ini. Apalagi tamu khan raja!” celetuk Rendra sedikit mengobati ketidak enakan ku.


Ini adalah kali kedua kunjungan ku ke rumah kekasih hatiku, dulu pas awal awal pernah kesini sebagai kunjungan perkenalan. Dan sekarang sudah hampir satu tahun. Baru kesini lagi. Kami makan di sopa tamu, karena ruangan rumah subsidi itu sama dengan rumah kontrakanku. Bagian depan, kemudian 2 kamar dan bagian belakang dengan dapur disertai ruang makan. Dari raung depan menuju dapur kita akan melewati kamar mandi mini, sehingga kamar mandi ini ada di bagian tengah rumah.


Ruangan depan yang dihiasi beberapa buku di rak dekat televisi, belum lagi tabung kotak besar yang menggantung di bagian dingding rumah. Tabung itu adalah benda yang mengeluarkan hawa dingin didalam ruangan. Kembali lagi Rendra mebawa benda untuk menyalakan TVnya itu agar tidak terlalau sepi. Kemudian di dinding juga ada kalender yang bergambarkan foro anak.


“Itu anak mu Mas?” tanyaku padanya.


“Iya, dia yang bikin. Katanya biar berasa aku nemenin ayah!” ungkap Rendra dengan berbangga.


Kami menyantap makanan dari suapan satu kelainnya, sembari menikmati tontonan TV yang tak tau filem apa judulnya?. Aku yang berposisikan duduk disofa sedangkan dia duduk dibawah, duduk kami sangat dekat. Bahkan sikutnya Renda di semayamkan di pahaku. Sesekali dia menambahkan basonya kemangkuk punya ku. “Kebanyakan akh, kenyang” ungkapnya sembari bercanda.


“Gak, mau aku juga kenyang!” balasku sambal melemparkan basonya yang datang kemangkuk milikku.


Dengan canda tawa, dan beberapa sentuhan ditangan ku. Tiba tiba dia berkata “Maafkan aku, sudah lama kita tidak bersama seperti ini. Maafkan kesibukanku dengan pekerjaan dan anakku!”


Aku hanya memberikan senyuman termanis yang aku miliki, seraya senyuman itu mengungkapkan persetujuanku terhadap rasa bersalahnya.


Kemudian posisi duduknya beralih menjadi sejajar dengan ku, dia minum dan kembali menyimpan gelasnya dimeja kaca.


“Terimakasih untuk pengertian kamu, terimakasih untuk pemahaman kamu. Karena tidak semua perempuan single yang tau kondisi pria duda seperti aku!” ucapnya lagi yang mengharapkan iba dariku.

__ADS_1


“Entahlah, aku mau ngerti segala hal yang kamu punya. Mungkin karena aku sudah yakin sama kamu Mas!” ungkapku untuk memberikan kenyamanan padanya.


“Terimakasih, yach!”


Aku mengangguk untuk mengungkapkan kata “sama sama”. Namun suasana sendu itu membawanya untuk berani menyentuh tanganku dan mengenggamnya dengan erat.


“Waduh, kenapa jantungku berdetup kencang……!” hatiku berbisik.


“Kamu nervous?” tanya Rendra padaku.


“Enggak!” jawabku menutupi kecurigaanya.


Dia Nampak berani terbawa suasana hati, padhal suasan berdua satu ruangan itu sudah hampir beberapa kali. Apa mungkin aliran darah ke otaknya sedang meninggi, atau memang dia menunggu moment ini.


Dengan menghela napas panjang, “Hemhhhh….. .” Aku mencoba mengalihkan perhatian Rendra ke filem yang masih tak tau judulnya apa?


“O…yah…lumayan lah ga usah ke bioskop!”


Tangan kanannya kini ada di pundak ku yang bagian kanan, jadi posisinya seperti sedang menggandengku. aku hanya menelan ludah, melihat sikapnya yang sedikit agresif.


Menonton TV dengan berwajah tegang, menganggap semua baik baik saja. Tanganya kirinya Rendra menepuk nepuk bagian paha atasnya. Seperti ingin respon dariku untuk menoleh kearah kiri, sedangkan sekali aku memalingkan wajah. Langsung bertemu dengan wajahnya.


“Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku harus bagai mana? Kuatkan aku?” kata hatiku.


Kaki kirinya di goyang goyangkan seraya memberi tanda, kalau aku harus memberi respon atas gandenganya yang sudah sangat dekat.


Akhirnya kecupan bibir lembutnya mendarat dipipiku. Aku sontak menoleh kearahnya, wajahnya ada tepat didepan wajahku. Hanya maju satu centi, bibirnya sudah hinggap dibibirku. Tak banyak kesempatanku untuk mundur, karena tanganya menahan kepalaku dari belakang. Ciuman itu pun terjadi dan aku hanya bisa menikmatinya.


Aku hanya sedikit takut, karena dari ciuman ini tentu ada anggota tubuh lain yang bereaksi. Yang aku takutkan, ada hal lain yang terjadi dari sekedar ciuman ini.

__ADS_1


Aku mencoba melepaskan diri, tapi bibirnya kembai hinggap. Kini tangan kirinya turun kebawah menuju pinggang dan tangan kanan yang meraih bagian belakang kepala ku untuk memastikan aku tidak mundur dari ciuman yang aku biarkan.


Padahal kami baru saja makan baso merecon, aroma baso tercium dari mulutnya. Belum lagi dia makan baso dengan varian pedas level 1. Aku namai saja ciuman rasa baso pedas level satu dengan gairah tinggi, atraksi ini berlangsung sangat lama. Rentangya ada sekita 4 menit, hampir sama dengan cover lagu di youtube. Kemudian dia mengakhirinya dengan memejamkan mata, dan mengecup keningku dengan ucapan “Maksaih Sayang”. Dia langsung pergi kekamar mandi dan terdengar suara air yang dibasuhkan terhadap sesuatu.


Sekeluarnya dia dari kamar mandi, dia langsung bertanya,”Mau langsung pulang atau mau istirahat dulu disini?”mungkin karena hari sudah mulai sore, sehingga dia bertanya soal pilihan yang akan di ambil.


“Pulang aja!” sku merespon dengan sigap.


“Kenapa? Takut?” kata Renrda yang sedang menuangakan minum kedalam gelas


“Enggak, Riki suka cerewet!”


“Ko, Riki yang cerewet?” tanyanya kebingungan.


“Pokoknya gitulah, aku ga bisa jelasin!” jawabku yang tak mau menjelaskan secara gambling.


“Tapi kamu baik baik aja khan?”


“Iya,…!” Aku menjawab sembari memberikan anggukan terhadap kondisi ku saat ini setelah ciuman berdurasi panjang itu.


Mungkin Rendra beranggapan, aku anak lugu. Atau bahkan tak berpengalaman, karena aku gugup menghadapi api cintanya yang membara. Andai saja dia tau, aku adalah wanita yang pernah ,melakukan hubungan berlebih sebelum menikah sehingga mempunyai anak. Tak tau seperti apa reaksi yang akan dia timbulkan. Bisa saja dia mengajak lebih dari sekedar ciuman atau malah mencibirku sebagai wanita gampangan.


Aku harus masih menutup rapat pintu itu, sebelum waktunya tiba. Jika aku ungkapka dari awal, ketakutan ku dia malah pergi karena ilfil. Padahal Riki pernah bilang untuk jujur sebelum memulai hubungan.


“Kalau aku jujur, apakah dia masih bisa menerimaku?”


“Kalau dia bisa menrimaku, apakah dia bisa menerima anakku?”


Pergejolakan batinku bergemuruh tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2