Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 27


__ADS_3

Pagi itu, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Tempat kerjaku akan mengadakan acara pisah sambut untuk kepala sekolah baru. Beberapa orang disibukan dengan kegiatanya masing masing. Aku dengan Mega selalu disandingkan berdua untuk menangani sebuah tugas, mereka sang pemberi tugas tau aku selalu beriringan bersama. Begitu juga Bu Mawar dengan Aisyah, mereka disandingkan berdua untuk mengemban tugas di bagian catring. Hanya saja diantara mereka berdua, kini terselip satu nama yakni Angga. Kebersamaan Angga dan Aisyah belum lama ini, membuat mereka lebih intim.


Mataku melihat kearah pentri, disana Nampak dua sejoli itu. Tidak lama kemudian, mataku sedikit mengerayap lagi kedaerah aula. Di panggung itu, aku melihat dua sejoli itu sedang begitu sibuknya. Yang satu mengangkut kotak snack, dan yang satu merapihkan ke meja meja yang berjerean didepan panggung. Diatas panggung terdapat mimbar dan meja dijejejerkan panjang. Mereka yang berkenaan dibidangnya, akan berada dipanggung satu persatu. Sedangkan Mega dan aku menjadi seksi acara, yang bresikeras ingin menujukan acara yang sukses. Bagian tugas kami adalah ujung tombak keberhasilan acara ini, karena bagian ini menjadi pokus paling utama yang teragendakan. Runtutan acaranya harus rapih, pembawa acaranya harus keren, dan pengisi acara yang diisi dari perwakilan anak anak juga harus nampak hebat.


“Mel, mikeup mana?” Mega berkata dari kejauhan dengan melambaikan tanganya, agar aku menghampirinya.


“Di tas, cari aja!” jawabku dengan menjelaskan bentuk mikeup yang dimasukan dalam wadah.


Meskipun jauh, tapi suaranya nyaring tanpa berteriak, sedangkan aku masih sangat disibukkan dengan pemandanganku kearah panggung. Disana ada MC dan Mereka berdua yang berlalu lalang kesana kemari.


“Kenapa perhatianku masih tertuju pada mereka? Tolong hilangkan, Tuhan! Aku yakin ini bukan rasa cemburu!” bisik hatiku yang mengalihkan sedikit perhatianku dari sela sela kesibukanku digedung itu.


Sebelum waktu ini, ada beberapa waktu lainnya. Yang pernah menujukan kepadaku mengenai kedekatan mereka berdua. Entah memang saling suka? Atau Angga yang sengaja melakukan ini untuk menarik perhatiannya padaku.


“Waduh, pantas saja dari tadi disini!Lagi mau merangsang rasa cemburu keluar?”ucap Mega yang kesal karena dari tadi sibuk dengan anak anak yang wajahnya harus dirias.


“Jangan sedih, aku langi mengetes. MC untuk runtutan acaranya!” ucapku dengan sedikit mencari pembelaan.


“Jangan alasan, MC itu adalah Suhu. Udah dech, kamu bantuin aku. Yakinlah jodoh gak kemana. Ha hahaha…!”ungkap Mega yang masih mengejek ku dengan alasan yang aku cari cari tadi. Menyeret tanganku untuk masuk keruangan kelas 4, yang penuh dengan anak artis. Mereka dicetak untuk menjadi artis dalam waktu sehari, dengan latihan 3minggu.untuk mengisi acra temu pisah itu.


“Tuh ada 15 anak lagi yang belum di rias, bantuin!” ungkapan Mega yang memaksaku menggarukan tangan ke rambutku karena tidak gatal.

__ADS_1


MC itu memang suhu, dia staf pengajar seni yang sekaligus bekerja freelan di radio swasta ternama daerah Cikarang sealatan. Membuka atau menutup acara sudah jagonya, kalau saja alasan yang aku buat memang mengada ngada. Kalau soal anak artis, anaknya jadi artis sehari untuk menghiasi panggung di aula. Mereka dipoles dengan warna merah, pink, biru, orange dan hitam. Untuk anak yang menampilkan seni peran. Anak anak luar biasa semangat, ada sorakan pengantar untuk sekedar pemanasan.


Sialnya, meskipun tanganku sedang menyisir rambut anak kelas 3. Namun mataku masih terarah ke pasangan yang sangat akrab itu. “Tuhan, kenapa tidak nyaman aku dibuatnya! Arrhhhhh, biarkan saja!”


“Sudah beres, bu?” tanya anak itu dengan riangnya.


