
“Aku tiba tiba ingin bertemu dengan Kemal..!”
“Mel, mereka sudah bahagia. Kalau kamu tiba tiba datang begini. Mereka akan curiga!”
“Aku memang berniat untuk mengakuinya” Ucapku dengan penuh percaya diri.
“Kalau kamu mengakuinya, mereka akan menyangka bahwa kamu akan membawa anak ini sekarang!”Angga masih bersikeras melarang niat baik ini.
“Jadi, aku mesti gimana untuk sekedar dekat dengan anak itu?" teriak untuk sekedar penegasan.
“Kamu ikut kataku saja…!”
Angga membawaku kearah rumah kakaknya. Kami berjalan beriringan tapi Nampak jaga jarak. Jaga jarak ini aku lakukan karena selain badannya yang bau, aku juga tak mau berdekatan dengan orang yang pernah melakukan hal tidak bertanggung jawab.
“Ini rumah kakakku, masuklah dan tunggu disitu. Aku mau mencari Mbak Isma ke ladang” Jelas Angga sembari membersihkan lantai yang basah bekas air yang disiramkan ke bagian wajahnya.
Aku menurut saja. Untuk sekedar menunggu dan berdiam diri. Belum lagi aku melalui waktu yang melelahkan selama dalam bis.
Tiba tiba terdengar sesuatu yang bergerak di ruangan belakang. Aku yang agak sedikit kaget, melakukan pergerakan untuk antisipasi kalau saja ada sejenis binatang didalam rumah.
Kemudian terdengarlah suara kecil nan manja.
“Mama….mama……hiks…hiks….!”
“Aku mencari sumber suara itu dari mana”
“Mama….mama…hiks..hiks…!”suara itu ternyata berasal dari mulut kecil mungil.
“Kamu……!”Ucapku dengan kagetnya.
Ada anak kecil yang memelukku dari belakang, dia memelukku di bagian lutut karena dia belum begitu tinggi.
“Aku merasakannya, sentuhan hangat malaikat kecil yang pernah aku bilang anak tukang mie ayam yang aku namai Kemal. Dia adalah mahkluk yang pernah ada di rahimku. Menendang nendang dan meninju perutku. Sekarang mahluk itu sudah bisa bicara dan berjalan. Bahkan memanggilku mama. Iya sayang aku mama mu”kata hatiku
“Aduh, anak lanang ini udah mulai nakal. Itu bukan mama mu, hehehe!”suara itu datang dari arah pintu dapur diakhiri dengan Tertawa kecil.
“Maaf Mbak, tadi saya pikir ada binatang jadi saya mencarinya sampai masuk kedalam.” Kata ku dengan sedikit beralasan.
“Memang biasanya dia dititip sama neneknya, kebetulan lagi panen jadi neneknya juga ikut ke ladang!”
Jawab Mbak Isma dengan ramahnya.
__ADS_1
“Mau minum apa?udah makan atau belum? Tadi Angga cerita soal pernikahan Yuda, Mbak kaget banget tau dari orang lain. Kesini gak ada undangan soalnya. Tapi ini Mbak siapa namanya?”
“Melia….!”
“Mbak Melia juga temennya Yuda? Tapi gak apa apa lah, kalau kesana juga ini di ladang sawah lagi repot rapotnya panen. Jadi gak bisa kesana.”Ucap Mbak Ismi kakaknya Angga yang nyerocos luar biasa.
“Mbak, pertanyaannya tadi belum di jawab sama orangnya!”Angga menengahi pembicaraan kakaknya yang tanpa koma.
“Iya saya Juga temanya Yuda.”
“Ough…temen di Bekasi toh?” dia bertanya tanpa membutuhkan jawaban, karna dia sembari berjalan kebelakang mau mengambil sesuatu.
“Mama…mama….!”Anak itu memanggil manggil sambal mengikuti Mbak Isma ke dapur.
“Itu Kemal khan?”Bisik ku kearah Angga
Angga menganggukkan kepalanya perlahan sembari menengok kebelakang, takut kakaknya keburu datang keruangan itu.
“Ini minumnya cah ayu…pasti cape dijalannya khan? Kalau mau makan sama Angga aja barengan, Mbak lagi repot banget di ladang!”
Ungkapan Mbaknya angga itu tak aku indahkan, karena konsentrasi ku terhadap anak laki laki yang dari tadi mengikutinya.
sama ibu ibu tetangga juga panggil mama. Apalagi ada Mbak ini ya pasti manggil mama juga toh!”
