
Part 11
“Seharusnya kamu cerita semuanya, sebelum terlanjur seperti ini!”Ujar Riki padaku
“Aku pikir tidak akan seperti ini!” Jawabku
“Lalu, apa rencana kamu selanjutnya?”Tanya Riki dengan suara payaunya
Aku tau suara payau itu mewakili suara hatimu, kamu yang selalu mendampingiku disaat suka dan duka. Sedangkan kamu harus medapati aku dengan keadaan seperti ini.
“Ki, apakah kamu masih menyayangiku. Masih menghargai aku sebagai orang yang ada dalam keadaan nista.?”hatiku bertanya tanya
“Mel, perasaan kamu gimana?”Tanya Riki
“Aku baik baik aja. Kalaupun aku melalui hari dengan badan dua nanti aku berharap kalian selalu ada!”
“Mel, kamu yakin dengan keputusan mu ini?”
“Mudah mudahan…!”
“Kalau semisal kamu masih ragu, kita masih bisa rundingkan lagi dengan Angga. Karna melalui hari hari kedepan akan sangat sulit!” Ujar Riki memberi sedikit saran padaku.
“Aku pikir tak harus libatkan dia lagi. Ini sudah jalan yang terbaik yang harus aku pilih!” kataku sembari mengelus ngelus perut bawahku.
“Jadi kata dokter usia kandunganmu berapa minggu?” Tanya Mega dengan rasa ingin.
“12 Minggu, masih harus menunggu 32 minggu lagi.” Kembali ku elus perut ini.
“Mel, kamu yakin kuat?”Mega bertanya dengan nada penegasanya.
“Asal kalian ada bersamaku!”
“Baiklah jika itu memang keputusan mu, aku tidak akan menganggu gugat. Semoga kita semua kuat melaluinya.”
Tahap awal yang dilakukan adalah, Riki mengurus kepindahanku ketempat kontrakan yang lebih dekat dengan Mega. Tak mau ada kontak lagi aku dengan dia.Ya, Angga! Tahap kedua aku harus berencana untuk mengambil cuti lebih awal sebelum perutku membesar.
“Bu Mel Mel sekarang mah aga gendutan!”Kata Aisyah teman sekerjaku.
__ADS_1
“Masa sich? Seneng kali yach aku!”Aku sedikit mengelak dari kenyataan.
“Bukanya kemarin sering sakit?”Tanya bu Mawar
“Iya sich bu, kemarin kemarin aku sering sakit. Sekarang nafsu makanya lagi naik jadi berat badan ku naik juga bu!”Masih dengan alasan buatan.
“Kamu sakit apa sich Mel, wajah kamu Nampak sehat sehat aja?” tanya Bu Mawar masih dengan rasa ingin tau nya.
Aku dan Mega saling tatapan, sedang mencari alasan.
“Magh….” “Liver…”
Sialnya aku dan Mega berkata bersamaan. Niat Mega memang membantu tapi malah jadi membuatku kikuk.
“Lho ko, ada 2. Penyakitnya yang mana jadinya?” Bu Mawar masih menguntit.
“Iya bu, sebenarnya awalnya magh cuman berlanjut ke liver. Nantinya kalau Maghnya makin angkut jadinya ke liver.” Jawab Mega masih dengan dada bergetar dan penjelasan semrawut.
Bu Mawar ini, bisa bisanya dia mewawancarai hidupku. Rasanya masil mending aku diwawancarai masuk kerja dari pada wawancara jenis ini. Dia menjadi penguasa disini, padahal aku adalah pengendali dari hidupku sendiri. Kemudian apa alasanya dia menguras tenaga dan pikiranku saat ini untuk menjawab pertanyaan pertanyaanya yang notabene akan menghasilkan alasan baru dari setiap kebohongan yang terucap.
“Tapi sekarang udah masuk ke Liver belum?”
Aku dan Mega masih bertatap tatapan, penuh dengan harapan. Harap harap bu Mawar menghentikan pertanyaannya, berharap juga penyakit itu tidak hinggap seperti apa yang diutarakan.
“Amit amit…..!”dalam hatiku sembati mengetok ngetokan tanganku ke meja.
“Kalian InI aneh, masa ada penyakit yang menuju. Ya tapi mudah mudahan bukan penyakit macem macem!”