“Udah, top dech!” ungkapku pada anak itu yang penasaran dengan hasil ikatan rambut yang masih tak karuan.


Apakah ini sebuah kewajaran, kalau hatinya Melia Nampak berdetup keras. Melihat kedekatan mereka berdua yang tergambar jelas disetiap penjuru rangan sekolah.


“Ough…pantas saja aisyah pernah bertanya tanya soal Angga, mungkin karena ada rasa yang berlebih darinya.”Gumanku dalam hati.


Si pihak perempuan memang lebih agresif, dibandingkan dengan pihak laki laki yang hanya menerima lemparan bola dari sana.


Mataku yang tercengak cengok, dan melotot kearah pasangan itu. Membuat Mega berbisik,”Kayaknya bakal jadi keluarga besar Yayasan, nich! Hadeuhh, dia bakal lebih lama lagi muncul di depan muka kita!”


“Hust…..jangan kepo urusan orang lah!”


“Aku kepo, kamu tuh yang dari tadi matanya gak berkedip. Gak jauh kaya detektif swasta yang lagi menelisik kehidupan seseorang. Awas lho, gak fokus sama pekerjaanya!”ungkapnya dengan wajah yang didekatkan dengan wajahku yang dihiasi telunjuk yang menuju kearahku.


++++

__ADS_1


Acara berlangsung dengan hidmat, step demi step berlalu teramat sangat cepat. Dan kini adalah waktu penjamuan makan untuk para tamu, dengan acara yang disuguhkan dari persembahan anak anak. Ada yang menyanyi group, solo, menari tarian daerah juga tarian dari barat. Belum lagi kepala sekolah terdahulu yang memberikan pesembahan sebagai perpisahaan. Beliau termasuk orang yang menekuni bidang seni yang bukan ecek ecek. Suara tipe bass yang merdu dengan perawakan gagah, laki laki paruh baya ini masih sangat pantas untuk ikut Idol.


Suara tepukan tangan riuh terdengar, beberapa tenaga pendidik yang pernah bekerja denganya sedikit mengelap air yang tertetes di pinggiran matanya. Sedikit terharu, nyanyianya berubah menjadi puisi yang dibacakan. Aku yang paling tidak suka dengan suasana sendu itu, mencoba beralih ketempat lain untuk menghirup udara segar. Karena semua orang sedang di aula, aku mencoba peruntunganku ditempat yang memberiku kehangatan.


“Ya, teh manis aja!”


Pentri pilihannya, barangkali disana selain yang hangat juga aku bisa mendapatkan yang manis.


Disana jadi tempat yang penuh sesak, dengan beberapa dus yang sudah terbuka. Dus besar ukuran dus rook berceceran disana. Tepat di bagian ujung ruangan terdapat laki laki dengan batik seragaman yang sama dari sekolah, “Permisi, Mau ikut minum dulu!” aku pikir itu adalah kesopananku untuk mengajak orang diruangan itu berbincang denganku. Disaat laki laki itu menengok kebelakang, ternyata wajah yang aku lihat adalah wajahnya Angga.


“Silahkan, eh kamu mel! Kebetulan ketemu disini…!” Angga berkata sembari berdiri dari posisi jongkoknya.


“Hemmm….ough kenapa?” Senyum sinis yang terpaksa, menujukkan ketidak nyamananku terhadap kondisi ini.


“Ambilah ini….!” Angga menghampiriku dengan amplop yang dia berikan.


“Apa ini?”tanyaku sambil memijit mijitkan jariku terhadap isi amplop yang Angga berikan.


“Ini gajih pertamaku, aku pernah berjanji. Jika ada orang yang memberiku pekerjaan, aku akan membagi gajihku denganya. Itu adalah separuh gajihku. Kamu jangan berfikir yang enggak enggak. Kalau itu bukan kamu, aku akan tetap melakukan hal yang sama. Terimalah!”


Meski aku tak mau menerimanya, tapi apa boleh buat. Aku tidak mau berkata kata banyak denganya, soal seperti apa teknis seperti apa uang ini nantinya. Masih bisa dipikirkan diwaktu berikutnya.

__ADS_1


“Memangnya, uang mu sudah banyak yach. Gajih kamu khan, masih setenganya dari aku. Kenapa harus berfoya foya seperti ini.”ungkapku untuk menciutkan hatinya, karena sebenarnya keluarganya di Yogya akan sangat memerlukanya.


“Aku bilang ini soal janji!” Angga kembali mengungkapkan kata yang sudah dia jelaskan sebelumnya, sembari pergi berlalu meninggalkanku sendiri diruangan.


__ADS_2