Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 18


__ADS_3

Pembicaraan kami yang Nampak akrab, membuat aku terdiam lama. Memori ingatanku tiba tiba flashback ke waktu itu. Awal aku kenalan dengan Yuda, yach gara gara Angga. Belum lagi memory yang lainya.


“Please, tuan memori jangan nge hang!” Kata hatiku dengan mata dan fikiran yang kosong.


“Mel, sorry aku gak bermaksud!”Yuda menyela pikiran ku yang flashback ke masa itu.


“Ga apa apa, tenang aja. Aku udah punya cowo ko sekarang mah”


“Ough masa sich, baguslah. Cuman aku juga udah setahun ini ga ada kabar soal Angga!”


“Aku pikir masih barengan sama kamu”


“Semenjak waktu itu, dia jadi suka mabuk mabukan. Pulang malam dan beberapa kali gonta ganti cewe. Aku udah ngingetin supaya dia tidak kebablasan. Tapi malah kena pecat pabrik karena dia sering kesiangan, gak fokus atau minum jenis minuman yang memabukan pas kerja. Akhirnya dia memutuskan buat pulang kampung dan aku gak tau kabarnya gimana sekarang.”


“Seseram itu kah? kalau soal anak itu gimana kabarnya?”Aku spontan saja bertanya tanpa terpikir akibanya. Akibat dari rasa rindu berkepanjangan seorang ibu pada malaikat kecilnya.


“Maksud kamu ‘Anak Tukang Mie ayam’?


“Kamu tau juga soal itu?”


“Iya lah, sehari semalam pas Angga dengan bayi itu. Aku juga ikut gak tidur. Gak tega ngeliat dia repot sendiri ngurusin bayi. Tapi setelah itu dia kaya Nampak linglung hidupnya tanpa arah”


“Tapi anak itu jadinya sama siapa?”


“Kakaknya Angga di Yogya…!”


Tiba tiba aku sedikit menggigil, mungkin akibat rindu yang aku tanggung. Bebannya berat banget di pundak ku. Menganggap semua baik baik saja tapi ada yang tidak baik tetap. Berbincang mala mini dengan Yuda seperti mengorek luka yang baru saja kering. Bukan luka ku dengan Angga, tapi luka hatiku sebagai seorang ibu.


********


Keadaan Angga di Yogya!


Gubrak ……..


Suara itu seperti sesuatu benda yang jatuh kelantai teras rumahnya Mbak Isma.


“Mah, suara apa itu. Kayak ada yang jatuh.”


“Coba cek Pak, tengah malam begini”

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 12.00. Susana kampung biasanya begitu hening. Ketika ada suara sedikit saja pasti terdengar jelas.


“Mah, itu adik mu.


“Anak itu jam segini baru pulang Pasti mabuk lagi, khan!”


“Kayaknya si begitu!” Ucap Mas Ridwan sembari mengintip kondisi Angga dari jendela.


“Pak, cepetan Tarik Angga ke dalam rumah. Takut keburu ketauan bapak sama ibu nanti!”


Kerepotan Mas Ridwan dan Mbak Isma, tidak hanya sekedar mengurus bayi tapi juga mengurus anak dewasa yang wateknya seperti bayi.


“Ini adik mu disimpan dimana?” Ucap Mas Ridwan saat menyeret tubuhnya Angga kedalam rumah.


“Udah disitu aja mas. Biarain Tidur dilantai saja!”


Pagi pun tiba, Angga yang semalam tidur dilantai. Posisinya masih tetap disitu. Karena sang kakak jengkel dengan kelakuan adiknya itu yang jam 9 belum juga sadarkan diri. Dengan emosi dia menyiramkan air ke wajah adiknya.


Byuuuuuuurrrr…..


“Hahhh….tidak …tidakkk…!”Angga sontak terbangun karena hawa dingin yang tercipta dari air yang tersiram


“Mbak…Kenapa badanku disiram?” tanya Angga dengan wajah sedikit mengigil.


“Itu hadiah buat anak muda yang tidak punya harapan, berharap keminuman yang memabukan saja bisanya. Dimana kamu punya uang buat minuman haram itu?”


