
Part 13
Keluarlah segumpal daging berlapis atau seperti lapisan pembungkus yang berwarna merah darah dari mulut Vaginaku.
“Syukurlah balinya sudah keluar…..”Sofi mengucapkan syukur sembari mencari jarusm suntik. Kemudian menusukanya ke paha kanan dan kiriku. Meraba raba bagian pergelangan tanganku dan menusukan jarum lagi. Jarum infusan yang mengalirkan air pengganti cairan tubuh ini mampu memberi warna ke wajahku yang pucat pasuh.
Tidak berhenti disitu, Sofi memasukan bola kain kasa ke dalam rahimku.
“Bua tapa itu?”tanyaku pada Sofi
“Ini untuk membersihkan darah yang masih ada didalam Rahim” jelas Sofi
“Hah…setelah beberapa tumpahan darah kelantai masih ada lagi yang harus dibersihkan didalam Rahim? Cobaan apa ini Ya Allah Ya Tuhanku?“ Aku bergerutu dalam hati
Setelah perjuangan panjangku dengan si ibu ibu tadi. Ternyata masih harus ada tahapan lain lagi yang lebi berat yang harus dilalui. Tahap pembersihan ini sepertinya lebih berat dibantingkan dengan tahap pengeluaran jabang bayi dari perutku..
Sesekali bayi kecil itu menangis seakan menahan rasa sakit. Tidak lama tertidur lagi. Sekarang konsentrasi Sofi Beralih padanya. Badanya yang dibungkuskan kain handukku. Sekarang diganti dengan kain perenel pembungkus bayi. Kain kain ini adalah kain yang Mega belanjakan untukku. Pembawaan Mega yang dewasa terpancar ketika membeli beberpa perlengkapan bayi itu. Bahu kecil, handuk lembut, popok mini, sarung tangan, topi bayi dan semua perlengkapan lainya.
Mencari cairan minyak yang bernama baby oil. Untuk membersihkan bagian tubuh bayi iyu dari cairan putih dan merah. Dipakaikan baju dan dibungkud dengan kain prenel baru.
“Wah anaknya laki-laki. Selamat yach!” Ucap Sofi dengan senyum mengembang.
“Ki, Sini. Idungnya mancung, lucu dech!” Ungkap Mega dengan roman bahagia.
Si ibu tadi pamit dengan wajah tegangnya. Riki yang begitu pengertian, sebelum si ibu itu pergi dia berjatan tangan dan menempelkan beberpa lembar uang berwarna biru 50.000an.
“Semua sudah selesai, alhmdulilah semuanya lancer. Tapi si ibunya harus makan obat ini” Jelas Sofi dengan menunjukan beberapa macam obat.
“Terimakasih ya Sof, kamu sudah bisa meluangkan waktu!” Ucap Riki
“Iya, sama sama Ki!”
Sambil bersalaman kembali Riki melakukan salam temple lagi. Bedanya tadi aku bisa melihat berapa nominal uangnya. Sedangkan sekarang uangnya dibungkus rapi dengan amplop. Amplop tebal itu tidak menerima penolakan seperti hal nya dengan ibu ibu tadi. Sofi langsung menyimpannya kedalam tas perlengkapan melahirkan.
“Tunggu…” Suaraku dengan agak berteriak
__ADS_1
“kenapa?”Tanya Sofi
“Ini kain kasanya gak dikeluarin dulu?”
“Ough itu, nanti malem aku kesini lagi, untuk membersihkan semuanya. Sekerang karena aku sedang tugas jadi aku mau ke klinik dulu, jangan khawatir!” jelas Sofi
Baiklah aku lega, takut takutnya kelupaan dan membiarkan kain ini menetap dibagian tubuhku.
+++++++++++
Setelah beberapa rangkaian itu, Riki pergi keluar untuk sesuatu. Mega bilang Riki pergi keluar untuk membuang kain penuh darah dan bali. Ternyata tanpa sepengetahuanku dia berjanjian ketemu dengan Angga.
“Aku tunggu kamu di Cikarang Selatan. Dekat halte bis pinggir SMK 3 Cikarang”
Pesan itu sontak dibaca Angga dengan seksama. Riki, Angga dan Yuda ketemuan di tempat yang sudah ditentukan. Riki menceritakan semua perjuangan Aku padanya. Angga tersedu sedan, dengan sengaja Riki memeprlihatkan kantong keres besar berisi kain penuh darah dan menyuruh Angga menbuangya.
