Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 5


__ADS_3

Part 5


Kata-kataku begitu membingunkanya, mau bilang nembak ajah. Mesti dibulak balik dengan menggunakan kata lainya lagi.


“Yach, gitu lah maksud aku. Pokonya kamu jaga rahasia dulu dari Riki. Nanti pas waktunya tiba aku pasti bilang.” Ungkapan ku ini mampu menyakinkan Mega, sehingga tidak ada ungkapan lain berupa pertanyaan nya lagi.


Kesalahan aku memang, tidak terbuka dengan mereka. Padahal mereka seperti teman rasa sodara bagiku. Aku takut terGR GR sendiri terhadapnya, takutnya lagi tiba tiba dia PHP dan sebagainya. Takut saja karna aku belum tau betul dengan lingkungan dan teman temanya.


“Mel, malam minggu ini kamu ada acara ga? Ada film bagus di bioskop, nonton yuk?”


“Ga ada sich, nonton kayaknya ide bagus?"


Selalu saja aku dengan mudahnya setuju, apalagi malam minggu itu terkenal dengan malamnya muda mudi. Yang lagi pacaran misalnya, meski aku bukan pacarnya atau belum pacaran dengan nya. Berharap dia mengungkapkan perasaanya, yang merasa cocok dan pengen terus barengan sama kamu. Atau apalah kalimatnya intinya dia nembak.


Dan itu pun terjadi, semua sesuai dengan expectasi ku. Dia bilang merasa cocok, saling bergantung ngerasa pengen deket terus dan sebagainya. Hanya saja aroma yang kucium tidak sesuai dengan yang dijanjikan.


Bukan soal minyak wangi yang lupa dia belikan, tapi janjinya mengenai nonton dibioskop. Harus gagal karena hujan bertemankan angina kencang menghiasi. Akhirnya kata nembak pun harus diungkapkan di tempat duduk pinggiran minimarket dekat odong odong pokemon dan spongbob. Suasnanya memang tidak di idamkan, paling tidak pesan yang dia maksud sampai dengan baik.


“Gimana…jawabanmu, gimana soal itu?” tanya Angga sembari berharap tak karuan dibuatnya.


Aku yang sesekali memegang ujung meja dengan lembut, kemudian memberi jawaban dengan seksama.


“Emhhhhh…gimana yach. Aku bingung, ini terlalu cepat Mas. Tapi kalau aku pikirin dulu gimana?” Jawabku dengan nada sendu.


“Kenapa harus dipikirin dulu, sekarang aja jawabannya. Biar aku gak harap harap cemas nungguin?”


Agak maksa memang, tapi kalau sekarang aku memberikan jawabanya, itu tidak merubah apapun. Toh aku juga menunggu saat saat ini, saat dimana bunga ini dihampiri sang kumbang. Membuatnya merekah indah, berwana penuh pesona dan bahagia. Dengan gaya diplomatisku aku menjawab ajakanya.


“Aku pikir kita memang sudah dekat, kalau saja kedekatan ini diberi kejelasan status tentu lebih baik. Iya Mas, aku terima cinta kamu. Semoga kita bisa melaui hari dengan segala kepenuhan rasa, yaitu rasa bahagia.”


“Jadi, kita pacaran nich!” Ucapnya yang menunjukan wajah bahagia.


“IYA..” Tegasku


Wajah bahagianya terpancar nyata, wajahnya yang biasa redup kusam. Kini menjadi Nampak bercahaya berbunga bunga. Tak ayal seperti gedung lama yang dipasang sepuluh lampu neon merek oseram di dindingnya.


“Ga.. Angga. Aku panggil dari tadi ko ga nengok giman sich!” suara seruan itu terdengar jelas dari arah depan minta market berhadapan.


“Hey,, Yoga. Sini gabung!” Sahut Angga.


“Wah lagi berduaan nich, kalau aku gabung ganggu gak yach?”

__ADS_1


“Ayo sini, ,, gabung aja. Ga ganggu lagi. Banyak orang jadi seru!”


Angga sengaja mengajak Yoga yang teman baiknya, sekaligus teman sekosan. Supaya sedikit mencairkan suasana. Kami yang baru saja jadian pastinya akan sangat kikuk untuk pertama ngobrol dengan status baru.


Percakapan itu tidak berhenti disitu saja, Angga membawaku ke tempat mereka tinggal. Sembari melawati gang kecil kami mengobrol bertiga. Mengobrol kesana kemari, semua dibuat cerita. Pertemuan mereka disini dengan tempat kerja yang sama. Kemudian alasan memilih tempat kosan yang sama pula, yaitu agar mereka bisa saling bergantung yang menyerupai hubungan simbiosis mutualisme. Saling menggantungkan diri namun tetap menguntungkan kedua belah pihak.


