Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 23


__ADS_3

Syukurlah, ini namanya rezeki anak. Allah mempermudah jalannya, seperti jalan tol Bandung-Bekasi yang lurus tanpa hambatan. Tapi, pernyataanya pak Candra masih membingungkan. Kenapa dia bisa tau kalau Angga punya ijasah D3?


“Kapan ngasih lamarannya yach?” Dalam hatiku bertanya tanya, “Ough, upload online!” dan jawaban ya aku temukan sendiri. Dulu juga, saat aku di lamarkan Riki ke sekolah ini. Semua upload berkas dengan cara online. Hanya saja perbedaanya, seleksi ku hampir 3,5 jam. Dia bisa dengan mudah masuk, tanpa hambatan.


Namun yang aku khawatirkan adalah posisi yang dilamar, posisi pegawai TU di sekolah ini bukan main. Tanggung jawab yang diemban oleh Bu Nada adalah mengenai semua pemberkasan. Dimulai dari berkas anak anak, kepegawaian dan memperbanyak berkas untuk ujian. Bukan operator, tapi seperti pengumpulan KK dan kartu lainya penunjang pemberkasan yang di upload online. Semua kertas itu diperbanyak atau diamankan juga oleh Bu Nada. Kalau saja ada pegawai baru mengambil tugas itu. Jelas akan sangat tertatih. Belum lagi, ada kritikus model Bu Mawar. Dia akan sangat memantau pekerjaan yang dilakukan oleh new comer. Hal itu dilakukan untuk mengorek ngorek kesalahan pegawai dan membuat stigma negative diantara pegawai lainya. Sehingga datanglah protes keras yang di kompori oleh bu Mawar untuk sekedar menegur atau bahkan dikeluarkan dari sekolah itu. Beliau memang juara di bidang ini, maka dari itu tak ada satu pun yang orang yang berani berbicara dengan nada tinggi terhadapnya.


“Hai…” kata itu diiringi dengan lambaian tangan dari jarak jauh.


Kemudian aku balik melambaikan tangan padanya, karena dia adalah Mas Rendra berdampingan dengan mobil starlite berwarna marun sekitaran tahun 1999.


“Hai…!” Ucapku.


“Kita makan dulu yuk?”


“Dimana?”


“Restoran padang favorit kamu aja?” Kata katanya sedikit merayu, karena sudah 3 hari ini dia tanpa kabar.


“Tapi di bekal ke rumah saja, biar makanya barengan sama mereka!”


“Oke, siap meluncur!” jawabnya dengan penuh semangat.


Aku tidak bisa melewatkan hari tanpa berkumpul dimeja makan usang yang ada di kontrakan rumah, meja itu disewakan bersamaan dengan rumahnya. Sehingga kita bisa menggunakan sepuasnya. Belum lagi meja makan itu yang dipenuhi buku dan ceceran kertas bekas print-nan. Yang biasa kami jadikan lap, kalau tidak tersedia tissue disana.


Sesampainya di rumah kontrakan,

__ADS_1


“Waw, tumben mejanya bersih. Hehe!” senyum Rendra menghiasi wajah tampannya sembari sedikit mengejek.


“Iya, aku juga heran nich. Tumben tumbenan!” kataku sambil masuk ke kamar dan menyimpan tas serta payung lipat yang dibawa ke sekolah karena hujan.


“Tapi aku curiga, mereka keluar tanpa ngasih tau kamu Mel”


“Hah, aku kagettt.” Ucapku dengan sedikit reaksi kaget tapi biasa aja untuk sekedar menggoda Rendra.


“Kita makan sekarang ga nich?”


“Sebentar, aku ke kamar mandi dulu!”


Sesaat aku keluar dari kamar mandi, dia masih saja memainkan HP-nya. Sedikit gelisah seakan sedang banyak himpitan pikiran dalam benaknya.


“Mas, kenapa kamu pake mobil itu lagi?”tanya aku dengan bercanda.


“Iya, belum lagi kita dalam keadaan lapar!”


“Maklum, mobil lama minim perawatan. Jarang dipakai lagi. Aku khan sering pakai mobil kantor. Padahal mobil mobil seusianya masih bagus ko. Dasar aku aja yang jorok!” Pembicaraannya mengakui kekurangan mobil yang dia punya.


Akhirnya setelah pembicaraan banyak diantara kami, dia mulai cerita kenapa tiba tiba gak ada kabar. Soal anaknya yang sering sakit sakitan dan sering dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan. Dia cerita juga merasa menyesal karena dulu kerjanya suka nyantai nyantai tidak seserius ini. Sehingga ini mengakibatkan istrinya yang mempunyai pekerjaan yang lebih berat darinya. Anaknya jadi kurang perhatian dan kasih sayang ibunya, asupan makanan yang diliputi makanan siap saji. Membuat penyakit ini bersarang ditubuh anak cantik mungil itu.