“Aku punya uang….!”


“Bohong….kamu pasti bawa uang bapak mu dari laci lemari kan? Itu hasil dari keringatnya bertani selama 3 bulan. Seenaknya saja kamu membelanjakan uang itu untuk hal yang tidak bermanfaat” ceramah Mbak Isma dengan lengkap dan penuh isi.


“Yach sesekali mah boleh saja Mbak ku…!”Kata kata Angga dengan rayuan dan memegang bagian pergelangan tangan Mbak Isma.


“Sesekali katamu, hampir setiap malam minggu Mbak liat kelakuan kotor mu ini. Apa yang kamu dapat dari ini? Kamu bukanya kerja lagi sana ke kota, atau aku jodohin saja kamu sama anak pak ustad guru ngaji anak anak!”


“Jangan Mbak, anaknya baru lulus SMA!”


“Engak apa apa, Mbak mu ini juga nikahnya 2tahun lulus SMA kok. Paling gak kamu ada yang ngurus, dan kamu mencoba bertanggung jawab”


Tok..tok…tok

__ADS_1


Disaat perdebatan yang peliknya mereka, terdengar suara pintu depan diketok.


Anak sulungnya Mbak Isma dengan sigap membuka pintu yang baru saja berbunyi.


“Paman ini ada surat buat kamu!” Ucap Raisya ke pamanya sembari membawa secarik kertas yang berisi sebuah tulisan.


“Aku tunggu kamu di surau, cepatlah kemari” Isi dari pesan yang dibawa laki laki anak bungsunya pak ustad sang guru ngaji itu.


“Pesannya siapa ini…?”Kata hati Angga bertanya tanya.


Wajah Angga yang bingung, menatap wajah kakaknya yang masih penuh dengan amarah kepadanya.


“Ada seseorang mencariku, dia ada disurau….!” Ucap Angga sambil keluar rumah menuju kesurau sesuai dengan pesan yang tertera di kertas yang dia pegang.


“Heh…tunggu. Ini Mbak mu masih mau marah marah dulu. Jangan kabur!” Ungkapan Mbak Isma dengan teriakan stereo volume 12.


++++++


Sedangkan disurau dekat rumah Angga aku sudah menunggu begitu lama. Padahal ini sudah jam 10, dia berfikir untuk pergi saja dari situ.


“Tunggu, Mbaknya mau kemana? Katanya nunggu aku, kok malah mau pergi…!”Ucap Angga menghentikan langkah ku begitu saja.


Aku membalikan wajah dengan penuh ketegaran. Berharap tidak akan membuka rasa benci yang pernah bersemayam dihati, flashback kebeberapa tahun yang lalu itu seperti menghentikan detak jantung ku sejenak. Dan kembali bernafas setelah aku tersadar bahwa aku sudah ada dimasa yang lebih menengkan.


Kami saling bertatapan untuk beberapa saat, perlu keberanian extra untuk bisa menyambangi orang yang pernah ada dimasa lalu. Belum lagi ada kehadiran makhluk lain yang menjadi saksi besarnya cinta kami.


“Me…melll……ia..!”Kata Angga dengan terbata bata.


“Iya, ini aku!”


Padahal Angga pernah berfikir orang yang mengirim pesan itu adalah anak gadisnya bapak RT, yang pernah dia goda karena berparas ayu nan mempesona.


Melia melihat Angga dari atas kebawah, penampilanya hampir sama pada saat mereka bertemu dulu. Atau malah lebih buruk. Laki laki berwajah kusam, baju compang camping, kerah baju yang berdiri keatas belum lagi rambut acak acakan belum tertata karena baru bangun tidur.


“Aku mau ketemu dengan Kemal!”


“Jangan, nanti bisa ketauan….!”


Pembicaraan kami tidak sampai situ saja, aku menjelaskan alasanku kenapa nekad ke Yogya. Alasan utamaku adalah pernikahan Yuda. Kemudian alasan berikutnya bertemu dengan Angga. Dia juga agak heran mendengar kabar soal Yuda yang mau menikah, karna setau nya Yuda sudah lama putus dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2