
"Perkenalkan nama saya Angara Prastyo, asal Yogya tinggal di Tambun daerah kampong Pulo. Saya pegawai baru disini, mohon bimbingannya!” ucap Angga dengan mengangkat kedua tanganya yang seraya memohon. Dan aku dengan Mega saling menatap satu sama lain, seperti sedang berkomunikasi dalam pergejolakan batin.
Begitu juga pegawai satunya lagi, memperkenalkan namanya kepada kami. Namun karena ada gemuruh batin yang tak karuan. Suaranya terdengar senyap, yang ada dalam benakku adalah bayangan aku dengan Angga saat bertemu di Yogya. Dengan wajah kumel, kusam dan pakaian yang lusuh. Sekarang dia Nampak berbeda dengan kemeja rapih. Rambut yang terlihat baru dipotong kemarin sore, sepatu mengkilat dari kulit sapi. Beberapa bulu jambang dan kumis tipisnya bersih tanpa bekas. Terlihat Aiysah yang senyum senyum malu melihat penampilan Angga.
“Aisyah, kayaknya terkesima sama pegawai baru!” bisik Mega dengan pelan.
“Aku, no coment!” tak mau kalau saja aku terlihat ingin tau sebagainya tentang apa yang terjadi pada Angga, aku memberi responn yang mengecewakan Mega.
Plak….
Tiba tiba tangan lentiknya Mega mendarat di bagian kepalaku
“Aduh….!”teriakan ini memang harus benar benar pelan aku ungkapkan, karena masih banyak orang dikantor.
“kalau begitu kita akhiri sesi perkenalannya, terimakasih atas perhatianya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu!” Ungkap Pa Candra mengakhiri sesi itu.
“Walaikum salam warahmatullohi wabarokatu.”
Berbeda dengan Aisyah yang sedang semar mesem terhadap Angga, bu Mawar malah lebih melihat reaksiku dikala itu.
Tidak lama kemudian dia datang menghampiri, “Jadi orang itu yang direkomendasikan bu Melia!”
“Emmmmh….iya bu, ituuuuuu temenya Riki!” Ucapku dengan terbata bata.
Mega yang heran dengan reaksi yang di hadirkan oleh bu Mawar terhadapku, dia langsung menghampiri kami yang sedang berbincang.
“Kok, temenya Riki? Bukanya dulu, dia yang sering jalan sama kamu khan?” tanya bu Mawar dengan kepo-nya.
“Waduhhh…sial banget aku. Kenapa dia bisa tau soal ini!” kata hatiku berbisik. Aku langsung memberi respon terhadap rasa ingin taunya bu Mawar. “Kalau saya sich, temen Riki temen saya atau sebaliknya teman saya juga temen Riki.”
“Jadi bukan mantan?”dia menegaskan lagi pertanyaanya.
“Akh ibu mah bisa aja…!” jawabku simple tanpa tau kata apa yang mau diungkapkan jika dia memberikan pertanyaan lagi.
__ADS_1
Tiba tiba Mega menyerobot dari belakang dan menarik tanganku kearahnya, “Kamu dicariin, ayu pulang.”
“Kalau begitu saya pamit duluan bu!”
Kami langsung pergi meninggalkan bu Mawar yang masih diliputi rasa ingin tau, bahkan setelah kami maju beberapa langkah. Dia masih berdiri tegap di posisinya dengan melipatkan kedua tanganya di dada.
“Dia nanya apa, Mel? Kok muka kamu tegang banget?”tanya Mega jadi penasaran.
“Nanti aku cerita, kita kabur dulu pokoknya!” Ucapku sembari bergegas meninggalkan tempat yang masih memberiku ribuan tanya.
Tak mau aku melihat lagi kebelakang, takut dengan badan tinggi besarnya itu. Belum lagi rasa ingin tau yang ditandai dengan mata membulat. Sama bulatnya dengan badanya dia yang ada disekitaran 74kilo. Membuat banyak orang enggan memberikan perlawanan berarti dari sikap protes yang ber;ebih terhadap sesuatu halnya.
“Dia mah udah badan besar, kepo-annya besar juga!” ungkap Mega kesal.
“Eh jangan body shaming!” Ungkapku dengan melerai rasa waswas tadi.
“Tapi bener lho, dia itu luar biasa dech pokoknya!”
