Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 3


__ADS_3

Perbincangan ku dengan gadis manis bernama Mega tidak berhenti sampai disini, dia membawaku ketempat lain yang dia pilihkan sebagai tempat tinggalku. Riki mengutus Mega untuk mencarikan kontrakan, selagi dia di Bandung mengurus semua yang aku butuhkan . disini aku di di damping teman chating-nya itu.


“Mel tempat ini memang sudah berbeda daerah sich dengan sekolah, tapi aku dapet rekomendasi tempat ini dari saudara sepupuku. Di sini daerahnya kost dan kontrakan. Mudah mudahan bakal ada yang cocok yach!” ujar Mega sambal melihat lihat beberapa bangunan.


“Kalau aku gimana kamu, selama tempatnya aman tentram dan damai. Aku mau mau aja!” Jawabku tak ingin membebani.


“Tapi dari sini ke sekolah paling 6000an lah ongkosnya, belum lagi rencananya Riki mau nyari tempat kontrakanya didaerah ini juga!”


“Di daerah sini, maksudnya gimana?” Aku bertanya sembari sedikit mngerutkan kening.


“Iya kan Riki juga sudah mendapatkan pekerjaan disini, cuman dia di daerah Kota Bekasinya. Kalau kita khan di Cikarang sekolanya.”


“Bentar, dia kerja di sekolah juga?”


“Iya, bahkan satu yayasan. Hanya saja Riki di sekolah SMP IT kalau kita di SD IT nya!”


Iya kan, kecurigaanku benar. Dia ke kota ini yang dikejarnya Mega, sedangkan dia tidak mau lepas dari aku yang teman baiknya.


“Jahat kamu……!”


“Kenapa Mel siapa yang jahat”. Tanya mega padaku dengan agak terkejut.


“Ga ada, siapa juga yang jahat. Kamu salah denger kali’. Tipu ku sembari tersenyum kecil.


Akhirnya pilihanku tertuju pada bangunan hijau dengan teralis besi didepanya. Dengan harga 600.000 aku bisa mendapatkan kamar dengan kamar mandi didalam. Bangunan ukuran 3x3 ini lumayan bisa menjadi tempat ku melepas lelah. Fasilitas kipas angin dan rak sepatu bisa juga dimanfaatkan.


“Lumayan tuh, kamu ga mesti beli kipas angin”


“Iya, bisa ditabung uangnya!”


Sekarang aku sedang mencerna, dari sekolah aku cukup naik angkot 09. Berhenti di kampung pulo, sekitar 250 meter disana kita bisa menemukan minimarket beda jenis yang berhadapan. Dipinggir minimarket yang berwarna biru kuning ada gang gelap kecil. Karna dihimpit oleh dua bangunan lumayan tinggi, yaitu minimarket dan toko peralatan olah raga. 20 meter berjalan masuk Nampak disana bangunan seribu pintu, bila dihitung 1 2 & 3 itu bangunan sudah berbeda nama berbeda warna. Satu Langkah dua langkah tiga langkah.


“Mudah mudahan kamu kerasan disana, besok kita harus masih ngajar dulu. Biar pas pindahan kita nyari nyari peralatan segala rupanya pas hari sabtu atau minggu, gimana?” Ucap mega sembari meraba raba handphone-nya.

__ADS_1


“Bukanya hari minggu aku mesti pilang dulu ke Bandung yah? Bawa baju dan peralatan penting lainya?”


“Kata Riki, dia yang bawa semuanya. Kamu tinggal sebutkan apa saja bendanya!”


“Ampun Riki, kamu benar benar penguasa hidupku. Bapak sutradara aku bilang. Semua kamu yang ngatur dech. Aku beneran mesti marah!” Hatiku menggerutu


Selalu begitu, dulu waktu mau menentukan judul skripsi dia yang menentukan. Walaupun akhirnya dia yang mengerjakanya hampir 60% bagian. Menguntungkan memang, tapi aku merasa terkekang saja.


“Mel, kita belanja dulu ke mini market.”


“Beli apa?”


“Peralatan mandi, cemilan atau apa saja sejenisnya!”


Belanjalah disana, terasa sekali. Meski raganya Riki nan jauh di Bandung. Tapi jiwanya jelas didepan mataku. Meski menjelma menjadi gadis ayu nan manis.


