Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 12


__ADS_3

Part 12


Disaat aku mengingat mu wahai sang kumbang ******. Naluriku sedikit tergerak, untuk tau seperti apa nasib orang yang menggoreskan luka padaku. Masihkan dia baik baik saja, atau sudah pergi kenenraka.


Ai mataku tak kuasa tertahan, seperti hati ini menghakimiku. Aku tidak memberikanya ruang untuk sedikit bernafas. Mungkin sekedar waktu yang aku berika padanya, untuk bisa mengucapkan “IYA” menyetujui persetujuan yang aku ajukan padanya. Hanya saja aku baru tersadar bahwa pilihanku ini bisa jadi melukai dirinya. Apa boleh aku sekedar mengintip masalaluku denganya,” tidak banyak Tuhan. Plis aku mohon!”hatiku berkata sembari aku lihat langit langit kontrakan warna putih kusam.


Aku memang pernah ada dimasa dimana aku bahagia saat bersamanya. Apa mungkin aku yang salah tidak bisa menjaga kehormatanku disaat aku dimabuk cinta bersamanya, atau dia yang mencari berbagai celah untuk bisa masuk dalam ragaku dan akhinya menitipka benih benih asmara yang kini berdetak keras jantugnya dirahim ku.


“Aku ko kaya pengen pergi kepasar.” Ujarku bicara sendiri.


Tnpa pikit panjang, dengan kaki yang sudah mulai berat digerakan aku berangkat kepasar sendiri. Disela sela waktu kerjanya mereka. Aku memberanikan diri untuk pergi keluar.


“Naik apa yach? Eleft atau angkot? Elef aja dech, biar duduknya agak selonjoran tidak nekuk kayak diangkot!” Masih bicara sendiri.


Tidak lama kemudian datanglah mobil yang aku tunggu. Bahkan dating dengan beriringan.


“Terminal Bekasi,,,terminal,,,,,terminallllll” Teriak pak supir lantang.


Tanpa pikir panjang aku menaiki mobil itu. Tanpa AC dan tanpa Musik.


“Dimana mbak?”Tanya pak supir


“Pasar pak!”Jawabku


Lega sekali dunia ini. Karna sudah 3bulan sudah aku berada diruangan pengap itu. Larangan Riki padaku mengenai jalan keluar karena khawatir orang akan curiga memeprtanyaakan perutku yag makin mancung sedang aku tanpa pasangan.


Berharap dalam hati aku tidak bertemu dengan orang yang aku kenal. Sedikit melihat lihat Kota Bekasi yang didominasi hawa pabrik nan panas. Sebelum menuju ke arak pasar Cibitung, ad ataman Cibitung yang harus aku lewati dulu. Sialnya mobil itu ngetem agak lama disana.


Terbukalah lagi mengenai gambaranku dimasa silam. Tempat ini tempat yang selalu aku kunjungi. Tepatnya dihari libur kerja kami. Aku dan Angga duduk ditempat duduk yang di lindungi pohon mahoni besar.

__ADS_1


“Pasti anginya sepoy sepoy” Ujarku dalam hati


Sesekali si jabang bayi menampakan sikutnya kepermukaan perutku. Tidak lama dibarengi dengan dua tendangan manja.


“Sebentar lagi sayang nyampe ko”


Ckekes…….ckekes……! Suara mobil tua itu dibunyikan. Tanda pak supir akan beranjak dari tempat itu.


Aku gak ahabis pikir sama pak supir. Perjalananku meuju ketempat itu, sekitar lima menit lagi. Sekarang malah dipakai ngetem. Jadi aku harus nunggu lima menit lagi untuk nyampai ketujuan. Sebelum berangkat, ingin rasanya aku lihat lihat lagi taman itu. Barangkali ada Angga sedang termenung lelah menungguku. Berharap aku akan kembali dating dalam hidupnya.


“Hah….itu Angga….”Nada suaraku yang berbisik masih saja Nampak penekanan.


“Ternyata betul itu Angga, sama siapa itu yach. Ough ada Yuda & Pacarnya. Lho ko Angga juga sama cewe?” kata hatiku bertanya tanya.


Sayangnya mobil yang aku naiki ini beranjak dari tempat itu. Sehingga aku melihat mereka masih samar samar karena jaraknya yang agak jauh.


Tapi aku yakin itu Angga. Bahkan si jabang Bayi meresponya dengan tendangan.