“Kayaknya, aku pulang ya mas!”


“Ough iya, udah malam.”


“Iya bu kost ku suka ngunci gembok jam segini”


“Baiklah aku anter, takut nyasar nanti!”


“Ga nyasar sih mas, biar ada temenya ajalah di jalanya!”


Aku yang pamit ke Yoga, untuk pulang dan berjanji buat main lagi kesini. Walau hanya sekedar mengobrol.


“Nanti main lagi kesini tapi bawa cemilan!” Kata Yoga sambil bercanda.


“Oke, ! sembari berjalan aku sempatkan menjawab pertanyaan Yoga.


Kedekatan aku dengan Angga, semakin lama semakin saling bergantung. Setiap pulang kerja kami sempatkan bertemu. Makan bersama walau hanya nasi bungkus warteg dan Nasi Padang. Sesekali aku lihat Hp jika jam pulang kerja tiba, namun masih belum ada kabar bertemu. Atau melihat pintu kamarku yang sudah dengan biasa terbuka jam segini.


“Treng…….. treng…. .” Suara HPku yang dari tadi ditunggu.


“Duhai bungaku tetaplah disana, bermekar dan berwarna dengan Indah. Senyumu mewarnai tamanku, tak akan kubiarkan air mata mengalir dipipi. Bila senyumu warna baru dihidupku, maka tangismu adalah mendung gelap gulita.”


“Duh, mas ku ini. Lagi kawatir gini malah dikasih kata kata apa ini. Mutiara atau pantun sich, ga ngerti aku. Belum lagi balasnya gimana?”dalam hatiku bertanya tanya.


“Teng…treng…!”bunyi kedua HPku


“Jangan khawatir yach, aku kayaknya lembur. Jadi ga bisa bareng kamu hari ini. Nanti pas aku istirahat ditelpon?”


“Ya udah, ga pa pa. yang penting kamu ngasih kabar.”


“Jangan lupa makan!”


“Iya ,kamu juga!”


Percakapan ini, terasa begitu manis. Aku tidak habis pikir. Aku yang hanya ingin mendapatkan teman baru diwaktu senggang ku, tenyata mendapatkan orang baru yang berpangkatkan kekasih. Semoga saja tidak ada ganjalan atau batu krikil setelahnya. Berhara p semua baik baik saja tanpa tapi.

__ADS_1


Kring….. kring….. Terdengarlah suara telepon berbunyi.


“Hah telpon dari siapa?”


“Riki…waduh pasti Mega udah cerita kayaknya” hatiku berkata kata sendiri.


“Halo…”


“Eh, hai bunga lagi apa?lama banget angkat telponnya?” Tanya Riki.


“Nama ku Melia yach maaf!”


“Ga ngerti kayaknya ga pernah tuh ada temen yang namnya Melia menghubungi lagi, yach sekedar miscall saja tidak ada!”


“Iya, maaf!”


“Kemana aja jadinya kamu selama ini?”tanya Riki dengan penuh ketegasan


“Ada, ga kemana mana. Sibuk juga biasa aja?”


“Masa sich….Mega bilang katanya kamu sibuk banget. Sibuk apa emang?” Tanya Riki masih diliputi kejengkelan.


“Iya dech. Aku kenalin dia sama kamu!” Aku menjawabnya dengan sedikit terpaksa.


Padahal aku memang ada niat buat mengenalkan Mas anggaku sama dia. Hanya saja mungkin waktunya masih belum tepat.


“Dari kapan emang ?” Pertanyaan baru lagi dari Riki


“Ga tau dari kapan, cuman intinya aku deket sama dia. Aku bilang ko sama Mega , nanti aku kenalin sama kamu, pas aku beneran udah jadian!”


“Terus kamu udah jadian?” Tanya Riki lagi.


“Kayaknya?”


“Kayaknya apa???” Bentak Riki.


“Sabar bang!”


“Ga bisa ini, kelewatan ini. Katanya mau dikenalin dulu sebelum jadian. Nah sekarang malah udah jadian gima sich!” Nada suara Riki yang agak kesal.


“Sama aja kah initinya aku kenalin juga”

__ADS_1


“Aku tunggu kabarnya…, kalau sudah seleksi baru bisa lanjut!”


Suka pengen ketawa sama dia. Protektifnya memang Nampak seperti dia itu, ajudan atau lebih tepatnya satpam.


__ADS_2