“Memangnya penyakit apa yang dibderta anakmu mas?” tanyaku ingin tau.


“Thalasemia, setiap bulan dia mesti tranfusi darah!” uajarnya dengan sedikit wajah ditekuk.

__ADS_1


“Separah itu kah, Mas?”


Dia menganggukan wajahnya sembari menunduk ke a rah keramik putih kontrakan rumahku, penyesalanya seperti tiada ujung. Memiliki istri yang bekerja dengan jam kerja luar biasa ini, mengakibatkan anaknya mengidap penyakit yang sedikit langka diantara kebanyakan anak seusianya.


“Penyakit ini membuat penderitanya harus dalam keadaan sehat terus, tidak banyak gerak karena kalau kecapean bisa saja yang seharusnya tranfusi darah selama 1bulan. Ini bisa dilakukan dalam waktu 2 minggu.”jelasnya lengkap.


“Kalau aku pengen kenalan, sama anak kamu boleh ga?” Tanyaku dengan penuh pengharapan.


“Seharusnya begitu, tapi ibunya melarang. Dia takut akan mengguncang jiwanya anak kami. Sehingga kami berusaha Nampak baik baik saja didepanya.”


Jadi, Rendra masih berhubungan inten dengan mantan istrinya. Dengan alasan anak dia mampu mengunci daya gerak Mas Rendra dari aku yang notabene adalah kekasihnya. Padahal mimpi kami terhadap hubungan ini sangat indah, ternyata batu krikilnya ada di anak.


Aku merasa sangat iri, dengan pejuangannya terhadap kebahagiaan anaknya. Berani mengambil resiko untuk nampak baik baik saja di depan anak. Bagi kebanyak pasangan atau orang tua, anak adalah elemen penting dari keharmonisan hubungan. Sifatnya yang memeberi keceriaan dan keriangan dalam hidup. Tapi bagaimana dengan aku terhadap Kemal. Aku sama sekali tidak tau, hal apa yang terjadi dalam hidupnya. Bagaimana keadaanya sekarang? Sehatkah? Sakitkah? Bahagiakah? Sedihkan? Pertanyaan pertanyaan ini muncul seiringan dengan cerita anak Mas Rendraku, terlalu banyak unsur penting yang bisa aku pelajari dari kehidupan mu Mas.


Ternyata begini rasanya, memiliki kekasih DUDA. Pengalaman hidupnya dalam berkeluarga sangat mempuni. Tapi jadinya seperti ada dunia lain miliknya yang tak bisa aku sentuh, harus pandai pandai mencari perhatian darinya agar dia mau beranjak dari dunianya itu. Berbeda saat aku dengan Angga, aku benar benar bisa memasuki semua wilayahnya. Tidak perlu menerka nerka, karna segala hal sudah Nampak kepermukaan. Kecuali kalau dia selingkuh, ada hal lain yang harus kita telusur.


Aku juga tidak bisa menebak, seperti apa kondisi ketika dia baik baik saja dengan mantan istrinya di depan anaknya. Mungkinkan ada sedikit sentuhan atau hanya gestur semata. Pada intinya, aku harus merelakannya ketika dia sedang ada dikelurganya.


“Padahal aku sudah cerita ke Mega soal tunangan itu?” Kata Rendra sambil menambahkan air panas ke gelas yang dia minumnya.


“Tunangan siapa?” tanyaku kaget.


“Kitalah, siapa lagi?” Aku sempat cerita soal ini ke Mega, dan rencananya 3 atau 4 bulan lagi aku mau ke Bandung. Untuk melangsungkan pertunangan itu!”Jelas Rendra dengan gambling.


“Serius kamu, Mas? Tapi kenapa ceritanya sama Mega, kenapa gak sama aku?”

__ADS_1


“Tadinya mau surprise, tapi malah ada kendala. Mudah mudahan dia bisa kembali pulih. Biar kita tidak menunda niat baik ini!” ucap Rendra dengan penuh keyakinan.


“Aku sangat senang sekali kalau kamu mau mempercayakan hidupmu padaku, aku berharap tidak ada kendala yang berarti. Dan anakmu segera sembuh dari penyakitnya.” Ucapku dengan mata yang berbinar dipenuhi rasa kebahagiaan. Namun masih terhambat dengan sedikit ganjalan.


__ADS_2