“Macem macem gimana bu?” Tanya Mega
“yach, penyakit macem macemnya anak muda lah. Gara gara cinta misalnya. Pusing pusing, mual mual ga jelas.” Sembari pergi begitu saja meninggalkan kami dengan menyisakan seribu tanya dari akhir pernyataanya.
“Kamu tau ga sich, ibu yang satu itu. Selalu begitu ngomongnya cerewet. Ngomong ini ngomong itu, ga mikirin gimana rasanya dengan kata katanya itu.”Gerutu Mega
“Udah lah, kita khan udah tau karakternya kaya gitu. Biarin aja.”Ungkapku Menghadapi kata Mega.
“Padahal dalam hati jengkelnya luar biasa. Tapi aku coba untuk sedikit menahan. Gak terbayangkan kalu jengkelnya aku dan mega disatukan jadi Jengkel Pangkat 2”
__ADS_1
Tapi ada kemungkinan lain. Mungkin saja bu Mawar curiga, Karna dia adalah orang yang paling sering melihat aku dengan Angga di Taman Cibitung. Tatapanya selalu sinis, berprasangka dan mengungkapkan apa yang menjadi keyakinanya. Dan kami (aku, Riki, Mega) berjuang keras untuk menutupi segala kecurigaan orang terhadapku. Menutupinya dengaan kebohongan, dari satu kebohongan ke kebohongan lainya. Karena aku memakai jaket terus, beralasan sakit padahal wajah segar bugar. Memakai pakaian yang longgar atau sekedar makan makanan yang segar seperti buah buahan masam yang memancing kearah kecurigaan mereka.
++++++
6bulan berlalu begitu cepat. Perutku yang besar sudah tidak dapat disembungikan lagi. Tahapan kedua sudah dilaksanakan tanpa hambatan. Sesuai rencana aku mengajukan cuti 3bulan untuk masa pemulihan sakitku. Mereka ingi menjenguk ku, tapi Mega yang dengan pintarnya menutupi segala hal.
“Jadi kamu bilang apa ke mereka?” Tanyaku penasaran
“Aku Bilang, Bu Melia lagi di Bandung. Berobat jalanya disana. Tapi tau khan bu Mawar, dengan wajah penasaranya malah bilang .Saya juga mau ke Bandung Kasih aja alamatnya bu Melia!. Suka kesel aja ngeliatnya, kenapa kalau dia penasaran pun coba ada rasa belas kasihan gitu”Jelas Mega dengan ditainya.
“Udah biarain aja lah, Cuma dia aja yang gitu khan.” Kata ku dengan menjelma menjadi seorang pemaaf.
“Kemarin aku ngeliat Angga”
“Hah dimana?” Aku agak kaget
“Disekolah!”
“Dia nyari aku…?
“Gak tau jelasnya, cuman dia nungguin sampai aku pulang!”
“tapi kamu…”
“Aku sengaja kemarin ke kontrakanya Riki dulu, kata Riki emang dia yang cerita soal perut kamu yang semakin membesar.”
“Bua tapa Riki ngomongin soal ini ke Angga” Tanyaku dengan sedikit meringis.
“Kata Riki Biar dia kepikiran minimalnya, dari pada polos banget khan”
“Enggak…Riki ga boleh kaya gitu lagi. Meg, aku kalau inget dia kepala suka pusing. Pusinya tujuh keliling. Jadi bilangin ke Riki gak usah mengungkit apapun lagi kedia”
“Ough, aku pikir kamu bakal seneng dengernya”
Dengar lagi soal Angga, perut besarku mendadak mules. Seperti mau buang air tapi enggak jadi. Seperti awal datang mestruasi mulesnya suka kaya gini.
Apa si jabang bayi ini tau betul yang kami bicarakan.” Ungkapku dalam hati.
__ADS_1
Orang ini adalah orang yang telah menitipkan detak jantung baru ditubuhku. Kini tinggal menghitung hari tepatnya untuk melahirkan. Menurut dokter HPL nya jatuh pada tanggal 30 bulan ini, dan sekarang sudah hampir tanggal 15. Tak mau sebenarnya memikirkan orang itu, apapun alasanya? Dia adalah satu satunya orang yang harus ikut bertanggung jawab. Walau tidak ikut mengandung, bisa saja hanya sekedar memberi support atau sekedar mengirim pesan. Tapi waktu takkan terulang kebelakan, karena aku sudah mendelet dia dalam kehidupan ku. Maka dari itu dia tidak punya hak sedikit pun untuk tau walau hanya kabarku saja.