
Kesalahan pertamaku adalah selalu mendengarkan pesan teman terbaikku ‘Riki’, dia selalu bilang.”Kita harus fokus ke kuliah, jangan ada bumbu bumbu pacaran ini akan menghambat”
Terakhir aku pacaran, pas waktu kelas 3 SMA. Itupun entah pacaran jenis apa, hilang lepas tanpa jejak tak tau rimbanya. Jadi beginilah kiranya hati kembang kempisnya aku, diperhatikan sejenak saja oleh lawan jenis.
Sesekali dia mengirim pesat lewat WA, lagi apa? Udah makan belum? Kalau belanja kabari aku yach, biar barengan!
“Lagi gini aja, oke mas bisa diatur!” jawabku singkat singkat saja
Kring…kring….!
“Ada telpon, dari siapa?’Angga’ aduh angkat gak yach, terima gak yach?”hatiku bertanya tanya.
Dengan ragu ragu aku mencoba menjawab telpon itu.
“Halo…?”
“Mel, gimana kabarnya? ketemuan yuk? Dimini market aja, Gimana?”
“Baik alhamdulilah, kayaknya aku lagi sibuk nich!”
“Yach lagi sibuk,,,,!”nada bicaranya Angga sedikit kecewa
“Bagaimana kalau hari sabtu, aku kan libur. Mudah mudahan aja ga hujan!”
Stetmentku mendapatka persetujuan yang penuh darinya, aku tak terlalu tau daerah disana. Baru 3 bulan tepatnya aku tinggal. Dari persetujuan itu tercetuslah nama, taman Cibitung. Seperti kebanyakan Taman lainya, beberapa pohon, beberapa bunga, beberapa tempat duduk dan dan tulisan besar dengan lampu warna warni”TAMAN CIBITUNG”. Tak ada yang spesial dari pertemuan itu, hanya sekedar makan pagi tau sarapan dihiasi sendau gurau.
Hampir setiap hari minggu, kami kesana bersama untuk bercerita banyak hal. Terutama mengenai pekerjaan, aku yang tak tau banyak seperti apa menghidupkan magnet kekaguman satu sama lain. Tapi keagresifanya memainkan kata kata, lumayan bisa membuatku terpesona.
Semakin lama semakin dekat. Dia bersiasat untuk menciptakan strategi menanam, memberikan hal hal baik yang membuatku merasa berhutang budi dibuatnya. Mengirimkan roti bakar malam malam, dibilanglah “Aku Belinya kelebihan nich!”
“Aku laper, pengen makan nich tapi gak ada temen. Temenin makan yuk!”
Aku yang sudah rebahan, dengan terpaksa kembali memakai costume. Aku coba memakai alas bedak tebal, eyeliner, eyesidow, dan sesekali memoleskan lipstick dengan warna cukup berani.
“Aku ada didepan kontarakan nich, buruan laper!” katanya membuatku sedikit tergesa gesa
Tak jauh seperti aku, aku melihat ada perubahan yang signifikan darinya. Rambut yang tertata rapih dengan minyak rambut jenis WAX, membuatnya bisa berdiri tegap tahan lama. Belum lagi minyak wangi isi ulang yang begitu menyengat menghiasi aroma tubuhnya.
“Mas, minyak wanginya baru ya?” tanyaku
__ADS_1
“Iya, kemarin baru saja gajihan. Kupikir minyak wangi yang dulu udah lama abis!”
“Emang, berapa bulan yang lalu abis minyaknya?”
“Adalah sekitaran 6 bulan”
Waduh, baru beli minyak wangi selama itu. Pantas saja waktu petamakali bertemu Nampak kucel, lusuh tak terawat. Dengan minyak wangi barunya itu, aku bisa mencium aromanya dari jarak 50meter.
“Kenapa, kamu ga suka ya wanginya?” tanya Angga dengan sedikit berharap
“Enggak, aku suka ko. Nama minyak nya apa mas?”
“LUX,….kalau gak salah!”
Pantas saja, aroma yang kucium tak ayal seperti aromanya orang yang baru selesai mandi. Tenyata dari namanya saja sudah ketahuan. Mirip seperti salah satu merek sabun mandi classic.
Belum lagi aku yang biasa panggil dia dengan namanya “Angga”, sekarang harus dirubah dengan panggilan “Mas” panggilan ini memang panggilan untuk laki laki yang berasal dari jawa. Sebutan untuk kakak misalnya, atau orang lain yang lebih tua dan panggilan special.
