
Part 8
Langkah ku yang agak tertatih, agak dijingjit ini akhirnya bisa mengantarku pulang sampai tujuan.
“Satu jam sudah aku dikamar mandi, mencoba membersihkan dan bersihkan lagi. Tapi aku merasa masih kotor. Ya Allah, seberapa banyak lagi air yang harus aku siramkan hingga bisa membuatku kembari bersih suci tanpa noda.”Rintih Hatiku lirih
Aku pikir setelah kejadian itu dan melihat aku sedikit murung, Angga akan menghentikan nyanyian surga dunianya. Ternyata dengan dalih cinta suci yang semakin hari semakin harus dipupuk.sesaat ketika aku menolak. Dia malah bertanya tentang seberapa besar cintaku padanya.
1 minggu sekali dia ingin mebuncahkan isi hatinya dan isi kantong spermanya kepadaku. Tepat dimulut rahimku, dia berceceran begitu saja. Aku yang semakin lama semakin tak tahan dengan semua ini, kuasaku hanya sekedar menolak. Tapi akhirnya aku malah terjangkit candu *** tiada terkira. Kecanduan ini lebih parah dari yang disangka, pikiranku hanya penuh tentang mengingat kejadian semalam bersamanya. Melihat makanan tidak berselera, melihat semua warna nampak sama. Karna yang Nampak bersinar hanyalah seorang Angga.
Setiap waktu hanya wajahnya yang Nampak dalam benakku, bahkan masih terbayang ketika dia tak berbusana. Menari nari indah di atas tubuhku. Atau merangkak bersama meneguk nikmatnya puncak asmara.
“Mas, apa kamu ga takut aku hamil?” tanyaku padanya sembari menkancingkan baju yang sudah dilepaskan Angga
“Gak mungkin. Kita melakukanya khan ga sering kaya orang yang sudah menikah. Jdi kemungkinan hamil paling 5%!”Jawab Angga dengan yakin.
“Denger kata nikah, ko aku jadi pengen nikah Mas!”
“Ayo,,,!”
“Beneran kamu Mas, mau nikahin aku?”
“Pasti, aku janji akan nikahin kamu. Kita sudah berjalan begitu jauh dari sekedar cinta. Kita memang harus menikah sayang!”
Wajahku yang berbinar Nampak kepermukaan, aku hanya berharap ini bukan janji manis sang kumbang kepada bunganya.
“Janji...!”uajarku sembari mengacungkan jari kelingking ku padanya
“Janji. Makannya kita meski nabung dulu dari sekarang. 2-3 tahun lagi uang tabungan kita bisa dipakai untuk pernikahan, biar kita tidak bergantung ke orang tua”kata kata Angga mampu memntramkan hatiku.
Janji manisnya tidak sekedar janji, dia membagi dua uang gajinya untukku. 2jt untuk keperluanya dan 2jt untuk cita cita kamu ke jenjang yang lebih serius kepernikahan. Berjalan 3 bulan uang terkumpul 6jt belum lagi uangku juga ditambahkan disana, jadi jumlahnya sekitar 9jt. Aku berfikir uang segini lumayang cukup untuk dipakai seserahan pria. Tapi sepertinya Masku tak mau memberikan bebannya itu kepaada kedua orang tuanya. Sehingga diabilang butuh waktu 2-3th lagi untuk menabung. Tak terbayangkan selama itu aku harus berhubungan dengan seorang pria dengan semua nafsu kotor kami. Lalu berapa banyak dosa dosa kami terkumpul sebelum akhirnya menikah.
Otakku berfikir keras, langkah apa yang harus aku ambil untuk tidak terus menerus dalam kenikmatan dosa sesaatku ini. Memaksanya menikahiku saat saat ini, atau menikah dibawah tangan saja supaya hubungan kami halal. Bebanku bukan main beratnya ingin rasanya aku bagi tapi dengan siapa? Tak kuasa aku memikirkanya ketika Angga saja yang tau kejadian ini, apalagi kalai sampai orangtua dan keluargaku. Bagaikan mencoret wajah mereka dengan kotoran, mengungkapkan semua keluh kesahku pada mereka.
