
Part 6
Aku suka senyum senyum sediri, memikirkan soulmate ku ini. Seperti yang sudah terbayangkan ketika Riki tau ceritaku dari orang lain. Dia emosi luar biasa. Harus seleksi dulu katanya, seleksi itu dilakukan ketika saingannya banyak. Sedangkan yang daftar khan hanya satu satunya. Kalau ini tidak lulus seleksi, ya berati ga bakal punya pacar seterusnya.
“Hari minggu ini, kita ketemuannya. Ajak janjian Mas mu itu!”Ajak Riki
“Iya, barangkali aja dia ga lembur!”
“Suruh cancel dulu lemburnya,….!”Ujar Riki yang agak memaksa.
Pertemuan itu terjadi, kami berempat pergi ke Taman Cibitung. Dengan sedikit olah raga, sedikit sarapan juga sendau gurau. Pembicaraan kami Nampak asik, yang dipikirkan aku. Riki akan melakukan wawancara seperti tes seleksi masuk ku ke tempat kerja. Tenyata obrolannya Nampak santai, biasa saja tidak ada yang luar biasa.
“Jadi kerjanya dimana?” Tanya Riki.
“Di perusahaan onerdil Motor…!”
“Waw keren, pasti gajihnya besar dong!”
“Lumayan, apalagi kalau banyak lemburan. Kalau gaji sich sama aja UMR, cuman lemburannya itu yang bisa bikin kantong mepet!” Jelas Angga.
“Pantas kemarin, Melia bilang kamu lagi sering lembur”
“Iya udah beberapa minggu ini ga lembur, keseringan sama dia. Jadi sekarang kembali aja lembur!”kata Angga sembari mengusap tempat duduk yang berdebu
“Tapi tujuan utama kamu punya pacar apa sich?” Pertanyaan Riki ini sedikit mepet ke seleksi yang pernah dia ujarkan sebelumnya
“Punya teman hidup..”Jawaban Riki padat jelas
“Selain itu, ada niat serius ga sich?”
“Pasti,…Iya mudah mudahan saja berjodoh!”
Pertanyaan itu membuat aku yang sedikit gemetaran, jarak mereka berbincang memang tidak terlalu dekat dengan ku. Tapi samar samar aku dengar setiap kalimat yang mereka ucapkan.
“Sialan, Riki benar benar petugas HRD hidupku. Dia mewawancarai Angga dengan seksama. Mudah mudahan tidak ada pertanyaan lain lagi."dalam hatiku. "Aku pikir, hanya aku satu satunya temannya disini. Jadi suka agak khawatir kalau ada orag lain yang bisa akrab dengan dia. Apalagi yang namanya pacar. Tapi seneng sich, kalau dia punya teman hidup yang kaya kamu. Kalau soal jodoh khan kita tidak tau, tapi kalau niatnya sudah baik. Aku sich dukung dukung aja!” Ucap Riki dengan gamblangnya.
“Ough….!”Respon Angga begitu saja
“Tapi kamu gak tersinggung kan, aku nanya nanya soal ini?”
“Enggak lah, lagian aku seneng punya temen yang peduli sama kita. Dan kamu lebih dulu kenal sama dia dibanding aku. Kekhawatiran sebagai seorang teman itu sich wajar wajar aja!”
__ADS_1
Jawaban dari Angga sepertinya mampu memenuhi kehausan Riki. Aku yang lumayan lega bisa melihat keakraban mereka. Sama seperti aku dan Mega, itu juga yang aku harapkan antara Angga dan Riki.
“Kamu tuh emang ya, dasar banget. Ini kebangetan Ki.” Kataku dengan agak kesal
“Udah, sesi wawancaranya berhasil.”Sahut Riki santai.
“Aku tidak pernah melakukan ini sama kamu. Waktu kamu kenal sama Mega. Bahkan udah jadian pun, tidak ada jenis seleksi kaya gini”
“Beda, kamu cewek aku cowok titik ga ada koma!” Sembari senyum simpul dia menjawab pertanyaannku.
Untuk melakukan percakapan ini, aku harus menyeret Riki kebagian belakang taman. Pura puranya ketoilet dulu untuk menghindari kecurigaan mereka.
“Kalian dari mana?” Tanya Mega
“Rapat dulu…!” Ujar Riki
Aku hanya cingak-cinguk, kesana kemari untuk sedikit pura pura dengan percakapan mereka.
“Hey, Mel. Nyari apa?”Pertanyaan Mega lagi.