“Baiklah, Kami akan mebuangnya!” Yuga yang menggupi
“Tapi, kalau saja bisa. Apa boleh kalian meminjamkan uang?” Tanya Riki
“iya, aku janji akan membayarnya. Walau dalam waktu yang tak bisa ditentukan!” masih ungkap Riki
“Berapa?” Masih Yuda yang merespon.
“Rp 5000.000”
“Sebanyak itu kita punya ung dari mana” Angga beralasan.
“Kami akan mencariya dulu, besok kalau ada. Kami kirimkan lewat rekening!”
“Biaya bersalin Melia kami dapat potongan 50 %, aku cerita semua soal kondisi kehamilan Melia pada teman bidanku. Dia yang seorang perempuan juga merasakan seperti apa daya juang melahirkan memberikan keringanan biaya. Tapi karna Melia cuti 3 bulan dari sekolah, jadi dia tidak bisa berpenghasilan seperti biasanya. Ini aku pakai untuk biaya recovery dia pasca melahirkan. Tapi aku janji akan membayar.”Riki menjelaskan kondisinya yang berani meminjam uang dari pihak ayah malaikat kecil.
“Taaaapi….!”Angga masih ragu.
“Kami akan usahakan, kirim no rekeningnya lewat WA.” Massih Yuda yang merespon.
__ADS_1
Angga yang masih kikuk kebingungan. Dengan segala hal yang serba dadakan. Dari mulai positif hamil tiba tiba, Melia manghilang tiba tiba, melahirkan tiba tiba sampai diminta uang tiba tiba disaat kantong kering.
“Mungkin itu saja yang mau aku sampaikan, lagian udah malam juga. Kasian Mega jagain mereka berdua sendirian”
“Mereka berdua?” Angga heran
“Iya Melia dengan bayinya!”Jelas Riki
Dari pertemuan itu, Riki berharap janji mereka tidak hanya sekedar janji. Mungkin perjuangan Angga mencari uang tidak sepadan dengan perjuangan Melia melahirkan.
“Jadi uangya siap yang mau kamu pinjam yud?”tanya Angga ketus
“Kita minjem dari koprasi pabrik, kita cicil bareng bareng selama 10 bulan!” jelas Yuda pada Angga
“Buset….masa uangya dengan mudah kita kasih ke mereka. Kita malah mesti nyicil selama itu!”
“Angga….!” Suara Yuda dengan agak teriak
“Kenapa?” Ekpresi kaget Angga Nampak bak orang yang kehilangan temanya dari laman Facebooknya.
“Kamu masih gak sadar kah, Riki sengaja ngasih bungkusan ini sama kamu. Supaya kamu tau seberapa besar perjuangan Melia untuk bayi itu!” ungkap Yuda dengan teriak yang tertahan.
“Tapi aku gak pernah nyuruh Melia untuk mengandung anak itu!” Angga selalu saja memakai alasan itu
Plaaaaaaaaaak……..
Suara hentakan tangan Yuda yang mendarat besas dipipi kanan Angga. Angga tertegur seketika. Dia sadar betul apa yang dilakukanya pada Melia. Dia sama sekali tidak ada niat main main. Tapi ketika laki laki yang sedang menikmati cintanya yang membabi buta. Merasa terenggut kebebasanya bila harus mempertanggung jawabkan hasil kelakuan nikmat sesaatnya itu.
“Yud…aku hanya perlu waktu!” ucap Angga sembari tertunduk karena bekas hasil tamparan yang kuat Yuda.
“Waktu? Sampai kapan? Sampai anak itu lahir kedunia, atau sampai anak itu usia 2 tahu. Atau sampai anak itu sudah sekolah di SMP?” Desak Yuda
“Aku masih sangat linglung. Melia tiba tiba pergi begitu saja. Dia pernah mengajukan persetujuan untuk digugurkan asal aku menikahinya. Aku sedang memikirkan itu. Lalu aku sambangi dia ke kontrakan sudah hilang tanpa jejak. Semua kejadian kejadian itu sangan mencekit urat leherku. Tapi aku mencoba menganggap semua baik baik aja!” Jelas Angga berdiplomatis
“jadi gara gara itu, kamu merasa kesal. Terus gimana bebanya Melia? Yang mengkencel aktifitasnya hanya untuk bayi yang sama sekali tidak kamu harapkan? Berlumuran darah kamu tau itu. Coba peras dari kain itu, mungkin ada sampai 2 ember.atau lebih. Kamu ada dimana saat itu?”
__ADS_1