Sebulan sudah aku menetap, aktifitasku dikota nan panas dengan hawa pabrik itu. Tidak hanya sekolah-jalan-kontrakan. Atau ada satu aspek lagi yaitu minimarket, belanja cemilan atau hanya sekedar menikmati ruangan ber-AC.


“Hemh….segarnya……….!”


“Ko hujannya tiba tiba gede gini ya, ka!” Seseorang Seperi sedang berbicara padaku.


“Iya, aneh juga nich!” Aku menjawab sembari menoleh ke arahnnya.


“Aku bawa payung, tapi kayaknya bakal tetep basah kalau maksain pulang!”


Dia bicara lagi, dan lagi. Beberapa kata dengan sedikit pandangan mempesonanya yang ia hadirkan, semua pembicaraan kami bertuju ke namanya siapa dan tukeran no HP. Gak ada yang salah dengan ini semua, apa sich arti sebuah nama atau sekedar nomer HP. Itu bisa dilakukan pada siapa pun atau kapan pun.


Tapi, ini akan beda aromanya kalau Riki sampai tau. Dia akan benar benar ada di amarah terhebat, dibilang-lah jangan sembarangan berteman atau sembarangan percaya pada orang. Kata kata dia itu menjadi momok yang menakutkan, aku jadi benar benar begitu hati hati memilih teman. Dan ini juga jadi salah satu alasan kenapa sampai saat ini aku belum punya pacar. Padahal kalau dipikir pikir, dia kurang ceroboh apa coba? Kenalan di chatting, bisa memutuskan untuk mempunyai hubungan.


Sesekali aku lihat lagi wajahnya, barangkali ada sesuatu yang tersangkut. Aku tidak mau mengibarat-nya kepada layangan dikabel listrik. Soalnya gak akan bertahan lama, hujang atau angin datang. Hancurlah layangannya.


Wajahnya memang tidak terlalu tampan, tapi sesekali dia lemparkan senyuman. Nampaklah manisnya, wajahnya yang berwarna sawo matang. Seperti kebanyakan orang Indonesia memang, tapi aku terbiasa sekali dengan wajah putihnya Riki. Jadi sedikit heran saja kalau ada sejenis black sweet dihadapan.

__ADS_1


“Hujannya sudah lumayan reda, kamu pulang kemana biar aku antar?”


“Gak apa apa, aku pulang sendiri saja…!”


“Ini sudah malam, lihat coba jamnya. Sudah jam 10.30 wib.”


Okeh, aku setuju seketika.


“Kenapa, kamu masuk gang ini juga?” Tanya nya heran


“Iya, kenapa memangnya?”


“Aku juga kesini, cuman terus masuk. Biar agak murah!” Ujarnya sembari menujukan kearah gang itu.


Lumayan ternyata, aku dimini market itu sekitaran pukul 8.00-10.30 wib. Bicara ini itu, tau tau kemana arahnya. Menghabiskan waktu 2jam lebih 30 menit. Akupun lupa apa tadi yang diperbincangakan. Hanya saja namanya Anggara Prasetyo, asalnya dari Yogya. Dua kata itu yang aku ingat.


“Ini kontrakan ku, terimakasih yah udah mau nganterin.”


“Ga apa apa, ga usah sungkan. Terimakasih juga udah memenin tadi selama hujan!”


“Sama sama.”


Karna gemboknya tidak terkunci, aku bisa masuk begitu saja. Masuk kontrakan dengan hati berseri, bertemu orang baru disaat hujan. Lumayan menghangatkan suasana malam. Kayaknya cerita ini memang tak harus nyampai ke Riki. Paling sepintas lalu, nanti nanti belum tentu bertemu lagi. Bisa saja dia pindah kontrakan atau pulang kampung halaman.


Treng …treng….!


Hpku berbunyi,


“Test…ini nomer aku ‘Angga’ jangan lupa save yach!”


“Oke…!”


“Selamat malam, selamat tidur, semoga mimpi indah”

__ADS_1


“Oke…”


Apa apaan ini ko hatiku kembang kempis. Mungkin karna baru kali ini ada pesan yang berisikan perhatian. Walau hanya sekedar kata“Selamat Malam”


__ADS_2