“Ough, pantesan tadi aku kayak bareng sama orang baru selesai mandi….hihihi!”
“Masasih……?”
“Iya lah, aku beliin nanti pas gajian. Biar yang mandinya kayak berdua…xixixi!” kata Angga sembari cekikikan
"Gak lucu bercandaanynya, omes dih."
Tapi aku ngerasa, ni orang kayaknya iritnya 2x lipat dari aku. Pengen nangis dech, tapi buat apa? Buat keadaan dimana aku bertemu dengan gambaranku sendiri. Tapi iritkan pangkal kaya, jadi jenis irit kaya kami ini adalah kekayaan yang tertunda.
Beberapa pertemuan kami selama 3 bulan ini, apakah itu ditempat makan atau di Taman Cibitung. Ternyata ada sepasang mata yang selalu mengawasi, aku ngerasa banget. Tapi aku jelas tidak mau meneliti siapa pun orangnya. Karna tidak ada kesalan dibuatnya.
“Ibu Melia, saya sering lho melihat ibu berduaan. Sama siapa itu?pacarnya yach?”
Sesaat, ketika kami disekolah. Terlontarlah kata kata itu dari Ibu Mawar. Beliau adalah Guru yang lumayan senior disana, tidak pernah menyangka kalau sepasang mata yang selalu mengawasi adalah matanya beliau.
“Ough, iya Bu. Masasih?Ibu salah orang sepertinya?” Jawabku sedikit mengelak
“Gak mungkin, saya yang waktu itu bareng suami dan anak anak jelas banget ngeliat Ibu Melia dan cowonya!” Ucapan Bu Mawar dengan yakinnya.
Akhinya aku hanya memasang wajah, mesem mesem. Seperti anak kucing mengendap ngendap yang menghampiri ikan asin dan ketahuan sama majikanya.
__ADS_1
Sialnya, ungkapan itu diucapkan di moment istirahat sekolah. Dimana semua guru sedang terkumpul dikantor. Selain aku yang senyum geli, ada senyuman lain terarah kepadaku. Senyuman kecewa karna mendapatkam berita itu dari orang lain.
Treng.. treng…treng!!HP ku berbunyi
Didalamnya pesan dari WA yang berisikan
”Aku tungguin kamu dikantin, sini cepat”
“Waduh gawat ini….!” Ujarku dalam hati
Pesan itu datangnya dari Mega, dia yang tau betul seperti apa jenisnya seorang Bunga Mawar itu. Cerita satu meter dia bisa mejadikannya menjadi 20meter.
“Aku gak nyangka, ternyata kamu gak menganggap sama aku”
“Mega, please. Dengerin cerita aku dulu”
“Gak ada, masa aku mesti tau ceritanya dari Bu Mawar. Sedangkan dia siapanya kamu?”
Mega mengungkapkan beberapa kalimat dengan penuh kekecewaan, bahkan dia menjelaskan segala hal mengenai Bu Mawar. Dia mengutarakan seperti apa aku harus bersikap didepanya. Tidak boleh asal ucap, harus merendah. Karna mulut besarnya itu biasanya bisa membuat sesuatu hal Nampak dibesar besarkan. Aku pun menjelaskan seperti apa keadaan sebenarnya. Mengenai ku dengan Mas Anggaku itu.
“Meg, aku emang lagi deket sama dia. Tapi deket aja ko, ga lebih. Aku pikir kalau sudah ada lebihnya nanti aku baru mau cerita soal itu. Sama kamu, juga sama Riki!” jelasku padanya
“Aku sich, ga apa apa. Malah seneng kamu bisa punya temen baru. Tapi kayaknya Riki mesti tau kabar baik ini!
“Jangan dulu kamu ga tau soal dia, dia pasti selektif banget. Nanti aja kalau sudah fix!”
“Tapi, udah mu jadi nich?”
“Gak tau juga. Sich!”
“Kok kaya masih ragu gitu?”
“Bukan ragu, tepatnya aku tidak mau berharap banyak dulu dengan kisahku ini. Lagian aku pengennya, Riki selksi dulu!’
“Deuh ..katanya gak mau dia tau. Gimana sich!” seru Mega Sembari membenarkan kemejanya.
“Maksudku sebelum akhirnya dia ada niat baik sama aku. Sebelum aku menerimanya, aku harus mengenalkannya dulu ke Riki. Kalau dia oke. Aku juga yes kayanya!”
“Aduh apa sich maksudnya nembak gituhh…ribet banget bahasanya,,!
__ADS_1