Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 20


__ADS_3

“Ide busuk apa?”Pertanyaan itu datang dari arah pintu kamar.


“Mbak…!”Ternyata Mbak isma mendengarkan semua yang kami bicarakan.


“Mas, kita langsung saja panggil penghulu” Ungkap Mbak Isma dengan sedikit emosi.


“Jangan emosi begitu, kita bicarakan ini baik baik” Kata Mas Ridwan yang selalu menenangkan.


Angga tiba tiba datang dengan wajah kantuk ditekuk, “Kenapa ini?”


Teriakan Mbak Isma terdengar sampai ke rumah orang tuanya, dan respon Angga sontak membuatnya langsung menuju rumah kakaknya.


++++++


Setelah beberapa percakapan yang penuh emosi, akhirnya kami berempat saling terdiam. Suara Mbak Isma yang memekikkan telinga, membuat Angga dan Mas Ridwan merasa khawatir suara itu terdengar sampai kampung sebelah.


“Kalau seandainya kalian menikah, apakah kamu mau Mel?” Pertanyaan dengan nada lembut itu datang dari mulut Mas Ridwan.


“Mas, sepertinya saya tidak bisa. Saya sudah melalui hari yang berat. Dan saya baru bisa merasa percaya diri melihat banyak orang setelah sekarang ini” Ujar ku.


Mbak Isma yang kesal dengan kelakuan adiknya itu, mengepalkan tangan seraya ingin segera memukul kan kepada adiknya. Sementara Angga malah melipat wajahnya menuju kearah lantai rumah kakaknya.


“Aku pernah janji buat menanggung semua susu Kemal, aku pikir ini hanya bentuk kasih sayang dari ibu yang mengabaikannya. Aku juga pernah berjanji untuk membawanya, tapi insyaallah nanti kalau saja sudah ada laki laki yang mau menerimaku apa adanya”


Mendengar ungkapan tegar ku, Mbak Isma tak kuasa menahan emosinya lagi.


“Dasar kamu, laki laki kampret, malu aku punya adik seperti mu. Pantas saja hidupmu urak urakan kay..a gini…..!”Ungkap Mbak Isma dengan memukulkan tinjuan lembutnya itu pada adik laki lakinya.


“Sudah mah, sudah….jangan seperti ini.”Kata Suaminya dengan memeluknya dari belakang supaya menghentikan pukulannya terhadap Angga.


“Kamu harus ambil hikmahnya, bahwa selama ini kita merawat anak adikmu sendiri. Bukan anak orang lain atau bahkan anak Tukang Mie Ayam”

__ADS_1


“Saya benar benar minta maaf karna sudah merepotkan!” Kata maaf itu aku lakukan dengan sedikit bersujud.


“Jangan seperti itu bangunlah…..!”Mas Ridwan masih menjadi jaksa yang baik hati dan menenangkan di pengadilan hidupku ini.


“Okeh, kamu gak usah membawa anak ini. Toh kami sudah mencintai anak ini seperti anak kami sendiri. Menikahlah, dan mulai semua dari awal” Kata kata bijak itu keluar dari mulut seorang ibu. Sepertinya dia tau betul seperti apa perjuanganku melawan kenyataan.


“Terimakasih untuk semua kebaikannya, semoga Allah membalas kebaikan hati kalian dengan indah. Tapi untuk menikah sepertinya tetap tidak bisa.”Jawabku dengan tertunduk malu. Malu dengan semua dosa yang pernah ku buat.


“Begitukah…!”Jawab Mbak Isma dengan agak ketus.


“Mbak….!”kata Angga seraya ingin teriak tapi tertahan


“Diam kamu…!”Mbak Isma malah membentak adiknya.


“Baiklah, kalau itu keputusanmu. Kami tidak bisa berbuat banyak. Tapi sebagai seorang ibu alangkah baiknya dipikirkan dulu. Paling tidak jika jarak mu dekat dengan kami, kamu bisa melihat tumbuh kembang Kemal dengan baik!”Ungkap mas Ridwan dengan bijaknya.


Air mata ini tak kuasa ku bendung, aku yakin kata kata Mas Ridwan ini memang ada benarnya. Tapi apa boleh buat luka yang pernah ada membuat hati ini menolak untuk mengatakan iya. Belum lagi aku sudah punya komitment dengan Mas Rendra. Ini sudah lumayan rumit ceritanya.


