Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 16


__ADS_3

“Ini ada apa? Apa yang terjadi sama kamu?”Tanya Mbak Isma


“Ssssssssstttttt……pelan pelan mbak. Nanti aku jelasin!”


“Kamu kenapa bawa bayi ke kampung? Ini anak siapa?”


“Mbak, aku jelasin tapi didalem yach. Aku khawatir ibu dan bapak tau. Dan membuat salah paham. Apalagi kalau kedengeran tetangga.”


Rumah Mbak Isma memang berdekatan dengan orang tua. Hanya berjarak sekitar 10 meter itupun hanya bersekat kandang ayam.


Seperti ide Melia sebelumnya tentang anak mie ayam. Akhirnya Angga cerita soal itu pada mereka.


Mbak Isma yang polos sedikit percaya tapi masih dengan penuh tanya. Sedang Mas Ridwan kakak iparnya Angga menaruh sedikit curiga tapi meng-iyakan saja ceritanya Angga.


“Kenapa tukang mie ayam itu harus menitipkan anak ini ke kamu?” Tanya mbak Isma


“Aku kasihan sama dia, dia mau mempertahankan rumah tangganya dengan cara ini. Suaminya mau menerima dia kembali dengan catatan tidak mau melihat keberadaan anak ini!”jelas Angga bertelel tele.


“Emang anak ini hasil apa? Perselingkuhan?”Tanya mbak Isma dengan mata melotot


“Kata suaminya gitu, padahal istrinya tidak merasa. Memang pernah ada yang dekat disaat masa masa pertengkaran mereka. Tapi kedekatan mereka tidak berlebihan. Ketika suaminya ngajak baikan, istrinya malah hamil. Pokonya gitulah ceritanya!” Kata Angga yang sedikit kelelahan.


“Mah, kondisinya mungkin sedikit rumit. Intinya apakah kamu siap mengurus bayi ini?” Kata Mas Ridwan menambahkan penjelasan Angga.


“Iya, pah. Mamah ngerti tapi semuanya harus jelas. Kita harus tau asal usul anak ini dari mana, atau pasangan mana, dengan alasan apa!” ungkap mbak Isma dengan detil


“Tapi kata ibunya, dia janji akan men-trasfer tiap bulan untuk kebutuhan susu bayi ini!” Jelas Angga masih dengan kebohongan.


“Bukan masalah materi Ga, tapi asal usul kataku tadi!”


Aku malah jadi terdiam menangani rasa ingin tau Mbakku. Sedikit menyerah, kata hatiku ingin kembalikan saja anak ini pada ibunya. Tapi apa lah daya, ini jalan yang sudah kupilih.


Sedangkan mas Ridwan seperti punya firasat tentang kegamangan ini. Ikut menambahkan sesuatu pada pembicaraan kami.


“Mah, kayaknya tak ada salahnya kita merawat anak ini. Anggap saja ini anugrah yang Allah titipkan pada kita. Lagipula kita pernah mengidamkan anak laki laki!” Rayuan suami Mbak Isma ini ternyata mampu meluluhkan hati istrinya.


“Baiklah, mungkin ini salah satu cara Allah. Menitipkan anak laki laki pada kita!”


Anaknya Mbak Isma ada 2. Dan keduanya perempuan. Anak sulungnya adalah Raisya yang berusia sekitar 8 tahun dan anak keduanya Ghaida usianya 5 tahun. Sehingga mereka sangat mengidamkan anak laki laki. Sialnya cerita ini pernah diceritakan pada Melia dan dia mampu memanfaatkan moment ini sebagai alasan menitipkan bayi.

__ADS_1


“Mah bawa bayi nya, dari tadi adik mu menggendong bayi itu. Pasti sangat kelelahan!” Kata Kakak iparku yang membuat hatiku lega.


Keadaan bayi itu dipenuhi dengan keringat. 12-13 jam perjalanan antara Bekasi-Yogya. Membuat anak itu basah.


“Namanya siapa anak itu?”Tanya Mbak Isma


“Kemal…….!”Ucapku


“Ko, kamu tau!”


“Iya lah Mbak, orang dia yang ngasih tau namanya ko! Udah deh, aku cape banget. Mau mandi sama makan dulu. Bayi itu juga belum mandi 2 hari!”


“Apa……2 hari, kenapa?”Tanya Mbak Isma kaget.


