
Part 15
“Bagaimana?Jangan kelamaan mikir, ini anaknya!” dengan jalan yang serasa melayang di atas tanah disaat aku memberikan anak mungil ini kepangkuan Angga.
“Tapi janji jangan sampai ada pikiran untuk membuang anak ini ke tong sampah. Jantungnya pernah berdenyut di tubuhku. Dan ini uang yang kata Riki kamu pinjamkan, aku kasih ke kamu. Barangkali butuh buat beli susu.” Pesanku pada Angga
Aku tidak tau, selain kata gila adakah kata lain yang inggin Angga ucapkan padaku. Untuk mewakili perasaannya terhadapku atas tindakan tidak terpujiku ini.
“Kalau gitu aku pergi, semua perlengkapan anak itu ada di tas ini. Kalau soal gimana bikin susu, kamu bisa lihat tutorialnya di yutube. Aku pamit mas” dengan hati hampa aku berjalan melewati mereka berdua. Hanya berharap Tuhan memaafkan semua dosa dosaku.
Mega yang melihat kami dari kejauhan sontak heran.
“Kenapa bayinya kamu kasih ke Angga?” tanya Mega
“Katanya dia mau merawatnya sementara!” Aku mencoba melanjutkan peran Antagonis ini dengan sedikit kebohongan.
“Ough Syukurlah…!” Ucap Mega dengan sedikit lega sembari mengelus dada.
Menurutmu begitukah, mana mungkin laki laki jenis Angga mau merawat bayi. Sedangkan aku dan Mega pulang dengan tangan kosong. Berbeda dengan kondisi Angga yang sangat kelelahan. Membawa tas dan kantong kresek ditangannya. Belum lagi bayi yang ada di gendongannya itu sedikit tidak mau diam karna tidak nyaman.
“Anak manis, kuat ya sayang!” Ucap Angga dengan mengepok ngepokan tangannya kebagian pantat bayi.
Angga berjalan menuju kontrakannya. Melihat beberapa pintu dengan nomer tertera. No 13 adalah no kamarnya. Namun pintu kamar yang dia ketuk adalah pintu kamar yang bernomor 18.
Tok…tok…tok
“Yud, kamu udah bangun?” Tanya Angga dengan suara berbisik agar tidak terdengar orang lain
Sesaat Yuda membukakan pintu kamarnya, Dia terperanjat kaget.
“Ini anak siapa?” Tanya Yuda
“Anakku……hiks…hiks…hiks….!” Angga mengungkapkan apa yang ditanyakan Yuda sembari memeluk Yuda dan menangis.
Tangisan itu berlangsung lama. Dengan keadaan bayi Kemal dalam pelukan, Angga menjelaskan semua duduk perkaranya.
“Aku pikir ada opsi yang tepat yang mesti kamu pilih.”
“Yang mana menurut mu, Yud?’ tanya Angga
__ADS_1
“Mbak mu di kampung….” Jelas Yuda
“Tapi kalau mereka tanya ini anak siapa? Apa yang harus aku lakukan?”Tanya Angga
“Benar kata Melia. Bilang saja anak tukang mie ayam”
“Apa mereka akan percaya!”
“Bilang juga dengan alasan pelengkap lainya. Tapi Melia bilang akan membawanya setelah 2tahun khan? Bilang juga waktu mereka merawat bayi ini hanya sekitar 2tahun!”
“Apa ucapan Melia bisa dipercaya?”
“Ya mudah mudahan saja” ujar Yuda dengan sedikit bercanda
“Tadi, aku baru melihat wajah Melia Nampak seperti monster.”
“Tidak ada pilihan lain, kamu juga harus bisa diajak kerjasama” Ungkap Yuda yang masih saja berpihak pada Melia.
“Pantas saja ada orang yang berani menyimpan anaknya dimesjid dan menuliskan secarik surat, atau ada yang membuangnya ke sungai. Mungkin mereka ada di kondisi seperti ini” Ungkapan Angga yang sedikit diplomatis.
“Kamu tau gak sich, jika anak ini ada di mbak kamu di kampung. Kamu masih bisa melihat tumbuh kembangnya. Tapi kalau kamu menitipkannya di panti. Kamu akan diliputi rasa bersalah setiap saat!”Ungkap Yuda dengan sedikit menakut-nakutiku
Selama satu hari angga mengurus anak bayi itu dia sudah merasa kewalahan. Walau dibantu oleg Yuda dalam hal membuatkan susu. Tapi dia masih menanggung penuh atas segala hal yang terjadi terhadapnya.