Akhirnya aku telan ludahku sendiri, pahit rasanya bagai empedu. Apa boleh buat? Bertahan dengan segala kemungkinan atau menjauh dengan menanggung beban moral sendiri. Rasa cintaku besar buakan main untuknya, bila aku tiba tiba pergi darinya berarti aku menyiksa batinku sendiri. Mau menangis aku malu, sekedar berbisik mesra dengan Allahku aku lebih mau lagi.
__ADS_1
Pikirangku pusing bukan main. Kesana kemari, ragaku duduk tapi jiwaku berlarian tak henti.
Ya Allah…Ya Allah…Ya Allah….
Gubrak……..
kepalaku terpental kemeja rekan kerjaku yang lain dikantor.
“Melia, kamu kenapa?”Mega kontak kaget melihatku yang jatuh
“Bu, Mel kenapa?”Suara itu lantang terdengar dari depan mejaku.
“Sepertinya Ibu Melia pingsan, kita langsung saja bawa ke kelinik terdekat!”Ucap Aisah salah satu pegawai TU Disana
Aku, Mega dan Aisyah yang ada dimobil sekolah itu, Pa Ilham membwa kami ke klinik terdekat. Supir sekolah ini bukan main menjalankan mobilnya. Tergesa gesa karena panic, kecepatan tinggi adalah pilihan satu satunya
Sesampainya di klinik pun tetap Mega yang paling cepat tanggap.
“Bagaimana dok, teman saya ga apa apa?”tanya Megaa ke salah satu doketer pemeriksa
“Makasih ya dok,!”
“Sama sama!” Jawab dokter sembari pergi ketempat UGD yang tadi
“Bu Mega, Si Ibu Mel mel ini kenapa?”Tanya Aisyah dengan nada ada rasa ingin tau.
“Kecapean katanya…!”Jawab Mega sesuai dengan penjelasan dokter tadi
Sesaatnya aku tersadar.
“Aku dimana ini?”Tanyaku pada mereka sembari mengerutkan keningku
“Kamu ada di klinik, kamu pingsan tadi!”Jelas Mega
“Hah Aku pingsan?Kenapa?”
__ADS_1
“Iya, makanya jangan cape terus banyak pikiran!”Ujar Mega Dengan sedikit khawatir.
Disaat perbincanganku dengan Mega, tibalah Riki dan Angga.
“Kamu kenapa?”Tanya Angga padaku dengan cemasnya.
“Aku ga apa apa mas.”Jawabku singkat saja. Padahal ingin aku ungkapkan semua bebanku padanya. Tentang janji 2-3th nya. Atau hubungan kami yang harus dibumbui *** setiap waktu.
“Kalian jangan cemas, Melia kecapean aja!”
“Makanya jangan diporsir kerjanya!” kata Riki dengan sedikit meledek
Akhirnya kami pulang dari klinik. Dalam perjalanan Riki sesekali melihat wajahku, tatapan mataku yang kosong membuat dia sangat khawatir.
“Kamu ditemenin Mega ya Mel?”
“Ga usah Ki, aku baik baik aja.” Kecemasanya Riki diungkapkan dengan makna terselubungya.
“Ga masalah Mel, aku nginep disini. Jangankan Riki, aku juga sama khawatir. Jadi aku nginep yach disini semalem!”
“Okeh… !”Nada Mega yang sedikit memaksa membuat aku menyetujui hal yang diajukan Riki
Di perbincangan kami, Angga sama sekali tidak menunjukan perhatianya sama sekali. Entahlah tak tau alasanya kenapa. Mungkin juga Riki yang perhatiannya berlebih membuat dia merasa tidak perlu menampakanya didepan mereka.
“Kalau gitu aku pamit” Ucap Angga.
“Iya aku juga sama Ga, mau pulang juga!”
Mereka berdua pergi. meninggalkan aku dan Mega Dikontrakan 3x3 ini . Di bangunan ini masih selalu terbayang adegan adegan mesra kami. Tepatnya disetiap penjuru kami sudah menandainya.
“Mel, kamu kenapa?Jangan bengong gitu dong, khan ada aku disini!”
“Iya, sorry!”
“Kamu kenapa sich? Mau cerita sesuatu sama aku?”pertanyaan Mega begitu santunya padaku.
__ADS_1
“Aku pengen banget cerita. Tapi kayaknya ga sekarang!”