Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 24


__ADS_3

Lalu apalagi sekarang, semua yang aku harapkan akan benar terjadi. Mas Rendraku akan menjadi pendamping disaat suka dan duka. Niat baiknya untuk mengikatku dengan tali pertunangan, adalah hal yang melegakan. Aku tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk mengungkapkan hal yang pernah terjadi di beberapa taun yang lalu. Aku pikir dia akan menerima aku dengan baik, meski aku pernah berada di titik ter-Pekat yang aku rasa.


Sepulangya dia dari tempatku, aku masih juga kepikiran soal Angga. Meski dia sudah diterima dengan seksama oleh pak Candra, tapi besok masih harus ada sesi wawancara yang hanya pormalitas itu. Aku tidak habis pikir kenapa ada niat untuk satu pekerjaan denganya. Laki laki yang pernah ada dalam hidup aku dan memenuhi aku dengan rasa kecewa. Meski patokan utamanya ada di Kemal, tapi yang aku hadapi adalah ayah biologisnya.


“Hai, belum tidur cantik.” Ucap Mega yang memberi candaan dikala mau menuju tidur.


“Aku mau tidur, tapi ada yang ganggu!”


“Apakah aku menganggumu, nona manis?” Mega masih memaksakan ke humorisannya.


“Banget…..!”ujarku sembari melotot kearah Mega yang dari tadi terus menggodaku.


“Lalu tiba tiba pesawatnya datang, dan akan segera mendarat….siut….jleb!” Mega melakukan gerakan tiba tiba menyerupai pesawat yang mau take off yang mengkagetkan aku.


“Aw…aw…heh kalau pesawatnya mau landas bukan disini tapi ke Bandar asana!” jawabku seraya menyahuti semua candaan yang Mega hadirkan.


Ha..ha…ha…ha..ha..


Kami berdua tertawa terbahak, melepaskan semua beban dari pundak yang ada sejak pagi sampai sore di pundak kami.


“Emang kamu lagi ngajarin Story telling sama anak anak?” Tanyaku padanya yang tau betul aspek dan kelebihan apa yang dimilikinya sehingga dia dinobatkan sebagai Pembina salah satu eskul disekolah, yakni escul story telling.


“Iya, dan lombanya 1 minggu lagi. Hebatkan?”


“Siapa?” Aku bertanya ini untuk melunturkan keyakinan Mega tentang kehebatanya.


“Emhhhh….aku…emhhhh bukan dech….anak anak…emhhh bukan ya aku lah. hahahaha!” pertanyaanku tadi malah bikin si hebat story telling ini Nampak dungu.


“Iya dech, kamu yang hebat. Lagian kalau aku yang jadi pembimbingnya pasti anak anak gagal!” ucapku dengan diselingi tertawa cekikikan, “hihihihihi…….!’


“Jadi mau cerita ga?” pertanyaan Mega tiba tiba mengalihkan pembicaraan kea rah yang lain.

__ADS_1


“Soal apa nich?” tanyaku dengan mengangkat kedua keningku dan mengarahkan wajah ke hadapn Mega.


“Dua duanya.”Ujar Mega.


“Tiga ,dong!”ucapku dengan mengangkat jari yang berjumlah 3 karena jari jempol dan kelingking dilipat.


“Waw, satu lagi siapa bu?” pertanyaan Mega lagi lagi dengan selera humor.


“Kemal.”senyumanku nampak jelas sekali bahwa posisi anak ini benar benar nyata dalam hatiku. Dia bersemayam menjadi bagian aku meski terpisah jarak dan waktu. Aku mencintainya sebesar aku mencintai detak jantungku sendiri. Meski ini hanya ada dalam kata kata semata tanpa tindakan nyaata.


“Tapi aku gak bisa banyangin seperti apa Riki bereaksi, kalau saja dia tau? Soal Angga yang bekerja di SD IT tempat kita bekerja.” Ucap Mega yang membebani.


Aku yang masih acuh tak acuh dengan pernyataan Mega yang sedikit membebani, pura pura menarik selimut karena hawa AC yang terlalu dingin.


“Huaaaah…aku ngantuk nich, bobo yuk!” mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“Jadi besok kita bakal ketemu sama Angga?” ucap Mega masih ingin menggali informasi.


“Tapi Mas Revanmu kesini khan?” pertanyaan mega masih belum selesai.


