Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 22


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa kami pergi ketempat kerja. Yaitu sekolah. Aisah lari menuju kearahku dengan tergesa gesa.


“Bu Mel-mel, tau ga kabar terbaru?” tanya Aisah dengan tergesa gesa berbicara.


“Soal apa?” tanya ku tak mengerti.


“Bu Nada mengundurkan diri dan pa Alex, dia mengajukan pindah di derah Tangerang. Jadi, ada 2 lowongan pekerjaan. Barangkali ibu punya saudara atau temen orang Bandung, bisa di ajak buat kerja disini.”


“Ko bisa barengan gitu, tapi nanti aku cari. Temenya Riki juga ada tuh. Bu Nanda khan TU, kemudian Pa Alex OB. Dikasih waktu berapa hari sich?”ucapku dengan sedikit menengadah keatas karena sedang jongkok untuk membenarkan kaos kaki, sementara Aisah sedang berdiri.


“Bu atur atur, lah. Pa Riki yang pacanya bu Mega itu khan. Biasanya banyak temenya kalau cowo, Pa Candra kepingin secepatnya. Soalnya tugas Bu Nada lumayan gak bisa ditunda. Bu Mawar juga suka agak Ribet tuh.” Jelas Aisah yang kini sudah sama rata duduk dibagian balkon sekolah.


“Okeh, Aku bilangin dulu ke Riki!”


Aisah memang hanya pegawai perpus, tapi dia salah satu keluarga yayasan. Sehingga semua hal mengenai kemajuan sekolah dia paling duluan tau. Wanita paras ayu nan mempesona terpancar dari dalam dirinya. Namun, kemampuanya untuk memerawang segala hal mengenai sekolah. Nampak di manfaatkan oleh bu Mawar. Seperti gajih tanggal berapa cair, bonus kerja kapan cair, atau beban kerja tambahan apa yang akan di dapat oleh setiap pengajar dan pegawai lainya. Mereka berdua memang tak pantas terlihat seperti solmate. Karena usia mereka jauh berbeda, yang satu 43 tahun dan yang satu 22 tahun. Tapi Bu Mawar selalu punya siasat untuk bisa nampak akrab berdua. Padahal Aisah itu sendiri mempunyai watak yang terbuka, tidak menutup suatu hal untuk dirinya sendiri.


Tiba tiba datang Mega ke ruangan pentri sekolah, menyeduh teh manis untuk menyuport tenaganya di jam peralihan menuju istirahat.


“Ngapain disini bengong?” Tanya mega sembari mengocek sendok digelas supaya melarutkan gula di air the itu.


“Bu Nada mengundurkan diri!”


“Iya bu Nada ikut suaminya ke Palembang, jadi ga bisa kerja disini lagi. Kalau Pa Alex, dia minta dipindahkan kesekolah lain di daerah Tangerang yang masih satu naungan yayasannya.” Jelas Mega padaku.


“Kok, tau? Berarti ada 2 lowongan sekaligus, nich! Riki suruh pindah aja kesini?”


“No, gak mau aku satu kerjaan sama dia. Gak bebas bergerak!”


“Aku bilangin!”


“Bilangin aja sana, kalau berani!”

__ADS_1


Mega pernah bilang, soal Riki yang sedikit pengatur. Jelas kalau satu pekerjaan dia tidak akan mau.


“Akbar ga akan mau, dia udah enak kerjanya disana. Dodi apa lagi, dia lebih suka jualan nasi goreng di pinggir kampus!” kataku dengan sedikit suara pelan tapi terdengar jelas


Mega yang sedang konsentrasi untuk segera meminum teh panas yang baru saja dibuatnya, keudian kembali menyikapi guman dari ku. “Udah biarain aja, gak usah dipikirin. Lagi pula temanya Riki belum tentu satu suara untuk bekerja disekolah”


Mega pergi meninggalkan aku sendiri dipentri, yang sedang diliputi keresahan. Memikirkan siapa orang yang pantas dan butuh untuk bekerja di tempatnya bekerja itu.


Kenapa dipikiranya terbersit untuk memebri tau Angga.


“Hah, kenapa Angga. Tapi ada benarnya juga. Dia sudah satu tahu ngnggur. Meskipun dia punya ijasah D3. Tapi tidak apa apa kalau dia di ajukan di OB. Gajinya lumayan juga kerjanya tidak terlalu berat.” Kata hati ku yang dipikir keras bagai mana untuk menghubungi Angga, karena dia tidak memiliki HP untuk di telpon.


