
Riki tak pernah tau nama anak yang aku lahirkan itu, karena dengan kesibukanku merawat bayi. Sama sekali tidak memberi ruang untuk berbicara soal nama apa yang akan aku berikan.
“Aku ketemu sama Yuda waktu jalan di Lippo, dia mengundangku untuk menghadiri pernikahanya. Aku kesana untuk menghadiri undaganya, sesaat dalam perjalan. Aku pikir dari pada tidak sama sekali bertemu, mungkin waktu itu adalah waktu yang tepat untuk sekedar bertemu melepas rindu” Jelasku Pada Riki yang masih dipenuhi amarah.
“Lalu…..Kau melepas rindu dengan Masmu itu?”
“Riki, plis! kumohon kamu jangan kaya gini!” Mega seakan melarai perang mulut antara kami.
“Mel, aku adalah garda terdepan yang akan khawatir tentang semua hal yang terjadi padamu. Dulu aku tidak pernah protes dengan keputusan apapun yang kamu ambil. Toh akhirnya, Semuanya kita menanggung bersama dengan semua keputusan cerobohmu itu!”
“Ki, Aku ngerti kekhawatiran kamu. Tapi aku yakin ini akan baik baik saja!” Jelasku untuk mmemberikan keyakinan penuh pada pahlawan pejuang kehidupanku ini.
“Ya udah, kita makan yuk!” Mega mengalihkan konsentrasi kami ke makanan yang sudah dia belinya dari warteg.
Kekhawatiran Riki memang sangat berlebihan, tapi apa boleh buat. Dia adalah satu satunya orang yang mengelap gumpalan darah yang terceceran dilantai saat aku melahirkan. Dengan mata yang sembab karena air mata yang terlalu banyak keluar, membuat dia berjanji pada dirinya sendiri untuk ikut mengawasi segala hal yang Nampak tidak baik dari pasangan yang aku miliki.
“Kemarin Mas Rendra ngeWA aku terus nanyain kamu!” Ungkap Mega sembari mengalaskan nasi dan beberapa lauk pauk kepiringku.
“Iya, aku baru mau bales pesanya nich!” Ungkapku seraya membuka HPku yang baru saja diisi penuh batreinya.
“Lagi makan, ya makan saja!” Kata kata Riki masih saja ketus, membuat aku dan Mega menkonsentrasikan penuh pikiran kita pada aktifitas di meja makan.
Kontrang….kontreng….
Suara di kontrakan kami, hanya ada suara sendok dan garpuh yang saling bermesraan. Dengan wajah kecewa Riki masih saja menatapi makananya dengan mata kosong.
Mega juga tak mau mengawali pembicaraan lagi, takut malah menjadikan nuansan lebih kearah tak kondusif. Aku berharap HPku berbunyi dari siapa saja, karena suasa ini makin mencekam.
Makanan warteg favorit kami ini jadi berasa hambar, karena berhadapan dengan wajah Riki yang teramat sangat masam. Semua rasanya Nampak sama. Apakah itu sayur asem, telur balado atau bakwan jagung.
__ADS_1
Glek glek glek …….
Suara air diteguk ini menandakan, waktu makan ini telah berakhir. Riki yang pamit kepada keasih hatinya itu “Sayang aku pulang dulu”.
“Hati hati dijalanya.” Ungkap Mega sembari mengantarkan Riki meuju keluar rumah kontrakan kami.
Kekhawatiran Riki memang luar biasa, takut aku lepas kendali lagi saat pacaran. Aku dan Mega sengaja disatu rumahkan, supaya bisa saling menjaga satu sama lain. Riki sengaja mencari kontrakan didaerah perumahan yang berkamarkan dua dan ditambah ruangan lain. Sebagai pendukung kami bisa selalu bertemu. Sementara Riki masih mengontrak dengan jenis kamar, dia mencarinya didaerah yang dekat area perumahan tempat kami. Semua didesign oleh Riki, untuk memastikan aku aman.
“Hey, kok malah ngelamun. Itu Mas Rendramu nelpon!”
Saking aku asiknya berguman didalam hati, sehingga bunyi telpone pun tak aku indahkan.
“Iya halo, udah baru aja. Mas gimana? Anaknya gimana udah sehat? Pernikahan? Ough pernikhanya lancar alhmdulihah. Iya kapan kita nyusul?”
