Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 9


__ADS_3

“Iya boleh ko, kapan pun kamu siap. Aku akan menunggu. Seberapa besar sich masalahnya, sampai sampai aku harus nunggu?”


“Aku masih belum siap Meg, plis jangan paksa aku!”Gumanku dalam hati


“Tu khan malah bengong lagi, baiklah aku mau ke kamar mandi aja. Gerah mu ikut mandi” ucap Mega sembari mencubit kedua pipiku gemas.


Tidak berselang lama, Mega keluar dari kamar mandi. Dia menampakan mata sembabnya. Berjalan kearahku, dan menatap wajahku dengan tajam. Sesuatu dia tunjukan padaku.


“Apa ini Mel?” Tanya mega dengan mata yang memerah.


Disaat aku lihat benda yang ditunjukan Mega padaku. Membuatku terperanjat hebat. Benda yang Mega arahkan ke wajahku adalah secarik kertas kecil berbentuk stik.


“Siapa pelakunya?”


“A…A….apa? Maksud kamu?” suaraku terbata bata ketika dengan jelas aku lihat stik putih dihiasi warna biru sedikit


“Ini punya kamu khan? Siapa pelakunya? Dimana kalian melakukanya?”


Ya Allah, Ya Tuhanku. Pagi tadi aku lupa membuanganya, stik putih yang dihiasi warna biru itu adalah jenis alat tes kehamilan sensitive. Mega menemukanya dalam keadaan dua garis merah terpampang di permukaan. Padahal saat aku melihatnya sesaat setelah mandi, sama sekali belum ada garis dua itu. Mungkin karena reaksinya menunggu waktu lama. Sehingga aku harus mendapati orang lain yang menemukan alat tes itu.


Pantas saja, saat Riki mengajukan saran agar Mega menemaniku. Aku sudah merasa tidak enak hati dibuatnya.


Kenapa kejadian ini seperti mencekikku, baru saja badanku merasa enakan. Sekarang harus menghadapi teman baiku yang mengajukan beberapa pertanyaan bak dipersidangan meja hijau.


“Aku harus menjelaskan dari mana sama kamu Meg, sedangkan pertanyaanmu lumayan banyak!” Aku masih menghadapi pertanyaan Mega dengan tenang.


“Apa kamu perlu waktu?”


“Sepertinya”


“Seberapa lama?”


“Tidak akan lama!”


“Aku janji, aku janji setelah seminggu ini. Aku akan cerita semuanya!”


“Kenapa harus seminggu?”


“Aku benar benar perlu waktu!”


“Untuk apa? Mencari alasan?”


“Plis Meg, Jangan kayak gini. Nafasku sudah benar benar sesak. Beban aku lebih berat lagi dari


pada sekedar menjelaskan!”


Mega masih menatapku dengan penuh tanya, bila saja aku memberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Mungkin kalimat tanya nya akan memenuhi memory ponsel ku.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, lebih baik kita istirahat saja. Besok kita masih harus kerja!”


Akhirnya Mega benar benar mengalahkan egonya. Melihat wajah pucatku, dia sedikit tidak tega menekanku dengan rasa ingin taunya. Aku mencoba tegar dihadapan Mega. Kalau saja aku sendiri mungkin aku sedang menangis tersedu sedu. Meratapi nasibku dengan keadaan pahit ini. Tidak tau sedang apa Kumbangku disana. Angga!! Sudahkan kau terlelap? Adakah signal rasaku terkirim kesana. Atau kau malah sedang terlelap dengan mimpi indah mu itu.


Posisi tidurku dengan Mega salaing membelakangi. Bak pasangan suami istri yang dilanda kekeringan ekonomi. Tak ada aroma perdamaian. Mencekam menemani ini malam.


Besok masih hari kerja, sepertinya aku harus mencari hari senggang untuk menjelaskan keadaanku saat ini ke Angga. Malam ini adalah malam yang sulit, aku sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan. Padahal aku sedang mendapati keadaan dimana aku sedang berbadan dua. Hasil perbuatan haram kami.


Bagaimana aku menjelaskan ini pada dunia? Keluarga, Riki, Mega, teman kerjaku? Bagaimana?


+++++


Hari Sabtu ini, aku berjanjian ketemu dengan dia. Ditempat yang agak mewah dibanding tempat yang biasa.


“Wah, tumben nich. Kamu ngajak aku ketempat ini. Biasanya kan ditempat duduk pinggir mini market. Xi xi. “ sembari terawa dia menjelaskan keherananya


“Kebetulan aku dapat uang dari sekolah!”


