
Part 14
Angga sebenarnya masih punya jawaban untuk memberi alasan pada Yuda. Tapi dia pikir itu akan percuma. Nuraninya Yuda sudah beguitu tersentuh dengan politik santunya Riki. Dan apa boleh buat, segala hal yang di ucapkan Yuda adalah kebenaran. Dia hanya mampu terdiam dengan mata kosong. Yuda masih terengah engah menahan emosi jiwa yang nguasai diri.
“Asal kamu tau. Aku dengan Gina juga pernah melakukanya beberapakali. Tapi semua ada pilihan. Aku menggunakan pengaman agar tidak terjadi hal seperti ini.” Ungkap Yuda pada Angga.
Diamya Angga semakin memanjang, menghela nafas panjang dan menunduk lebih dalam. Penyesalanya dating setelah amarah teman baiknya. Yuda hanya laki laki biasa, dia memihak pada Riki karena dia pikir hidupnya ada karna seorang wanita. Akan sangat menyesal kalau saja ada lak laki yang menganggap remeh perempuan. Apalagi perempuan ini sudah menggadaikan nyawanya untuk jabang bayi yang tidak diindahkan oleh ayah biologisnya itu.
Niat baik Yuda didukung oleh pegawai koprasi pabrik tempat mereka bekerja. Tidak ada persyaratan berarti dari pengajuan pinjaman karyawan. Batas maksimal pinjaman yang bisa diajukan adalah sekitaran 15-10 juta. Maka pengajuan 5 juta tidak ada kesulitan teknis bagi mereka.
“Ini buat apa pa Yuda uangya?”tanya pegawai koprasi pabrik terkesan ingin tau.
“Teman kita ada yang sakit!” jelas Yuda
“Baik banget punya temen kaya pa Yuda dan pa Angga!
“hemhh….!” Senyum Yuda dan Angga Nampak tertahan
“Ini uangnya, semoga bermanfaat yah!”
“Iya sama sama pak!”
Pinjaman 5juta itu mereka cicl berdua. Karna cicilanya 600rb per bulan jadi dalam struk gajih mereka ada potongan sekitar 300rb per bulan.
“Uang ini transfer ke rekeningnya Riki, nomernya ada di pesan WA semalam!” Tegas Yuda pada Angga.
Angga yang menurut saja karna ada bekas beradu mulut kemarin malam dengan teman baiknya itu, segera pergi ke luar bangunan pabrik menuju ke toko kolontong terdekat yang menerima jasa untuk transfer uang.
++++++
I bulan berlalu begitu cepat. Melia dan Mega berbincang di ruangan favoritnya.
“Meg, mestinya senin depan aku masuk sekolah lagi!” ujar ku
“Iya, kalau dilihat dari surat ijin sakit dari dokternya memang jatuh pada hari senin. Tapi anak ini sama siapa kalau kita pergi kesekolah?”Pertanyaan Mega yang tak tau diarahkan pada siapa.
__ADS_1
“Aku gak mungkin merepotkan kalian lagi!” ucapku dengan mata sedikit sembab.
“Enggak ko, kamu gak merepotka sama sekali” respon Mega dengan sedikit menghibur.
3bulan ini, aku dengan setengah uang gajiku dari sekolah. Biaya ini itu aku yang ceritanya pinjem dari Riki dan Mega. Kalau saja aku tetap bertahan dengan kondisi seperti ini aku pasti akan sulit untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan atau bangkit dari rasa cinta yang sunyi senyap.
Wajah Mega yang sama lusuhnya denganku. Peluh Riki yang kesan kemari mencari tambahan biaya untuk kebutuhan bayiku ini. Membuat aku berfikir keras.
“Mel, kamu gak usah berfikir yang lain lain. Kita akan selalu ada buat kamu!” Kata kata Mega masih memberikan ketenangan.
Padahal Aku dan Mega setiap malamnya bergiliran. Dari menyusui anak, ganti popok, atau menggendong sampai dia terlelap.
“Mega, aku punya ide. Tapi aku yakin Riki pasti sedikit keberatan”
“Mel, plis jangan berfikir macem macem!”