Kata kata Mbak Isma memang beralasan, anak ini memanggil semua perempuan dengan sebutan mama. Atau mungkin sebenarnya nulari kecilnya itu sedang mencari mama yang sebenarnya dimana?
“Mbak…mbaknya ko bengong…”
Angga sontak menepuk pundak ku seketika.
“Ough Iya, aku cuman pengen ikut istirahat saja ko Mbak. Barangkali gak keberatan!”Kataku dengan sedikit rayuan.
“Iya, ga apa apa. Yang betah aja yach. Mbak tinggal dulu tapi. Angga jangan lupa ajakin makan itu temennya.” Kata kata Mbak Isma ini dilakukan sembari berlalu pergi keluar.
“Sial, aku baru saudara kalau aku ditinggalkan berduaan saja dirumahnya.”dalam hatiku
“Kamu nginep aja disini, besok aku anter kamu ke sana.”Angga bicara padaku dengan pandangan ke sana kemari dengan wajah kikuk.
“Jadi sejak kapan kamu gak kerja?”Aku mengalihkan pembicaraan.
“Tepatnya satu tahun….yah satu tahun.”Jelas Angga sembari memukul mukulkan jari jamari diatas lututnya.
__ADS_1
Jelas kalau Angga menyembunyikan kegugupanya dengan beberapa gerakan itu. Aku yang lebih tegar dan menerima kenyataan hidup, kembali melanjutkan pembicaraan.
“Ngapain aja selama satu tahun itu?”
“Diem aja dikampung…..!”
“Kata anak itu kamu sering mabuk mabukan?”
“Anak yang mana?”
“Anak yang disuruh membawakan kertas isi pesanku!”
“Anak anak tau apa?”Angga jelas mengelak.
“Gak malu, diliatin anak kamu!”Kataku sedikit menghakimi
“Mel, aku gak kerja ini bukan hal yang mudah. Aku stress juga, jadi…!”
“Jadi ke mabuk…!”
“Bisa jadi..emhhh…mmmaksudku bukan begitu!” Angga kembali mengelak mencari alasan.
“Kenapa kamu tidak memilih sikap yang dewasa, mencoba untuk sesuatu hal yang baru tapi tetap menguntungkan. Malah sikap ini yang kamu hadirkan!”Kata-kata ku agak sedikit kesal.
Angga menjelaskan alasan apa yang membuat dia kecewa berkepanjangan. Selain mengecewakan aku, juga merasa tidak berguna karna memiliki anak tapi tidak bertanggung jawab. Bahkan dia cerita soal dia yang menjual telepon genggamnya. Sehingga dia tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun.
“Makanya aku memilih mabuk sebagai alternatif….emhhh…pengalihan….konsentrasi hidupku….!”kata angga sembari menepukan tangannya ke baju yang sudah lusuh itu.
+++++
Disaat malam tiba, aku berada dikamar anak anaknya Mbak Isma. Sedang Angga berada di rumah kedua orang tuanya. Sesekali aku lihat ke jendela, disana tepat rumah itu. Suara lolongan anjing terdengar jelas, karena disana suasana perkampungan setitik suara daun bergerak saja terdengar apalagi lolongan anjing. Suara dari arah belakang rumah Mbak Isma sudah sedikit reda yang dari tadi, truk…trek…truk….trek….sekarang mulai hening. Aku mencoba mencari celah untuk mengintip Kemal. Ternyata dia tertidur lelap dikursi ruang TV rumah itu.
“Mbak…kok belum tidur?”Tanya laki laki yang sekarang menjadi ayah sambung Kemal
“Mas, apa aku boleh cerita?”
Aku pikir cerita ini bila ku sampaikan pada pihak laki laki, mungkin mereka akan memahami. Karna sekilas mata aku lihat pembawaan mas Ridwan lebih sedikit kalem. Mas Ridwan yang mengangguk ngangguk, mendengarkan ceritaku. Dia menepuk nepuk bagian pundak ku, aku hanya bisa menangis tak karuan.
“Aku malu mas, kalau saja aku mengakui ini dengan tiba tiba. Tapi kalau tidak sekarang hidupku akan diliputi rasa bersalah tak menentu. Aku benar benar tak tau jalan mana yang harus ditempuh, akhirnya aku melakukan siasat ini. Maafkan aku mas!” Pengakuanku yang masih tak karuan kemana arahnya.
putus asa dengan keadaan yang dihadapi, kemudian mempunyai siasat buruk tentang anak tukang mie ayam. Aku menjelaskan bahwa semua itu ide busukku.
__ADS_1