“Ya udah dech aku jawab RAPAT JUGA!” Dengan sedikit nada tegas ku hanya menyisakan tawa dari keduanya.
“Mel, kita pulang duluan yuk. Aku agak ngantuk nich!” ajak Angga sembari tangan kanan yang mengucek ngucek matanya.
“Ough, baiklah. Kayaknya kita pamit duluan. Ga pa pa khan?”kataku sambal membuang cangkir plastik bekas ngopi di taman tadi.
“Oke, ga masalah. Hati hati.Selamat istirahat.”Jawab Riki dengan manis
Setibanya di depan gang menuju kontrakan, Angga yang Nampak sedikit kelelahan mengajakku untuk pergi bersamanya ke kontrakan.
“Kamu temenin aku, kayaknya aku agak panas dingin!”
“Iya mas, aku ikut kamu!”aku meng IYA kan saja ajakannya. Lagi pula ini hari sabtu, masih ada satu hari libur lagi. Karna semua cucian dan beberapa setrikaan sudah beres di kontrakan. Menemani dia di antara tumpukan lelahnya berharap menjadi obat baginya.
Aku yang biasa memberi sedikit celah diantara pintu kontrakannku saat ada tamu laki laki, agak canggung memang ketika dia menyuruh menutupnya rapat karna angina yang terasa tidak enak dibadan.
“Kamu Sakit apa?”tanya ku
“Gak tau, kayaknya udah lama ga lembur. Pas sekarang nyoba lembur lagi. Badannya agak gak enak gini.”jawab Angga sambal menarik selimut ke badanya
“Tapi tadi udah sarapan khan?”
__ADS_1
“Emmhhh….”dia merespon ku sambal mengangguk
“Mau aku bikini apa?”
“The susu aja,,!”
“Teh susu?? Minuman jenis apa ini?Aku belum pernah denger in sebelumnya?”pertanyaan dalam hatiku ini aku mencoba dengan pengaplikasian nyatanya di hadapan.
“Mel, susu aja ditambahin the. Atau sebaliknya!”Angga mengutarakan itu karna melihat kerut di wajahku.
Hari sabtu itu memang Nampak berbeda. Biasanya kami kencan dengan jalan jalan keluar walau hanya sekedar minum the atau kopi. Kali ini aku harus berada disisinya, melihat dia tertidur dan berada dalam satu ruangan. Hatiku merasa agak sedikit canggung memang.
Tok…tok …tok…
“Ga, lagi apa? Pintu itu terbuka dari luar, Yuda. Ternyata temannya Angga yang nongol dari pintu
“Upst, lagi ada tamu ternyata. Sorry nich. Habisnya ga ada suara, jadi aku pikir ga ada siapa siapa!”ujar angga dengan sedikit kaget
“Iya Ga apa apa ko!” aku menjawab dengan kekagetan yang sama dengannya
“Aku tenang kalau ada yang jagain. Soalnya dari tadi pas ditempat kerja dia ngeluh terus ga enak badan. Kalau gitu aku permisi ya!” Jelas Yuda sembari menunjukan kelegaannya padaku.
Angga yang masih saja tertidur, tidak memberikan respon sedikitpun kepada teman kerja yang sekaligus teman sekostannya itu.
“Mas, minum obat yuk. Aku punya paracetamol nich. Terus ini minum tehsu nya!”bisikku padanya
Angga tersenyum dan membuka sedikit mata kirinya sembari menarik ku kearahnya. Aku yang posisinya memang sedang dekat dengannya, membuat aku tak kuasa menahan tarikanya itu
“Mas…!”ucapku sembari sedikit meronta
“Aku ga butuh obat, kayaknya kalau peluk kamu kayak gini. Sakitku akan segera reda” Angga mengungkapkanya dengan sedikit berbisik.
Aku yang serba salah, meronta juga sudah terlanjur badan ini tertidur disampingnya. Tangan berototnya itu sudah mengunci aku untuk tetap berada di dekapannya.
“masss…tapi”
“sstttt…kaya gini aja ko.!”
Baiklah mudah mudahan benar katanya “Jadi obat”,mungkin badan panas dinginnya itu memang tidak membutuhkan obat. Tapi ingin setitik perhatian. Aku pikir membiarkan sedikit saja adegan ini tidak menambah pundi pundi tabungan dosa ku.
“Ya Allah, mudah mudahan ini bukan dosa”.Dengan polosnya aku mengucapkan doa, sembari memejamkan mata dan berharap sedikit terlelap.
__ADS_1