“Enggak ko, pikiranku hanya tentang satu macem. Kamu bantuin aku beresin barang barangnya bayi ini!” Jelas ku padanya sembari memberes kan beberapa pakian bayi yang baru dicuci dan belum sempat dilipat.
“Kita mau kemana?” Tanya Mega heran
“Kamu gila, Mel!”
“Enggak Meg, aku yakin sampai saat ini aku masih waras!”
Mega yang masih bertanya tanya kemana aku akan membawa bayi ini. Tak kuasa menolak permintaanku untuk mememaniku ketempat yang akan dituju.
Aku membawa HP dan menghubungi seseorang.
“Bisa kita ketemu di restoran padang sederhana kan?Aku menunggu mu sekarang!”
Mobil angkot yang aku tumpangi berhenti tepat ditempat yang sudah aku sebutkan dalam percakapan telepon tadi. Ada Angga disana, orang yang aku ajak bicara dalam telepon itu adalah ayah dari bayi ini.
Wajah Angga memang Nampak sumringah mungkin bisa ketemu denganku setelah sekian lama. Tapi berangkat dari rasa sakit dan keinginan untuk bangkit. Aku mencoba menjadi pemeran Antagonis untuk kehidupanku sendiri. Sedangkan wajah Mega yang masih mengendap endap tampak keheranan.
“Meg, kamu tunggu disini. Aku mau ngobrol ssebentar!” jelasku pada Mega
__ADS_1
Rumah makan padang ini memang agak besar di daerah ini. Makanya aku harus berjalan sekitar 30meter dari beranda ketempat Angga duduk tadi.
“Apa kabar Mel?” tanya Angga untuk membuka percakapan kami.
“Baik!” jawabku singkat.
Beberapa kali Angga melirik bayi yang ada di dekapanku.
“Bawalah bayi ini” Kataku dengan penuh ketenangan
“Apa, maksud kamu apa?”
“Iya, bawalah bayi ini”
“Aku harus membawanya kemana Mel?” tanya Angga yang kagetnya luar biasa.
“Seperti kamu yang masih belum siap bertanggung jawab, aku juga masih ingin berkarir. Soal kamu mau membawa anak ini kemana terserah kamu. Apakah ke panti asuhan, ke Rumah orang kaya atau ketetanggamu yang sekiranya belum punya anak.”
“Kamu nyuruh aku membuang bayi ini”
“Tidak bukan itu maksudku. Aku butuh waktu 2tahun untuk bangkit. Setelah itu aku akan membawa anak ini lagi. Ya, harap harap ada laki laki yang mau menerimaku apa adanya.”Ucapku dengan berlaga jadi orang jahat
“Kamu gila…!”
“Enggak, aku yakin masih waras ko. Yang membuat aku gila hanyalah mencoba menata hidup tanpa orang tua. Kalau saja aku terus merepotkan mereka dalam jangka waktu lama. Apa gunanya kamu yang pernah menjadi partner selama membuat anak.”
“Kamu selalu saja membuat keputusan yang ceroboh, jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Kamu bawa anak ini kemanapun kamu mau. Dengan catatan kamu harus tau siapa atau tempat mana yang menjadi tujuan anak saat ini dititipkan. Disaat waktunya tiba aku tidak akan kesulitan untuk mencarinya. Nama anak ini adalah Kemal Pasya. Tunggu bukanya kamu pernah cerita kalau kakak kamu juga pernah pengen punya nak lagi khan? Menurutku itu bukan ide tang buruk. Paling tidak kamu masih bisa melihat anak kamu diurus oleh bu’denya.”
“Gak mungkin, mereka pasti akan bertanya. ini anak siapa?” tolak Angga dengan tegas.
“Menjawab pertanyaan itu lebih gampang, dari pada mengandungya selama 9bulan. Bilang saja ini anak tukang mie ayam. Gampangkan!” aku mengajukan ide cemerlang.
Angga masih tertegur diam. Sedangkan jantungku berdetup kencang. Kalau saja ketidak warasanku ini masih bisa menyelamatkan aku atas keputusan cerobohku memilih pasangan, kenapa tidak untuk dilakukan. Aku benar benar menutup telinga dan matahatiku. Mencoba untuk berfikir jernih pun aku tak mampu. Semua sudah Nampak keruh kehadapan mataku.
__ADS_1