“Emang!”ungkap Mega yang merasa kesal terhadap reaksi yang dihadirkan bu Mawar.
Alasan peertama yang menjadi kekesalan bu Mawar adalah, kehadiran pegawai baru tanpa dia tau. Kemudian, ada pegawai baru yang datang dari rekomendasi orang lain. Dan alasan lainya adalah dia memang benar benar tau kedekatan aku dengan Angga dikala itu. Padahal waktunya sudah hampir 3 tahun lebih. “Kenapa memorinya kuat banget?”kata hatiku.
“Mel!” Mega berkata.
“Hemhhhh? Apa?” responku tak berarti padanya karena sedang mengambil HP dari dalam tas.
“Itu Masmu?”
“Mana?” ungkapku seraya melihat kebagian depan pintu gerbang. Dan ternyata benar ada laki laki dipinggir mobil strarlet merah marun. Dengan HP yang di temple kebagian kuping kananya.
“Emhhhh, dia tuh pasti yang nelpon?” Ungkap Mega.
“Ough iya, ngapain dia nelpon. Padahalmah udah deket?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Tapi aku gak bisa barengan, soalnya mau beli buku bareng ayang aku!”
“Yach aku ditinggalin berdua lagi kaya kemarin?”
Kami menghampiri laki laki dengan perawakan gagah itu, Mega yang pamit karena sedang ada acara dengan kekasihnya. Sedang aku masuk kedalam mobil, dengan pintu yang dibukakan Mas Rendra seperti tuan putri.
“Makasih, mas!” ungkapku untuk menghargai prilaku santunya.
Kami masuk, dan sedikit mengobrol tentang rencana yang akan dilakukan besok hari menjelang libur kerja. Namun dibalik obrolan kami yang dibangun didalam mobil. Ternyata aku merasa ada sepasang mata yang mengintai. Dari pertama menghampiri mobil sampai aku masuk dan membangun perbincangan kecil dengan Rendra.
Setelah gas ditancap, aku sengaja menoleh kebelakang. Ingin memastikan pasang mata yang mengawasiku dari tadi. Tepat dia adalah Angga, dia berdiri tegap dipinggir pos satpam. Yang pemendanganya jelas menuju kearah kami. Setelah aku tau, langsung aku memalingkan wajah kearah depan mobil. Heran kenapa Angga memberi reaksi seperti itu padaku.
“Hey, kok jadi malah bengong!” Ungkap Rendra.
“Ough iya apa Mas. Apa tadi, sorry aku masih kepikiran ucapanya Mega!” kataku untuk menutupi sebagian kecemasan ini dengan membawa nama Mega. Padahal jelas aku sedang memikirkan hal lain.
“Ada baso viral di komplek rumahku, kita nyoba yuk?” ajak Rendra yang tak mungkin aku tolak.
Setibanya disana, ternyata lokasinya sangat dekat dengan rumahnya Rendra. Hanya beda blok yang ditandai satu baris dengan rumahnya. Suasanaya sangat ramai, bangunan rumah biasa yang dijadikan tempat untuk berjualan. Ukuranya Nampak sempit karena banyak pengunjung. Rendra memeberi aku klu atau signal yang menunjukan tidak mungkin untuk makan ditempat.
“Mau yang varian apa?” tanyanya dengan sedikit teriakan.
“Samain aja, tapi gak pedas!”
“Okeh….!”
Aku hanya menunggunya di luar, karena banyak kerumunan akan menambah hawa panas Bekasi. Menambah keringat dan disertai bau badan.
“Harus bersikeras jadi pejuang nich, padahal sebelum viral basonya gak seramai ini. Tapi lumayan bisa berkeringat. Hahaha!” Rendra mengunkapkan unek uneknya padaku yang tak membutuhkan respon.
“Kemarin makan nasi padang dirumah, sekarang makan bakso dirumah juga. Tapi bagus lah, jadi biar lebih privat.” Ungkapnya lagi untuk menghibur kami yang sudah lama tak pergi malan diluar.
Ungkapan Rendra yang sama sekali tidak membutuhkan responku, membuat dia bicara sendiri tapi didepanya ada lawan bicara. Sedangkan aku masih kepikiran tentang 2 hal, yakni reaksi Bu Mawar dan Angga.
__ADS_1