Mereka menghormati keputusan ku dengan baik. Keadaan seperti ini memang jalan yang terbaik adalah menikah. Tapi ini sudah terkubur dalam dalam tentang pernikahan yang aku idamkan bersama Angga dulu.


“Aku Minta maaf, Mel!” Ungkapan Angga sembari memegang gas kendarai motornya.


“Aku yang mestinya minta maaf, aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya!”Penyesalanku pada Angga.


Sepanjang perjalanan kami, hanya kata itu yang bisa kami komunikasikan dengan baik. Karena aku terlalu sibuk untuk sekedar mengobrol. Ada pemandangan hamparan karpet berwarna hijau kekuningan sepanjang jalan, padi yang segera dipanen kompak berjejeran dipinggiran jalan yang dilalui.


Sesekali dia bertanya, “Dari mana tau alamatku”


Aku menjawab setelah beberapa menit berselang,”Google map…”


Dia malah geleng geleng kepala, ada rasa tak menyangka akan didatangi orang yang pernah dia cintai dengan sangat dulu. Kini berada dalam satu kendaraan yang bisa duduk dengan dekatnya, aku sengaja sedikit menjaga jarak duduk di motor bebek itu.

__ADS_1


+++++


Sesampainya di pernikahan Yuda, aku pun tidak melakukan banyak hal. Hanya meneteskan air mata saat ijab Kabul berlangsung. Angga yang hanya mampu melihatku sesekali. Melihat wajahku yang sendu, tangis terisak yang tertahan. Dan berdoa dengan hidmat disaat penghulu mengucapkan kata sah.


Kelakuan Angga yang tak karuan melihatku begitu, ingin menghibur tapi kami Nampak jaga jarak. Ingin sekedar meredakan tangis tapi dia tak mau menampakan perhatiannya.


Tidak bisa dipungkiri, meski sudah hampir 3 tahun berpisah perasaan itu masih ada. Belum lagi? Hubungan kami terikat adanya buah hati yakni Kemal.


“Aku pulang, titip ini buat Kemal.” Kata kata yang aku ucapkan sesaat sebelum berangkat pergi. Sembari mengepalkan amplop ke tangannya Angga.


“Ga usah…”Angga langsung mengembalikan Uang yang aku tabung beberapa bulan ini.


“Rasa sayang itu tidak bisa ditilai dari berapa jumlah uangnya, ini hanya bentuk perhatian kecil dari orang yang pernah mengandungnya.” Kataku mampu membungkam Angga yang bersikeras menolak Amplop berisi uang itu.


“Kalau begitu, kamu hati hati dijalan.” Kata simple yang di ungkapankan Angga padaku seraya melambaikan tangan.


Selama perjalanan panjang ini, pikiranku kesana-kemari. Berpikir plan ini tapi tak menemukan jalan keluarnya, memikirkan plan yang lain namun masih dengan penyelesaian dengan jalan buntu.


Tak tega melihat malaikat kecil itu menanggungnya sendiri, semua beban yang seharusnya ditanggung kedua orang tua biologisnya yang lari dari kata tanggung jawab. Bersyukur Kemal memiliki orang tua baru yang masih memiliki kaitan darah dengannya. Dahlia ini benar benar ada dalam kondisi kepekatan yang luar biasa.


Seandainya bis ini sama dengan bis yang aku tumpangi saat aku diliputi kegamangan waktu ke Bandung, mungkin sound bis ini akan mengeluarkan lagu Bunga Dahlia Juga.


+++++


“Apa…….? Siapa yang mengijinkan kamu ke Yogya?” Tanya Riki dengan nada membentak.


“Aku…aku…cuman” Jawabku dengan sedikit gugup. Tak tau dia akan bereaksi sekeras ini.


“Mel, kamu ga ingat kejadian waktu itu. Keputusan kamu yang tak pernah melibatkan aku sama sekali. Ketika kamu memutuskan untuk mengandung anak itu, keputusan kamu memberikan anak itu ke Angga dan sekarang diam diam kamu pergi mengunjungi Angga!” Ungkap Riki yang menunjukan kekecewaannya dengan mata melotot bak mau loncat dari tempatnya.


“Ki, Jangan gitu please. Aku kesana tidak menemui Angga! Tapi……!”

__ADS_1


“Tapi…Siapa?” Tanya Riki memotong pembicaraanku


“Kemal…aku bertemu anak itu!”


__ADS_2