“Gak tau, itu ibunya yang ngomong sama aku” Jelas Angga


“Nak, kasian banget kamu. Semoga kamu jadi anak yang soleh, murah rezeki, sehat selalu!” Ungkap Mbak Isma sembari mencium pipi kanan dan kirinya bayi itu.


Angga marasa sedikit lega. Mbak Ismi akhirnya mampu menerima keberadaan bayi itu. Dia senyum senyum sendiri, merasa bahwa aktifitasnya kedepan tidak akan diganggu bayi.


“Semoga kamu betah bersama Bu’de mu disini” Kata hati Angga.


“Mbak kayaknya aku berangkat lagi nanti sore, terus ini uang buat susu. Kalau gak salah uangya Rp 3000.000,.mudah mudahan cukup buat belanja bajunya juga. itu khan cuman sedikit!”Ucap Angga dengan tenang.


“Anaknya ga rewel kok, manis banget!”


“Iya om, dia senyum senyum terus. Senyumnya mirip sama kamu!” Ucap Raisya anak sulung kakakku


“Husttttt…..anak kecil tau apa soal mirip.” Angga mengelak walau sedikit gugup.


Sembari membereskan barang barang yang akan dibawa pulang ke Bekasi.


“Le, kamu hati hati dijalan nanti ya!” Pesan Bapakku


“Iya nanti pasti sampainya agak malam. Berangkat malam ke kota kan ada resiko!” Pesan Mas Ridwan padaku.


“Makasih Mas, aku nitip Kemal. Nanti kalau ada apa-apa soal biaya kontek aja!”


“Iya, kamu yang tenang aja kerjanya disana. Nanti aku yang ngasih kabar!”

__ADS_1


“Makasih ya Mas.”


Sesama lelaki, Mas Ridwan seperti tau kondisi sebenarnya. Tapi dia Nampak pura pura tidak tau. Menerima anak itu tanpa tapi. Berharap Kakak iparnya itu mencintai anak tukang mie ayam dengan sepenuh hati. Aku bilang “Titip Kemal” matanya seperti memancarkan kata “Iya aku akan menjaga anakmu dengan baik le”.Tapi komunikasi itu dalam hati karna nyatanya Mas Ridwan memilih mengakui nak itu sebagai anak orang lain yang aku titipkan padanya.


++++++++


Setibanya Angga kembali dikontrakan, sudah ada orang yang menyambutnya di depan pintu.


“Gimana?” Tanya nya


“Seperti yang kita duga!” Jelas Angga


“Anak Mie ayam?”


“Iya!


“Hore…..!” Sembari memeluk Angga seperti itu adalah sebuah perayaan yang luar biasa.


“Kamu ko, bilang hore ini aib akh!”


“Aku hanya cemas, takutnya kamu membuang anak itu di terminal atau pinggiran sawah. Tapi kalau Mbak mu sudah menerima. Aku lega!”


Beban Angga saat ini memang sudah terlepas dari punggung. Yuda adalah salah satu orang yang meringankan bebannya. Padahal ada hal lain yang masih membutuhkan perjuangannya.


Berbeda dengan Angga, Melia malah melamun tak karuan. Kerja dengan pekerjaan malah tidak fokus. Bu Mawar yang selalu ingin tau tentang kejanggalan yang dialami Seorang Melia membuat hati Nampak jengkel.


“Wajah kamu bercahaya sekali!”Ucap Bu Mawar.


“Masa sih bu,!”Ucapku sembari memegang wajahnya yang Nampak lebih putih pucat pasih.


“Ibu Mel-mel, kayaknya perawatan?”Tanya Aisah dengan sedikit menghibur.


“Ibu Melia sakitnya lumayan parah jadi wajahnya putih bukan pakai pemutih, tapi darahnya masih belum terkumpul!”Jelas Melia menambahkan


“Hah….maaf bu. Aku cuman bercanda!” Aisah berkata dengan rasa bersalah.


Ibu Mawar masih diliputi penasaran.


“Penyakit jenis apa yang bisa ngabisin darah?” Pertanyaan Bu Mawar membuat otak Mega sedikit memanas. Melihat tangannya terkepal kebagian bangku kerjanya, aku menenangkan dengan mengelus ngelus jemari lentiknya dengan sedikit sentuhan. Karna seyogyanya seorang orang tua. Pasti mempunya firasat atau klu ketika ada anak muda yang mempunyai tanda tanda menuju kearah ”Hamil” tapi yang terjadi tidak sesuai dengan perkiraannya.

__ADS_1


__ADS_2