Disaat belanja dipasar itu. Aku malah kepikiran sama kejadian tadi. Tak habis pikir kenapa Angga malah membenahi hatinya dengan orang lain. Bukanya berfikir untuk membenaahi diri untuk segala kelkuan bejadnya itu.


“Aku berjanji dalam hati, kamu akan mendapatkan balasanya. Tidak akan tenang hidupku kalau saja tak aku dapati dirimu dengan keadaan lusuh menikmati derita hidup.”Masih dengan hatiku aku aku berkata kata.


“Astagfirullahaladim. Jauhkan aku dari sifat dendam!” dengan rasa bersalah ingin rasanya aku me-skip apa yang aku utarakan tadi. Maaf Tuhan aku tidak mau rasa dendam ini menghantui hidup.


Tidak lama berselang. Aku sudah sampai di jalan menuju kontrakanku yang dekat dengan kontrakanya Mega. Aku berjalan seperti biasa, tidak ada bedanya dengan jalanku pada waktu yang lainya. Tiba tiba ada suara ibu ibu teriak.


“Mbak…mbak….mbak…!


“Saya bu….?”Tanya ku desngan sedikit keheranan.

__ADS_1


“Itu roknya ada darahnya…..!”Suara ibu ibu itu melengkapi kalimatnya.


Aku yang terhentak kaget, mencoba menyentuh bagian belakang rokku dengan beberapa jemari ditangan kanan. Aku mngentuhnya, karna ada bagian yang agak basah. Aku ambil cairan itu tepat kedepan hidungku. Sedikit kulihat dan kucium. Ternyata benar ini adalah cairan bau amis darah. Hatiku sedikit bergetar. Takut dan malu disertai rasa was-was taku ketauan tetangga baruku. Kepalaku agak keleyengan, ingin pingsan tapi bagaimana? Ini di gang penuh sesak. Mau bertahan mata sudah kunang kunang tak karuan. Belum lagi belanjaan yang banyak ditangan. Dengan sigapnya ibu ibu itu menangkap tubuhku yang lemas.


“Embak ga apa apa?” tanya ibu itu.


“Bu tolong telponkan nomor ini!” kataku pada ibu yang tidak aku kenal sama sekali.


“Tempat tinggal embak disebelah mana?”


“Disana bu” Aku menjawab dengan menujukan jari telunjuku kebagian arah bangunan mini berwarna pink.


“Baiklah ibu anter yach!”


Aku mengangguk tak berdaya. Dia membawaku ke kontrakanku dengan sedikit diseret. Aku yang sudah tak tahan kaget. Ingin segera tiba dikontrakan. Selain membawa tubuhku yang lumayan berat, tangan kirinya mengangkut kantong kresek merah yang dipenuhi dengan belanjaan. Perjalanan 20meter itu tak ayal seperti perjalan bis Bekasi-Bandung yang begitu panjangya.


“Halo…Mel…Mel…kamu kenapa!” Suara Riki yang terkaget kaget.


Aku yang menelponya tapi tak bersuara karna msih dengan harapan kecilku yang ingin segera ke kamar.


Aku memberikan kunci ke ibu ibu tadi dang menyurunya membukakan pintu.


“Kita sampai mbak….tahan yach?”kata si Ibu sembari merapihkan beberapa bantal bau jigongya Riki di permukaan Kasur.


“Saya udah gak kuat bu…..gak kuat…..duhh….!”kataku dengan meringis.


Terdengarlah suara bayi kepermukaan. Aku melahirkan dikamarku dengan ibu ibu tak dikenal. Beberapa kain dan baju menjadi saksi bisu kelahiran nyawa baru. Karna tak tau harus mengelap darah yang terceceran di kamar dengan apa? Akhitnya si ibu dengan inisiatifnya, mencari baju dan kain seprey miliku.


30 menit berselang, Riki dating dengan Mega dan Sofi. Sofi adalah teman SMA nya Riki yang bekerja dikelinik bersalin daerah Cikarang utara. Wajah pucatku yang mereka kawatirkan, padahal di penjuru kamar ada malaikat kecil yang sedang menari nari kecil tanpa nyanyia.

__ADS_1


Sontak Sofi merasa kaget, dia langsung menekan bagian perutku.


“Tahan nafas……tarik…tahan keluarkan…..!”


__ADS_2