“Akh, aku tau!”


Dia mencari alamat FB keponakan Angga yang paing besar. Di medsos jenis ini ,dia bisa melakukan panggilan melalui aplikasi messenger.


Melia melakukan panggilan berkali kali tapi tidak ada respon,


“Halo, ini siapa? Kenal sama aku gak, yach?” ternyata yang punya FB-nya sudah merespon.


Meski Melia sadar alamat FB yang dia hubungi adalah alamat FB keponakannya Angga, tapi dia berharap Angga bisa meresponya langsung. Ternyata yang merespon ternyata malah keponakanya.


“Kasih tau paman Angga, supaya besok pergi ke Bekasi. Ada kerjaan disini. Suruh bawa semua persyaratanya, okeh!” isi pesanku pada alamat FB ini, karena aku pernah melihat angga memainkan HP keponakanya beberapa kali disaat ke Yogya.


“Halo”


Aku sedikit kaget, karena suara yang datang menelpon dari messenger itu adalah suara laki laki. Ternyata Angga memang sedang dalam posisi memainkan Hp keponakan nya. Aku menyamapaikan semuanya, tentang lowongan pelerjaan yang ada di sekolah tempatku bekerja. Dan berpesan padanya, untuk tidak memikirkan keberadaanku. Yang harus dipikirkan adalah masa depannya juga Kemal. Berlama lama tidak kerja, mempunyai pengaruh yang tidak baik untuk metalnya. Aku menyarankan padanya untuk melamar di posisi OB supaya tidak ada interview yang berarti. Dan dia menyetujuinya.


“Oke”


Aku langsung pergi menuju ruanganya pa Candra, dia adalah salah satu asisten pemilik Yayasan yang mempunyai kekuasaan penuh dalam mengabil keputusan.

__ADS_1


“Pak, saya punya teman. Tapi masih d Ypgya. Paling besok nyampe ke sini juga sore, gimana pak!”


“Ya sudah, bapak akan menunggu rekomendasinya kamu saja. Gak akan open bar ke luar soal kekosongan pekerjaan ini”


“Sipp, makasih banyak pak. Kasihan dia, udah setaun nganggur.”


“Posisinya yang dilamarnya apa?” Tanya Pa Candra sembari konsentrasi menghadapi computer.


“OB, pak!”


“Siap.”


Senangnya bukan main, karena kuncinya sudah setuju dengan legowo. Aku pun jadi legowo karna gajih pegawai tidak tetap ini, bisa digunakan untuk sekedar jajannya Kemal. Karena kondisi ini juga biasanya dimanfaatkan oleh Bu Mawar, dia akan membawa saudara atau tetangganya agar bisa masuk ke sekolah ini. Padahal sudah ada 2 orang yang bekerja disini, saudara sepupu dan adik dari suaminya. Makanya Aisah berpesan agar Bu Mawar tidak dikasih tau dulu.


Waktu pulang telah tiba, aku ppulang telat karena harus merapihkan buku yang tertumpuk di perpustakaan dengan Aisyah.


“Bu Melia, ….!” Pa Candra memanggilku.


“Iya pa?”jawabku masih terkonsetrasi terhadap beberapa lagi buku yang harus dirapihkan.


“Bisa ke ruangan saya sebentar?”


“Iya pak!” Aku menyetujui permintaanya untuk menghampiri dia ke ruangannya. Sempat kaget, ternyata dia proter terhadap posisi yang aku ajukan terhadap Angga. Karena dia memiliki ijasah D3, jadi menurutnya lebih pantas untuk mengisi posisi TU.


“Kamu ko tegaan, masa teman kamu punya ijsah yang lain malah disuruh jadi OB!” protes Pa Candra terhadap ku mengenai jabatan untuk Angga.


“Saya lupa, dia sempat kuliah sambal kerja juga dulu!” Ungkapku dengan sedikit kebohongan.


“Jadinya, temen kamu di posisi TU dan OB di isi oleh anaknya pa Ambar. Dia baru saja lulus SMA.”


“Ough…, tapi wawancaranya kapan?”

__ADS_1


“Sebenarnya besok, tapi gak usah juga gak apa apa. Cuma pormalitas saja. Pelamarnya juga cuman 2 orang, dan itu datang dari relasi.”


__ADS_2