“Yud, besok kayaknya aku ijin gak masuk kerjaan”Ujar Angga
“Kenapa lagi sich ga?” tanya Angga heran
“Aku mau pulang ke Yogya!”
“Kamu jadi bawa bayi itu?”
“Doakan aku, semoga disaat membuat alasan, tidak sampai ketahuan!”
“Semoga semuanya lancer, kalau ada apa apa telpon aku langsung. Sekarang aku kebagian HRD dulu untuk mengajukan ijin. Kamu berapa hari disana?” Tanya Yuda dengan.
“Paling 2hari. Aku langsung pulang saat semua urusan selesai!”Jelas Angga
Dengan hati bermacam macam warna, campur aduk tak terkira. Dia melangkah tegar, memasuki bis yang menjurus ke kota Yogya. Sesekali beberapa gadis melihat kearah Angga yang pucat pasih. Tertunduk malu, menunduk kebawah. Mengingat kelakuannya yang lalu, yang membuat dia menanggung akibat itu dengan nyata.
__ADS_1
“Di dunia aja udah gini, gimana di akhirat nanti” Bisik hatinya Angga
“Mas, anaknya lucu. Lihat dech idungnya mancung!” Suara ibu ibu dipinggir kursiku.
“Masa sih bu”
Angga seperti tak nampak bahagia dengan ungkapan ibu ibu tadi. Padahal beberapa pasangan didunia ini ada yang bener benar menginginkan anak dengan sulitnya. Tapi dia malah merasa ini semua tak berarti.
“Mamahnya kemana mas, kok gendong debayinya sendirian aja!” Ibu itu kembali bertanya
“Ada di Bekasi, saya mau menitipkan anaknya ke keluarga dikampung!” Jawab Angga jujur
“kenapa mamahnya ga ikut?”
“Dia kerja bu, saya yang ijin ke kantor”
“Wah papah yang luar biasa!’Ungkap ibu itu dengan kagum.
Angga sesekali memasukan ****** dot ke mulut bayinya. Dia berharap bayi itu tidak melakukan kegaduhan di bis. Karena kemarin pas dikontraknya, bayi ini menangis tak karuan.
“Kuat ya nak, perjalanan yang ditempuh kita 13 jam. Jadi jangan nangis kalau cape. Bobo aja terus, biar bapak mu ini tidak stress.” Bisik Angga ke bayi itu.
Perjalan panjang ini masih diisi dengan hati yang bertanya tanya. Berharap mbaknya dikampung bisa menerima bayi ini tanpa pertanyaan pertanyaan lain.
“Huuhhhhh,,,,,,!”Angga menghela nafas panjang. Mengeluarkan beban dalam tubuhnya lewat napas yang terhembus.
Melihat wajah bayi yang tertidur pulas. Membuat Angga menumbuhkan rasa kantuknya. Tertidurlah Angga dan bayi itu di dalam bis.
“Terminal…….terminal…….terminal…!”Suara kondektur yang teriak membangunkan Angga dari lelapnya tidur.
“Hah….nyampai dek…alhamdulilah!”
Melihat sekeliling terminal, beberapa orang sedang tertawa ada pula yang bercerita. Tertawa mereka seperti sedang menertawakan dirinya. Membawa bayi dan tas besar. Jalan pelan pelan Nampak seperti pencuri yang takut ketauan.
Setelah sampai ke terminal, menuju rumah Angga masih harus menempuh perjalanan 1,5jam menggunakan mobil eleft atau Angkutan lainya. Hawa panas yang tak berimbang pergantian dari AC menuju mobil yang menggunakan AC alami.
“Nak…itu rumah eyang mu. Jangan nangis kalau ketemu mereka yach!” bicaranya Angga menuju anak bayi yang di gendongan.
“Assalamualaikum……!”
__ADS_1
“Waalaikumsalam….!” Jawab seorang wanita dari dalam ruangan yang bukan lain adalah kakaknya sendiri.
“Embak………!”Suara Angga memanggil kakaknya itu dengan sedikit mengerutkan dahi bukan karna bingung, tapi ingin merayu kakaknya supaya tidak marah melihat kondisi adiknya yang membawa bayi dalam dekapan.