Mega mendengar kata kata yang aku ungkapkan pada Rendra kekasih hatikku.
“Aku kalau dengerin kamu ngomong kaya orang gila”
“Bukan, aku dengerinya suara kamu aja. Kaya gitu!”
“Aku gak mungkin loadspeaker khan HPnya!” Jawabku beralasan
“Udah sana akh, telponanya dikamar. Aku mau beres beres dulu.” Ungkap Mega sembari membawa sapu dari daerah dapur.
Mega dan Riki sangat berniat sekali membuat aku bahagia, tak mau membiarkan akau berlama lama dalam pedihnya kesedirian. Mereka Menghadirkan Rendra dalam kehidupanku dan aku bahagia bersamanya.
“Hey, udah telponanya. Besok kita mau kerja nich!” Mega mengganggu kami yang masih asyikberbincang dalam telephon.
“Ya udah Mas, kayaknya udah malem. Besok dilanjut ngobrolnya!”
__ADS_1
“Oke, selamet malam!”
“Malam juga, istirahat yach!”
Pembicaraan kami terpaksa harus terputus karena, sanggahan dari teman terbaikku.
“Ganggu yach kamu!” Kataku dengan sengaja membuat Mega bersalah
“Emang…sengaja…hahaha!”
Kami tertawa lebar bersama, diruangan kamarku. Dia malah mau ikut tidur, akal akalnya pengen berdua tidurnya. Padahal dia seperti ingin mencari informasi yang didapat dari kejadian di Yogya.
“Bagaimana perjalananya?” Tanya Mega, dengan mata setengah terpejam. Masih saja menguntit.
“Perjalanan yang panjang dan melelahkan!” Jawabku sembari memebenarkan pisisi untuk segera bermimpi dikasur.
“Gimana Keadaanya Kemal?” Masih mengajukan tanya padahal kami sudah sangat ngantuk.
“Dia panggil aku mama!” Jawabku dengan senyum senyum sendiri.
“Hah????? Dia tau kamu mamahnya?” Mega terperanjat hebat dengan membuka semua bagian matanya sudah terpejam tadi.
“Kita khan mu tidur, Meg?” Jawabku balik bertanya karena waktu sudah amat larut.
“Ough, kamu ngantuk. Oke dech tapi kamu janji besok cerita yach?” Kata Mega sembari kembali menarik selimut dan membenahi posisi bantalnya, untuk berbenah menuju tidur.
“Hemmmmm,….!” Responku tak banyak karena mataku benar benar kantuk.
Posisi tidur kami sedikit berhimpitan, karena kasur 1x2 meter ini didisi dua nyawa. Ac yang dipaksa sesejuk munkin mengiasi ruangan kami di daerah panas ini. Suasana malam begitu nyenyak karena ruangan itu tidak berlampu alias padam. Mebiarkan mata ini benar benar istirahat dari total kelelahan yang kami miliki masing masing. Beberapa hiasan dinding yang berlafadkan Allah dan Nabi Muhamad SAW. Satu jam dinding dan kalender bergambarkan wanita sexsi. Dan kini kami benar benar sedang terlelap tidur.
__ADS_1
Seandainya saja Mega tau hal yang membuat aku nekat datang ke Yogya adalah Mas Revan, alasanya yang selalu membawa bawa soal anak jadi memberi kerinduan sendiri terhadap lembar masa laluku. Aku pernah punya anak dari hubungan sebelumnya. Sedikit demi sedikit, ingin rasanya aku memberi ruang untuk itu. Aku kadang suka cemburu saat Mas Revan lebih memberikan kecenderungan perhatian pada anaknya itu. Padahal aku juga orang yang akan menjadi masa depannya. Kenapa dia tidak melibatkan aku untuk sedikit masuk, kedalam ruang masalalunya. Mungkin sekedar membawa ku menjenguk ketika anaknya sakit, atau bahkan sedikit memberi hiburan setitik sebagai orang baru yang akan menemani ayahnya diwaktu yang akan datang.
Aku sedikit berfikir apakah masih ada perasaan yang besar, dari Mas Revan terhadap masa lalunya? Atau anak itu hanya alsan istrinya supaya bisa kembali dekat dengan mantan suaminya itu? Aku jadi merasa terpojok disini. Berharap bahwa masalalunya itu seperti masalaluku juga yang dihempas begitu saja dari hidup.