“Iya….kalau nanya ngapain? Kita makan nasi padang disini.” Aku mulai memelankan suaraku agar Mega tau ini adalah tanda untuk meng-cat perbincangan kami.”Eh, tadi kamu kemana sama Riki?” Suaraku lantang sembari mengeluarkan wajah yang sudah tenggelam dalam selimut dekil bergambar hello kitty.


“Rahasia….huahhhhhh, mau tidur akh ngantuk!” dia membalas rasa ingin tauku dengan sengaja menguap sebagai tanda ingin mengakhiri pembicaraan.


“Tuh kan, anak ini. Liciknya bukan main, masa dia bertanya dengan sangat terkonsep yang bertubi tubi bak wartawan yang sedang mewawancarai artis dengan gossip terbaru. Giliran aku yang bertanya, dia malah menutupnya dengan alasan ngantuk dan menjawab Rahasia. Awas ya nanti.” Gumanku dalam hati.


###


Keesokan harinya, kami pergi menuju tempat kerja tercinta. Bangunan mewah berwarna kuning es kream murahan jajanan warung. Membuatnya Nampak bersinar karena tersorot sinar mentari pagi.


“Ini jam 7, tapi serasa jam 9nan.” Ucapku yang membutuhkan respon dari lawan bicara.

__ADS_1


“Ini cerah, sayang. Secereh hatimu!” Mega jelas merespon ku dengan gaya humorisnya.


“Ikhhhh…………… ini pasti gara gara kemarin kelmaan jalan sama Riki. Jadi kaya gini akh.”


Teng …teng…teng…


Suara lonceng berbunyi, ini menandakan bahwa kami stap pengajar harus sudah stay didalam kelas. Aku dan Mega berlarian menuju ruangan kami masing masing, takutnya ada yang punya sekola. Yaitu bu Mawar, meskipun dia juga pekerja biasa namun dia akan sangat menghardik ketika ada keterlambatan barang 1 menit saja dari beberapa pegawai. Ya, dari beberapa. Karena beberapa lagi yang lainnya adalah keluarga besar yayasan sang pemilik kewenangan sekolah. Tidak lama kemudian datanglah beliau yang kami takutkan,


“Bu Melia, tumben sudah ada dikelas!” ucap bu Mawar dengan wajah lempeng.


Aku yang tak mau ada percekcokan, hanya membalasnya dengan senyuman.


“Jangan terlalu sering kaya gininya?”


Dari awal sampai sekarang, aku tidak pernah telat datang ke skolah. Namun, karena stibanya disekolah suka duduk duduk santai dulu di kantor. Membuat aku sedikit telat masuk kelas. Aku jadi sedikit bingung dengan kedudukan sang bunga Mawar itu, dia itu pengajar atau stap ahli? Stap ahli keributan tepanya?.


Kami tahu jelas tentang tupoksi seorang guru, kenapa dia terliat seperti sang ahli dan pengusa keadaan. Tapi, buka bu Mawar kalau tdak sepeti ini.


Disela sela pertengahan jam pelajaran berlangsung, sesekali aku melihat keluar. Untuk mencari angin dan sedikit rileksasi. Mengambil HP dari kantong celana, cek ricek dari siapa saja pesa yang masuk. Ternyaa tidak ada satu pun.


Dari kejauhan terlihat laki laki berbadan tinggi, dengan celana hitam dan kemeja panjang berwarna Kream. Dari gaya jalanya, aku seperti kenal. Namun jarak yang begitu jauh tak memberi kejelasan yang pasti. Kemudian ada seorang perempuan dan menyapa, laki laki itu diantarnya menuju ruangan kantor. lalu aku segera masuk lagi kedalam kelas. Diluar sebentar saja aka nada bahaya mengintai. Dengan sedikit senyuman dalam hati.


Tidak terasa jam pulang pun tiba, aku segera ke kantor. yang biasanya aku dan Mega selalu bertemu disela sela istirahat. Hari ini agak berbeda.


Pa Candar menghampiri kami, yang sedang berbenah untuk pulang.


Permisi, halo, assalamalaikum!


Kami yang sedang asik dengan tas masing masing, seraya berhenti sejenak untuk memberi perhatian terhadap salah satu petinggi di sekolah ini.


“Saya mau memperkenalkan pegawai baru disini! Silahkan perkenlakan diri kalian!” perintah pa Candra kepada kedua pegawai barunya.

__ADS_1


“Hah ternyata benar, laki laki yang berkamejakan berwarna kream itu adalah Angga. Pantas saja aku tau betul gerak geriknya!” Gumanku dalam hati.


__ADS_2