“Uang apa?”


“Uang hasil ngawas dan meriksa ujian anak anak”


“Wow, keren. Nanti nati anak anak disuruh aja ujian terus. Biar pengajarnya dapat uang lebuh terus!”


“Hehe…!” Senyumku tak nampak berarti


“Kamu ko gitu ketwanya?maksa banget!”Nampak Angga tau aku sedang tak berselera humor


“Baiklah”


Aku masih mencoba tenang. Menyantap makananku tanpa beban. Mengunyahnya dengan sempurna, tidak bersisa sedikit pun dari piring.


“Tumben makan nya kamu habiskan”


“Akhir akhir ini, selera makanku sedang meningkat”


“Iya, tapi jangan banyak banyak. Nanti kalau kamu gendut gimana?”


“Kalau akau gendut, kamu masih sayang sama aku ga?”


“Ya sayang dong, tapi jangan terlalu. Malu aku jalan sama kamu.”kata kata Angga membuyarkan keyakinanku tentang cintanya padaku. Bagaimana disaat aku hamil nanti, berat badanku tidak bisa terukur dari sebelumnya


“Aku punya sesuatu buat kamu!”


“Surprise!! Apa nich? Gak sabar aku!


Karna melihat Angga yang tidak sabar, aku langsung memberikan stik yang dibungkus amplop gajihku kepadanya.

__ADS_1


“Apa ini? Mau pamer gaih?” Angga masih bercanda sembari melihat lihat amplop gajih ku yang penuh dengan tulisan nominal jumlah uang yang aku terima setiap bulanya.


“Coba buka mas isinya!”kataku yang mulai jengkel dengan bercandaanya Angga


Sesaat dia membuka stik itu. Dia langsung melemparkannya kearahku.


“Apa-apaan ini?Kamu jangan bercanda!” kata Angga sedikit emosi


“Enggak, aku gak bercanda. Ini kenyataanya! Aku hamilllll mas!” dengan suara sedikit bergetaraku jelaskan padanya.


“Ga mungkin. Pasti ini salah!” Reaksi Angga masih tidak percaya.


“Kesalahan itu terjadi ketiaka dia hamil kemudian garisnya haya satu, disaat garisnya sudah dua seperti ini pastinya tidak ada kekeliruan disini!”


“Sayang dengerin aku, …emhhhhh…nanti kita cari dokter?” kata kata Angga di hiasi penuh kepanikan


“Buat apa? Buat periksa detailnya?”


“Bukan, ….tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!” wajah Angga nampak kebingungan


“lalu…!”


“Aborsi”


“Hah…” aku sontak tercengang. Tak pernah terpikirkan reaksi yang akan timbul seperti ini. Berharap dia bahagia karna kan segera menikah denganku. Malah dia memilih jalan pintas untuk mengamanknan posisi seknya denganku tanpa terganggu tanggung jawab.


“Sayang, bukan itu maksudku. Kita sudah janji akan menikah. Tapi tidak sekarang. Ini akan sangat mendadak. Dan kita kan sama sama masih belum siap. Iya khan?” jelas Angga dengan alasan berbelit belit


“Jadi kamu gak mau bertanggung jawab?”


“Bukan itu maksdu ku!”


“Lalu apaaaaaaaaaaaa…………..?”nada suaraku sedikit meninggi.


“Sssssssssttttttttttttt……!”Malu nanti ada yang denger.


“Aku lebih malu karna mengenal laki laki jenis kamu!” dengan mata agak sedikit melotot aku ungkapkan kekesalanku


“Maksud kamu apa? Memangnya aku laki laki jenis apa?”Nada ucapan Angga yang jelas meninggi


Mungkin kata kataku menyinggungnya sehingga malah Angga yang berbalik marah padaku.


Aku hanya terdiam tanpa melanjutkan untuk menjawab pertanyaan Angga barusan.


“Baiklah…aku mengerti sekarang!” Ucapku dengan penuh kekecewaan.


“Ga,,,kamu ga mengerti apapun. Kamu tau kita melakukan ini berdua. Berarti tanggung jawab ini semestinya kita menanggungya bersama.”Ucap Angga dengan nada tinggi tapi yang tertahan

__ADS_1


“Maksud kamu?”Jawabku terheran heran.


“Tanggung jawab ini kita harus memutuskanya bersama. Tidak boleh di ambil sebelah pihak” jelas Angga padaku


__ADS_2